by

Celoteh Metih Satirah: Kritik Sosial Zaman Milenial

Oleh Bahren Nurdin

BEBERAPA minggu terakhir masyarakat Kabupaten Tebo (Jambi), khususnya Kecamatan VII Koto Ilir banyak memperbincangkan kemunculan ‘tokoh’ yang bernama Metih Satirah. Saya tidak tahu persis detail kehidupan pribadinya. Tapi yang jelas, dia adalah seorang ibu-ibu yang tinggal di desa, bergelut dengan segala macam persoalan kehidupan masyarakat desanya saat ini. Semua dikomentari dengan caranya sendiri.

Berbagai problema kehidupan masyarakat desa itu ia sampaikan melalui media sosial Facebook (Metih Satirah), youtube (KING Rudi) dan Instagram (@metih.satirah). Mak-mak melinial, begitulah kira-kira. Memanfaatkan video berdurasi pendek, ia menyampaikan pesan-pesan kehidupan itu dengan lugas dan ‘nyinyir’ khas ibuk-ibuk kampung.

Metih Satirah bukan pula nama asli tapi tokoh (pemeran) imajinier (fiktif) yang sengaja ‘dilahirkan’ dari ‘rahim’ salah seorang anak muda desa yang bertalenta bernama Rudi Hamid, SE., MM. Dia adalah seorang Technical Quality Control di salah satu perusahaan swasta di Kec. VII Koto Ilir. Tentu, keseharian creatornya tidak sama dengan tokoh yang diperankan. Kepiawaian dalam memerankan tokoh adalah sebuah kehebatan. Mantap.

Video-video yang ditayangkan cukup menyita perhatian masyarakat karena memunculkan berbagai keunikan. Beberapa keunikan yang dimunculkan diantaranya menggunakan bahasa asli kampungnya (Desa Balairajo), kostum (tengkuluk mak-mak), mimik (gestur yang nyinyir), dan penjiwaan yang ‘kuat’. Tokoh Metih Satirah menjadi ‘hidup’ dan berkarakter.

Melalui keunikan ini pula sebenarnya lahir pesan-pesan yang terkadang menjadi kritik sosial di zaman milenial ini. Melalui artikel singkat ini saya sampaikan beberapa catatan. Pertama, penggunaan bahasa daerah. Penggunaan bahasa daerah yang ‘medok’ menjadi catatan penting. Banyak anak-anak dusun yang saat sudah tidak lagi benar-benar bisa berbahasa ibu mereka sendiri. Di era milenial ini pula bahasa dusun dianggap ‘kuno’ alias tidak keren. Mereka tidak lagi bangga dengan jati diri mereka sendiri.

Baik kita lihat catatan kompas sepuluh tahun lalu. “Perkembangan bahasa daerah dewasa ini mencemaskan. Dari 742 bahasa daerah di Indonesia, hanya 13 bahasa yang penuturnya di atas satu juta orang. Artinya, terdapat 729 bahasa daerah lainnya yang berpenutur di bawah satu juga orang. Di antara 729 bahasa daerah, 169 di antaranya terancam punah, karena berpenutur kurang dari 500 orang”. (https://nasional.kompas.com:11/08/2008).

Celotehan Metih Satirah menggunakan bahasa dusunnya menjadi cara kekinian untuk ‘membangkitkan batang terendam’. Menghidupkan yang hampir mati. Namun tentu saja, untuk labih mendunia dan dipahami oleh orang luar diperlukan subtittle (terjemahan) baik Bahasa Indonesia maupun bahasa asing.

Kedua, kostum tengkuluk dan kemban. Pakaian yang digunakan oleh Metih dalam beberapa kesempatan adalah tengkuluk dan berkemban. Tengkuluk merupakan penutup kepala tradisional yang dikenakan oleh perempuan Jambi (Melayu pada umumnya). Saat ini tengkuluk juga menjadi trand di Provinsi Jambi. Di sinilah peran Metih Satirah memunculkan keunikan budaya tanah leluhurnya.

Begitu juga dengan kemban. Kemban itu pakaian perempuan yang menggunakan kain (kain panjang atau sarung) sebatas dada. Biasanya, di zaman dahulu, pakaian semacam ini sering digunakan perempuan ketika pergi mandi ke sungai. Namun demikian, pakaian tradisional semacam ini juga perlu dipertimbangkan untuk dilestarikan karena sesungguhnya tidak sesuai dengan ajaran Islam. Islam memerintahkan hambanya untuk menutup aurat.

Ketiga, gestur atau mimik. Dalam dunia drama atau teater, mimik atau gestur menjadi hal penting dalam menyampaikan pesan. Metih Satirah sangat baik menampilkan mimik muka khas kampungnya. Dengan mimik yang khas ini pula pesan menjadi kuat dan berkarakter tanpa kehilangan nilai-nilai entertain (humor) di dalamnya. Dalam video berjudul ‘Hormati Status Para Jomblo’ contohnya, Metih berceloteh, “sianu tu jomblo, meang. Dak laku tu apo baapo”. Selalu saja di ujung videonya menampilkan mimik yang khas, “hiszzz…”.

Akhirnya, kemunculan video singkat Metih Satirah di media sosial yang menggunakan bahasa dusun ini sekilas tampak bak lelucon nyinyir kaum milenial. Tapi sesungguhnya, ia memiliki value yang dapat dieksplor. Beginilah kaum milenial mengkritik kaumnya di zamannya. Metih Satirah tampil sebagai wujud protes sosial terhadap zaman yang semakin nanar. Teruslah berkarya, Metih!

 

*Akademisi UIN STS dan Pengamat Sosial Jambi

News Feed