by

Interpol Bidik Pengusaha Jambi

Terlibat Sindikat Mafia Antar Negara

Polisi Internasional alias Interpol mengendus seorang pengusaha Jambi terlibat sindikat penyelundup hewan langka lintas negara. Mengerikan, pasar gelap satwa langka melibatkan jaringan mafia internasional.

——————–

GERAK-gerik E, warga Jambi yang sudah lama diintai Interpol. Interpol mengendus E sebagai aktor penting dalam jaringan mafia perdagangan gelap satwa langka. Perannya cukup vital. sebagai pemasok satwa langka lintas negara.

Terbongkarnya keterlibatan E bermula dari kerjasama antara pemerintah Indonesia dengan Interpol. Kerjasama digagas Direktorat Jenderal Penegakkan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Ditjen Gakkum LHK).

Lewat bantuan Interpol, perdagangan gelap 13 ekor Kakaktua hidup, 11 opsetan burung Cenderawasih dan 1 ekor Monyet Emas di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Provinsi Jambi berhasil digagalkan. Hewan langka itu hendak dijual ke Malaysia.

“Kami telah mengembangkan kerja sama dengan Interpol untuk berkoordinasi dan bekerja sama dengan Otoritas Malaysia terkait kasus-kasus penyelundupan satwa liar,” jelas Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan, Sustyo Iriyono dalam keterangannya, Kamis (21/2/2019).

Ia menjelaskan, awalnya Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Jambi melakukan operasi bersama Balai Besar KSDA Riau KLHK dan Kepolisian Resort Tanjung Jabung Timur.

Akan ada perdagangan satwa langka dari E di Batam. Satwa langka kerap didagang E ke jaringan di Batam dan Malaysia. Masuk informasi dari Interpol, bahwa E merupakan bagian dari jaringan mafia internasional. Atas dasar tersebut, dilakukan operasi penangkapan di wilayah Batam.

Operasi diawali tertangkapnya pelaku inisial B. Saat itu, B akan menjemput satwa dari E. Keduanya mengadakan kontak dan janji bertemu di Pelabuhan Rakyat Pungur. Sementara B mengaku diperintah bosnya, inisial T.

Selain itu, aparat juga mengendus E kerap menjual satwa ke W, warga Batam lainnya. Polisi menemukan 30 ekor burung hidup di kediaman W. Antara lain 4 ekor burung Kakaktua Jambu Kuning, 6 ekor Kakatua Jambul Jingga, 5 ekor Kakatua Jambul Putih, 4 ekor Bayan, 10 ekor Burung Nuri Papua dan 1 ekor Kakaktua Raja.

Tim langsung mengamankan pemilik burung W ke Mapolsek Batu Ampat. Terhadap 30 ekor Burung disita dan dibawa ke Kantor Seksi Wilayah Batam Balai Besar KSDA Riau.

Sustyo menjelaskan, keberhasilan membongkar mafia ini merupakan hasil dari operasi intelijen. Menurutnya, operasi pengamanan peredaran ilegal satwa dilindungi terus digalakkan. Tujuannya untuk mengungkap jaringan Jambi ini. Mulai dari daerah asal satwa sampai ke tempat tujuan perdagangan.

Sustyo menegaskan, hasil investigasi perdagangan melibatkan pelaku pengusaha Jambi. Satwa dijual ke Malaysia. Mereka yang terlibat merupakan jaringan kakap internasional.

Direktur Jenderal Penegakan Hukum LHK, Rasio Ridho Sani, menegaskan operasi tersebut merupakan komitmen Kementerian LHK dalam aksi penyelamatan SDA termasuk Sumber Daya Hayati.

Rasio Ridho Sani mengatakan kejahatan perdagangan ilegal satwa langka merupakan kejahatan luar biasa. Karena selain merugikan negara dari kehilangan potensi Sumber Daya Hayati, kejahatan tersebut melibatkan jaringan internasional.

“Kejahatan ini sangat luar biasa, seperti kejahatan Narkoba dengan sel-sel jaringan yang terputus-putus, untuk itu kami terus menguatkan intelijen serta kerjasama dengan para pihak baik di level nasional maupun internasional untuk mengungkap kejahatan ini,” katanya.

Lalu, siapa sebenarya E?

Siapa aktor dibelakangnya?

Siapa pemodalnya?

Darimana satwa langka ini diperoleh?

Dimana tempat penampungannya?

Apakah E pemain tunggal?

Kepala Balai Gakkum LHK Wilayah Sumatera, Eduard Hutapea, menegaskan jaringan mafia internasional ini merupakan pengembangan dari kasus Jambi. Menurutnya, proses penanganannya akan dilanjutkan Polres Tanjung Jabung Timur. Publik berharap Polisi berhasil membongkar jaringan E sampai keakarnya. (*)

News Feed