by

Jejak Karst di PT Semen Baturaja

Ancaman Kepunahan Daerah Tangkapan Air

PT Semen Baturaja (Persero) Tbk (SMBR) berhasil mengantongi izin pembangunan pabrik semen dari Cek Endra, Bupati Salorangun, Jambi. Proyek dengan nilai investasi Rp 5 Triliun itu dikhawatirkan merusak lingkungan, kawasan hutan, dan daerah tangkapan air alias Karst.

———————–

TERBITNYA izin itu, PT Semen Baturaja menyatakan siap mempercepat pembangunan kontruksi pabrik baru senilai Rp 5 triliun tersebut.

Dirut Semen Baturaja Jobi Triananda Hasjim telah menyerahkan surat izin tersebut ke Bupati Sarolangun H Cek Hendra di Sarolangun, Jambi, Selasa (25/2) lalu.

“Terbitnya surat izin ini merupakan kabar baik bagi kami, sehingga kami dapat mempercepat rencana pembangunan pabrik di Sarolangun,” kata Jobi.

Menurutnya, percepatan izin ini diharapkan akan meningkatkan iklim investasi di Tanah Air.

Setelah fokus pada upaya pembebasan lahan seluas 600 hektare pada 2018, perseroan menyatakan akan fokus membangun pabrik barunya tahun ini. sehingga konstruksi pabrik ditargetkan rampung pada 2022.

Dalam catatan Walhi, PT Semen Baturaja (persero) memegang izin tambang di hutan lindung. Selain itu, publik khawatir aktivitas Pabrik Semen akan merusak kawasan geologi unik, Karts. Padahal, kawasan karst pun memiliki potensi, manfaat dan peran penting bagi ekosistem dan manusia.

Potensi itu antara lain sebagai daerah tangkapan dan penampung air, habitat berbagai satwa khas dan unik dengan berbagai perannya bagi ekosistem dan manusia, serta sebagai lokasi wisata alam, budaya, dan ilmiah.

Kawasan karst sebagai habitat berbagai satwa secara langsung ataupun tidak langsung mempunyai peran penting bagi manusia. Burung walet yang banyak bersarang di kawasan karst dapat dimanfaatkan sarangnya. Kelelawar yang hidup di gua-gua karst sangat berperan bagi pengendalian hama pertanian maupun penyerbukan berbagai jenis tanaman.

Sayangnya, kawasan karst Sarolangun terancam hilang. Ancaman kelestarian kawasan karst, terutama diakibatkan oleh penambangan penambangan Semen itu. Padahal, meskipun penambangan tersebut memberikan kontribusi ekonomi namun tidak lama dan segera berakhir seiring habisnya karst ditambang.

Ancaman lainnya, seperti limbah akan mengancam masyarakat hulu sungai Batanghari.

Pembukaan areal tambang mencakup lima desa: Napal Melintang, Mersip, Merbung, Berkun dan Renah Alai.

Pengamat Kebijakan Publik, Dr Dedek Kusnadi menilai pembangunan industri semen sebaiknya menghitung dampak negatif yang terjadi. Terutama menyangkut pelestarian karts tersebut. Seharusnya, kata dia, sebelum izin diterbitkan, publik turut dilibatkan dalam pembahasan. Publik harus dilibatkan dalam proses pengkajian.

“Jangan sampai kesannya diam-diam. Harus terbuka dan pemerintah sebaiknya hati-hati menerbitkan izin,”tegas akademisi asal Sarolangun itu.

Ia berharap investasi triliunan itu juga melengkapi dokumen, misalnya menyangkut AMDAL.

Pembangunan pabrik Semen Baturaja di Salorangun di satu sisi diharapkan dapat  berdampak langsung terhadap pendapatan asli daerah (PAD) melalui sektor pajak dan retribusi. Selain itu, kegiatan produksi semen di kabupaten ini akan menciptakan lapangan kerja baru.

Bupati Salorangun H Cek Hendra mengharapkan rencana investasi tersebut segera terealisasi.

Pemkab menyatakan bukan hanya siap membantu dalam pengurusan izin, tapi juga sarana prasarana penunjang seperti jalan dan infrastruktur.

Dia mengatakan akan membangun dua jembatan menuju ke lokasi pabrik, sementara untuk listrik akan mempercepat pembangunan PLTU 2×300 MW di Pauh dan Mou PLTG di Kecamatan Limun.

“Semua izinnya sudah diurus. Semoga rencana ini secepatnya bisa terealisasi karena banyak manfaat yang bisa dirasakan dengan kehadiran pabrik ini di Sarolangun,” kata dia.

Tahun 2019 ini Pemerintah Kabupaten Sarolangun melalui Dinas PUPR akan membangun tiga jembatan pada akses menuju lokasi pabrik semen Baturaja Sarolangun 1.

Kadis PUPR, Ibnu Ziyadi, mengatakan bahw pembangunan untuk tiga jembatan tersebut dianggarkan sekitar Rp 38,5 miliar, pada APBD Kabupaten Sarolangun tahun 2019. Dua dari tiga titik jembatan tersebut, katanya memang berada di kawasan Hutan Produksi (HP) dan saat ini pihaknya sudah mendapatkan izin lokasi.

“Anggarannya dari ketiga jembatan itu kurang lebih sekitar Rp 38,5 miliar, karena beda-deda nilai tergantung bentang jembatannya. Ada tiga yakni di Sungai Paku, Sungai Kepayang dan sungai satu lagi yang ada di Desa Suka Damai,” katanya.

Saat ini, kata dia, pihaknya sedang melakukan tahapan final perencanaan pembangunan tiga jembatan tersebut, dan akan berkoordinasi tim Pokja ULP Sarolangun, agar pembanguan proyek tersebut secepatnya dilakukan pelelangan.

“Masih proses memfinalkan perencanaan, dan kita akan koordinasi dengan Pokja ULP, dalam bulan Maret akan kita lelang,” katanya.

Selain tiga jembatan itu, katanya dalam waktu dekat ini, Cek Endra akan berkoordinasi dengan Kementrian PU, dalam mengajukan pembangunan jalan sepanjang 37 kilometer dari simpang Singkut V ke lokasi pabrik semen, yang membutuhkan anggaran lebih kurang Rp 600 miliar.

Sebab, dengan anggaran Rp 600 miliar tersebut tentu Pemkab Sarolangun tidak akan bisa mengalokasi pada APBD Kabupaten Sarolangun, karena keterbatasan anggaran.

” Do’akan semoga bisa terwujud,” kata Kadis yang berstatus tersangka itu.

Publik berharap, investasi yang besar itu tidak mengenyampingkan pelestarian lingkungan. Jangan sampai motivasi memburu laba justru mendatangkan malapetaka bagi anak cucu di masa depan. (*)

News Feed