by

Menghadapi Revolusi Industri 4.0, Mahasiswa Harus Peduli

Oleh Jeri Pradinata

MAHASISWA merupakan makhluk yang berintelektual. Mereka memiliki kemampuan kecerdasan yang luar biasa dalam menganalisis suatu permasalahan yang akan terjadi baik kecil maupun besar. Dan mahasiswa memiliki ciri khas tersendiri giat dalam suatu hal, optimistis dan tak setengah-setengah dalam berjuang, memiliki prinsip yang kokoh, gaya pemikiran yang melampaui zaman, memiliki kedewasaan yang begitu matang dan sikap ketaatan begitu totalitas.

Dalam mengahadapi revolusi industri 4.0 peran mahasiswa yang paling dibutuhkan, karena mereka adalah ujung tombak perubahan yang peduli terhadap bangsanya maupun daerahnya. Salah satu pemimpin di negeri kita pun menyatakan “Sekelompok orang tua hanya dapat bermimpi tapi seorang pemuda dapat mengubah dunia”. Untuk itu peran mahasiswa sangat lah penting di revolusi industri 4.0 ini.

Namun masih banyak mahasiswa yang mengabaikan perubahan ini di mana mereka hanya acuh tak acuh saja tentang perubahan, hanya sebagian dari mereka yang meperdulikan masalah ini. Dan saya sendiri sebagai mahasiswa teknologi hasil pertanian pernah mewawancarai salah satu teman saya yang bernama Wahyu Rahmadoni, saya memberi dia sebuah pertanyaan tentang revolusi industri 4.0 “ jika nanti kamu sudah jadi sarjana kira-kira kamu mau cari kerja apa? Sedangkan pekerjaan saat ini sudah banyak menggunakan mesin atau robot sehingga menyulitkan kita sebagai sarjana mencari kerja, bagai mana cara kamu mengatasi itu semua, apakah kamu siap menghadapi perubahan ini? tanyaku. Namun jawaban yang ia berikan sungguh miris sekali dan tidak memperlihatkan bahwa dia sebagai mahasiswa saat itu. Ia mengatakan “ah bodoh amat, yang penting aku masih bisa hidup, sedangkan aku nggak lihai dalam teknologi lebih baik aku bantu orang tua di kampung mengolah hasil pertaniannya, masalah revolusi-revolusi saat ini aku nggak peduli” katanya.

Revolusi Industri 4.0 era yang diwarnai oleh kecerdasan buatan, era super komputer, Rekayasa genetika , teknologi nano, mobil otomatis, inovasi dan perubahan yang terjadi kecepatan eksponensial yang akan mengakibatkan dampak terhadap ekonomi, industri, pemerintahan, politik, bahkan membuka perdebatan atas definisi manusia itu sendiri. Era yang menegaskan dunia sebagai kampung global. Untuk itu mahasiswa harus siap dan harus memiliki strategi mengahadapi perubahan ini, bukan hanya diam melihat apa yang terjadi.

Seperti yang dikutip oleh liputan6.com, Bandung mahasiswa yang tengah menuntut ilmu harus bersiap menghadapi tantangan besar yang terjadi era industri 4.0 yang terjadi saat ini. Perubahan pola baru ini membawa dampak terciptanya jabatan dan keterampilan kerja baru dan hilangnya beberapa jembatan lama.

Tantangan ini harus dihadapi sesuai pola kerja baru yang tercipta dalam revolusi 4.0 satu faktor terpenting adalah keterampilan dan kompetensi yang harus tetap secara konsisten ditingkatkan,” kata direktur jenderal pembinaan penempatan tenaga kerja dan perluasan kesempatan kerja (Dirjen Bina penta dan PKk) Maruli Hasoloan mewakili Mentri ketenaga kerjaan (menaker) Hanif Dhakiri saat membuka IKA UNPAD Job Expo pada Senin (12/2)

Menteri riset teknologi, dan pendidikan tinggi Mohammad Natsir industri 4.0 membutuhkan mahasiswa adaptif, terutama terhadap kemungkinan mesin menggantikan pekerjaan lulusan perguruan tinggi, terutama lulusan politeknik.

Oleh sebab itu mahasiswa harus dididik dengan pengetahuan yang belum bisa dilakukan oleh mesin atau kecerdasan buatan, sehingga kita tidak tergantikan oleh mesin buatan. Namun sedikit mustahil untuk melakukan itu semua, karena mesin bisa mengingat lebih baik dari pada kita, menghitung lebih cepat dari pada kita, mesin tak pernah marah, dan selalu melakukan pekerjaan lebih baik dari pada kita. Jadi kalau kita ingin bersaing dengan mesin sedikit sekali peluang kita untuk menang.

Jadi bagaimana kita sebagai mahasiswa bisa bersaing dengan mesin? Saya pikir kita harus belajar tentang budaya, nilai, inilah hal-hal di mana mahasiswa saat ini bisa menang melawan mesin. Dan di dunia pendidikan ada dua hal yang harus ada di kampus yaitu imajinasi dan kreativitas. Dan juga pendidikan di era ini harus memberikan penekanan pada penguasaan cara belajar dari pada sekedar banyak tahu, karena banyak tahu bukan lagi keistimewaan saat ini.

Dan juga perlu memperbesar ruang kreativitas dan kegiatan ekstrakurikuler di kampus. Maka revolusi industri 4.0 akan menjadi berkah dan tidak terjadi musibah bagi mahasiswa.

Kenapa dua hal yang saya sebutkan di atas itu harus ada? Karena dua hal itu merupakan elemen yang harus di miliki setiap manusia bukan hanya mahasiswa saja. Kedua elemen itu memungkinkan kita untuk dapat mengungkapkan pikiran, perasaan dan juga aspirasi serta membantu kita untuk mengikuti perkembangan zaman.

Kreativitas dan imajinasi dapat juga mendukung ilmu pengetahuan dan pengembangan teknologi dan dapat mendorong kemajuan perekonomian melalui kewirausahaan, dan memungkinkan kita mahasiswa untuk berkontribusi secara penuh.

Untuk itu setiap universitas yang ada di Indonesia harus memikirkan strategi baru dalam mengelola kampus dan harus mempersiapkan diri untuk menjadi produsen penghasil sarjana yang siap berkembang. Agar mahasiswa setelah lulus nanti tidak hanya berjuang mendapatkan pekerjaan namun cenderung berusaha menciptakan dan tentu dengan demikian lapangan kerja, baik untuk dirinya maupun juga untuk orang lain. (***)

Penulis adalah Mahasiswa Teknologi Hasil Pertanian Universitas Jambi

News Feed