by

Netiquette dalam Kehidupan Politik

Oleh Muhammad Firdaus

PENGGUNAAN internet pada tahun politik ini tidak terlepas dari diskiriminasi, mis-etika, serta munculnya polarisasi-polarisasi di dunia maya. Tentu hal tersebut akan memperkeruh damainya pemilu saat ini.

Pada abad ini kita diperkenalkan dengan teknologi super praktis yang menghantarkan kita pada revolusi industry 4.0, yang menuntut kita untuk menjalani segala aspek kehidupan kita menggunakan intenet (internet of thing). Termasuk dalam aspek kehidupan politik dan elektoral. Intenet dan media sosial menjadi alat menguntungkan untuk mendongkrak popularitas dan elektabilitas bagi calon-calon pejabat politik.

Masyarakat Indonesia bisa dibilang memiliki etika yang kurang baik dalam menggunakan internet dan media sosial, hal itu dibuktikan banyak sekali ejekan, cemoohan, kata kasar, dan satire yang menyudutkan seseorang. Tidak heran kita sering menemukan kata-kata yang tidak pantas seperti “kampret”, “tolol”, “goblok”, “Jancuk”, dan sebagainya di dunia maya.

Sebuah hasil survey yang dilakukan ICT Watch mengejutkan bahwa penggunaan internet di Indonesia kurang beretika terutama dalam menyampaikan pendapatnya di dunia maya. Terdapat 52% responden dianggap tidak beretika di social networking, 12% dianggap tidak beretika di chatroom, dan 35% dianggap tidak beretika di forum.

Persis apa yang telah dikatakan oleh Joseph Grenry salah satu direktur firma pelatihan korporat VitalSmarts bahwa “Dunia telah berubah dan kesopanan tidak berbanding lurus dengan teknologi saat ini”. kesopanan dan etika tentu hal yang sangat urgent dalam menggunakan internet dan media sosial, hal itu akan membuat dunia maya semakin damai dan teratur, terutama pada pilpres saat ini.

Proses penggunaan internet dalam demokrasi khususnya dalam pemilu, sudah dijelaskan dalam sebuah konsep konkret yang disebut sebagai cyberdemocracy. Secara mudah konsep ini menjelaskan bahwa proses atau praktek demokrasi dijalankan dengan bantuan internet. Diana Saco menjelaskan bahwa kehadiran intenet akan mempermudah kehidupan demokrasi, dan memberikan peluang untuk memunculkan budaya partisipastoris. Lebih rinci lagi Lincoln Dhalberg menjelaskan bahwa kehadiran internet akan memudahkan kita untuk merealisasikan kepentingan, menyampaikan kritikan dan pendapat.

Akan tetapi, konsep cyberdemocracy tidak menjelaskan secara beriringan dengan masalah etika atau kesopanan. Menurut saya, etika dan kesopanan dalam praktek cyberdemocracy merupakan kunci membentuk damainya kehidupan maya khususnya pada tahun politik saat ini.

Munculnya Warganet Toxic

Tentu dengan munculnya internet tidak menutup kemungkinan akan terjadinya pertengkaran virtual, meluapkan kemarahan, dan memberikan kata-kata kotor di dunia maya. Seperti hasil survey yang dilakukan oleh Joseph Grenny menjelaskan bahwa seiring melonjaknya penggunaan internet dan media sosial perilaku kasar pun meningkat, dengan 78% dari 2.698 orang yang melaporkan, peningkaan sikap kasar di intenet membuat orang-orang tidak ragu lagi untuk bersikap tidak sopan didunia maya dibandingkan didunia nyata.

Hal tersebut tentu akan menjadi toxic atau racun bagi kita semua, apalagi kita tidak dibekali dengan karakter yang beretika, internet akan menjadi media yang subur untuk munculnya sikap-sikap yang anti-kesopanan.

Menurut saya, munculnya warganet toxic seperti ini dikarenakan adanya isu-isu yang tidak sesuai dengan pemahaman dipikirannya, sehingga dia memberontak dan melampiaskan di media sosial dengan postingan atau komentarnya yang provokatif dan penuh dengan kata-kata yang negatif.

Menyuburkan Netiquette dalam Praktek Cyberdemocracy

Masyarakat Indonesia masih ada yang belum paham apa yang dimaksud dengan netiquette. Netiquette atau yang dapat kita artikan sebagai etika dalam menggunakan internet, merupakan kunci dalam damainya dunia maya. Sedikitnya terdapat lima prinsip yang harus di pahami dalam netiquette.

Pertama, Jejak digital (selalu memperhatikan aktifitas digital kita). Kedua, jangan sebarkan kebencian (selalu mempertimbangkan aktifitas digital kita, jangan sampai ada yang tersinggung atau tersakiti). Ketiga, Jangan berkata kasar (selalu selektif menggunakan kata-kata di dunia maya, jangan gunakan kata-kata kasar atau kata-kata yang akan mengganggu kenyamanan pengguna lain). Keempat, reaksi (selalu memperhatikan reaksi yang akan muncul akibat postingan atau komentar kita di dunia maya). Kelima, waktu (bijaklah dalam menggunakan media sosial, perhatikan waktu-wakktu untuk beraktifitas digital).

Lalu, apakah Netiquette dapat di terapkan dalam praktek cyberdemocracy? menurut saya netiquette merupakan etika umum dalam penggunaan internet dan media sosial, dan itu dapat diterapkan dalam kehidupan cyberdemochracy. Akan tetapi, kehidupan politik di dunia maya terkadang tidak mengindahkan netiquette ini, sehingga kedamaian politik di dunia maya sulit untuk dicapai.

Sampai kapan kita akan bertahan dengan keadaan cyberdemocracy yang kurang etika ini? mari kita minimalisir dan hentikan sejak dalam diri kita sendiri. Mulailah memposting hal-hal yang positif, mulailah memberikan komentar-komentar yang sopan, mulailah untuk tidak memberikan kata-kata kasar di dunia maya, dan mulailah untuk tidak merespon hal-hal yang berbau provokatif dan negatif.

Hampir sebagian kehidupan kita bergeser dari kehidupan nyata kedunia maya, terutama dalam kehidupan politik yang terefleksi dalam konsep cyberdemocracy. Maka dari itu, mari kita terapkan netiquette dengan baik, sehingga kita dapat mencapai damainya kehidupan politik di dunia nyata dan dunia maya. (***)

Penulis adalah Alumni Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Andalas

News Feed