by

Yang Buntung Yang Beruntung

Lolos Bidikan KPK Karena Maju Pilkada

Sederet eks Dewan, Edi Purwanto, Masnah Busro, Bambang Bayu Suseno, Syahirsah dan Sofia Fattah lolos dari bidikan KPK. Lepas dari jerat suap APBD 2017-2018. Mereka beruntung keburu purna dari DPRD karena mengadu nasib di Pilkada.

————–

Edi Purwanto, Ketua DPD PDIP Provinsi Jambi itu pastilah bersyukur. Andai saja masih duduk di DPRD, Edi -begitu dia disapa-, tak membayangkan seperti apa nasibnya kini.

Mantan Presiden BEM UIN STS itu satu diantara anggota DPRD yang lolos jerat suap ketuk palu APBD. “Barangkali ini skenario Tuhan,” ujar Edi belum lama ini.

Dulu, Edi punya jabatan prestesius di Dewan. Diusia yang terbilang masih muda, Edi sudah memangku jabatan penting, sebagai wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi. Suatu jabatan yang kerap diincar kalangan Dewan.

Setahun menjabat, Edi undur diri. Dia meletakkan jabatan dan pensiun dini. Edi punya alasan kuat, gara-gara maju di Pilgub 2015. Saat itu, Edi maju mendampingi HBA. HBA-Edi bertempur melawan pasangan Zumi Zola-Fachrori Umar di Pilgub.

Koleganya sesama PDIP, Chumaidi Zaidi melansir sebagai wakil ketua DPRD, menggantikannya. Sementara, posisinya di dewan digantikan oleh Mely Hairiya.

Dua tahun berselang, apes mendera kalangan dewan. KPK melakukan operasi tangkap tangan terhadap ketua Fraksi PAN, Supriyono. Dalam perkembangannya, kasus merembet kemana-mana. Gubernur Zola pun ikut terseret.

Terbaru, seluruh pimpinan beserta 8 dewan lainnya malah ditetapkan tersangka. Termasuk pula Chumaidi Zaidi, koleganya itu. Sebagai wakil ketua, Chumaidi disangkakan turut ikut mengatur suap ketuk palu.

Edi beruntung karena sudah pensiun jauh sebelum praktik suap terjadi. Edi memang gagal memenangkan kontestasi. Tapi dia patut bersyukur karena gagal berurusan dengan KPK.

“Kalaulah Edi masih duduk sebagai anggota DPRD. Boleh jadi, dia juga akan terseret-seret,” kata Dr Dedek Kusnadi, pengamat kebijakan Publik dari UIN STS Jambi.

Nasib serupa dialami Masnah Busro, Bambang Bayu Suseno, Syahirsah dan Sofia Fattah. Mereka beruntung tak ikut kasak-kusuk suap ketuk palu, lantaran sudah terlebih dulu mundur dari dewan.

Entah kebetulan, Masnah Busro dan Bambang Bayu Suseno mundur bareng. Begitu mundur, keduanya malah berpasangan di Pilkada Muaro Jambi. Masnah sebagai Bupati, sementara Bambang Bayu Wakil Bupati.

Syahirsah dan Sofia Fattah pun begitu. Keduanya kompak mundur. Kompak maju di Pilkada Batanghari. Kompak pula berpasangan. Menang lagi. Dari dakwaan KPK terhadap Zumi Zola, nama-nama mereka memang tidak muncul sebagai penerima suap ketuk palu.

Majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta yang dipimpin Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus) Yanto saat menyidangkan perkara Zumi Zola menjelaskan, bahwa selaku Gubernur Jambi periode 2016-2021, Zola terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan dua delik tipikor.

Pertama, menerima gratifikasi dari para kontraktor sepanjang Februari 2016 hingga November 2017 sebesar Rp37,477 miliar, USD173.300 (setara saat itu Rp2.521.994.000), SGD100.000 (setara Rp1.061.995.000), dan satu mobil Alphard nomor polisi D 1043 VBM.

Kedua, ‎Zola terbukti memberikan suap uang ketok palu dengan total Rp16,34 miliar ke lebih 53 anggota dan pimpinan DPRD Provinsi Jambi yang terbagi dua bagian.

Pertama, Zola memberikan Rp12,94 milar untuk persetujuan APBD Tahun Anggaran 2017. Kedua, Zola bersama Erwan Malik (divonis 4 tahun) selaku plt Sekretaris Daerah Pemprov Jambi, Arfan (divonis 3 tahun 6 bulan), dan Saifudin (divonis 3 tahun 6 bulan) selaku Asisten Daerah III Pemprov Jambi memberikan suap lebih Rp3,4 miliar untuk persetujuan APBD Tahun Anggaran 2018. Semua uang suap yang diberikan Zola sebagian berasal hasil penerimaan gratifikasi.

Menurut jaksa KPK, sejumlah pimpinan dan anggota DPRD Provinsi Jambi periode 2014 – 2019 yang menerima suap yakni, Cornelis Buston, Zoerman Manap, AR Syahbandar, Chumaidi Zaidi dan Nasri Umar.

Kemudian, Zainal Abidin, Hasani Hamid, Nurhayati, Effendi Hatta, dan Rahimah. Selain itu, Suliyanti, Sufardi Nurzain, M Juber dan Popriyanto. Lalu, Tartinah, Ismet Kahar, Gusrizal, Mayloeddin dan Zainul Arfan, dan Elhelwi.

Selain itu, Misran, Hilalati Badri, Luhut Silaban dan Melihairiya. Selain itu, Budiyako, M Khairil, Bustami Yahta, Yanti Maria Susanti dan Muhammadiyah. Kemudian, Sofyan Ali, Tadjudin Hasan, Fahrurozi dan Muntalia.

Kemudian Sainuddin, Eka Marlina, Hasim Ayub, Agusrama dan Wiwit Iswara. Kemudian, Supriyono, Syopian, Mauli, Parlagutan Nasution, Hasan Ibrahim, Rudi Wijaya dan Arrahmat Eka Putra.

Selanjutnya Supriyanto, Nasrullah Hamka, Cekman, Jamaluddin, Muhammad Isroni, Edmon A Salam dan Kusnidar. Kini Edi Purwanto kembali berjuang menuju Gedung DPRD. Dia memilih maju dari dapil Kota Jambi. Dr Dedek Kusnadi mengatakan sebaiknya para calon legislative belajar dari kasus OTT tersebut.

“Jagalah marwah daerah. Jangan sampai kasus terulang. Dewan sebaiknya berbenah. Sudahilah praktik suap itu,” katanya. (*)

News Feed