by

Kebencanaan untuk Peternak

Oleh Legi Okta Putra

PENANGANAN bencana di Indonesia seringkali hanya memfokuskan pada manusia, namun mengabaikan hewan yang juga turut menjadi korban bencana, terutama hewan ternak masyarakat. Menurut I Ketut (Dirjen Peternakan Kesehatan Hewan, kementan) terdapat 9.346 ekor sapi yang di evakuasi saat bencana gempa di Lombok. Di lokasi bencana tsunami Sulawesi Tengah, sesuai data identifikasi jumlah ternak dari Kementrian Pertanian, yang ikut terseret bencana terdapat sekitar 8 juta ekor yang terdiri dari ayam buras, sapi potong, kambing, domba, dan babi.

Hewan ternak perlu mendapat perhatian khusus dalam penanganan bencana. Sebab ternak membutuhkan makanan dan minuman setiap hari. Dalam kondisi bencana, ternak akan memakan apapun, termasuk sampah yang bisa membahayakan ternak dan tak jarang banyak yang berujung kematian akibat kelaparan. Luka yang dialami ternak akibat diterjang bencana dapat menjadi penyebab kematian ternak, jika tidak ditangani secara baik. Ternak yang mati akan menjadi sumber bibit bakteri penyakit bagi manusia yang ada didekat pengungsian.

Terkadang masyarakat yang terkena bencana, sulit di evakuasi karena ternaknya tidak ikut dalam evakuasi. Mereka khawatir dengan ternaknya yang masih tertinggal di rumah atau dikandangnya. Ada naluri yang kuat untuk menyelamatkan harta yang berharga tersebut. Jangan heran jika pemilik sudah mengungsi, pagi atau sore mereka kembali kerumah melihat kondisi ternak.

Ada juga peternak yang tidak mau repot memikirkan ternaknya ketika akan bencana. Mereka memilih menjual ternak ke oknum yang memanfaatkan keadaan itu. Ternak masyarakat akan dibeli dengan harga yang sangat murah. Ketika itu, peternak terpaksa dan harus menjual ternaknya, maka kerugianlah yang didapatkan. Sehingga ternak perlu mendapat perhatian khusus dalam penanganan bencana.

Menurut Asosiasi Epidemiologi Veteriner Indonesia (AEVI), penanganan penyelamatan ternak di daerah lokasi rawan bencana tidak hanya dilakukan saat bencana, melainkan pra bencana, saat bencana dan pasca bencana. Prosedur tersebut dapat menjadi modal dasar bagi masyarakat. Sebab, mayoritas masyarakat yang tinggal diwilayah pedesaan adalah sebagai peternak.

Sebelum bencana, tidak bisa diketahui secara jelas kapan waktu yang tepat kejadian. Di lokasi rawan bencana, pada umumnya masyarakat sudah siap menghadapi bencana. Tetapi, pencerdasan mengenai pengurangan resiko bencana untuk peternak, sangat jarang ada yang memperhatikan hal tersebut. Oleh sebab itu, percerdasan mengenai prosedur dan persiapan menjelang bencana bagi penyelamatan ternak perlu dilakukan.

Pertama, memberikan pelatihan tentang mitigasi bencana khususnya bagi pemilik ternak. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan peternak, serta pengembangan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana. Peternak dapat mengetahui hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam penanganan bencana, apalagi prosedur yang tepat dalam evakuasi ternak. Bukan hanya secara teori saja, tetapi juga dilakukan simulasinya secara teratur.

Kedua, ternak membutuhkan makanan seperti manusia setiap hari. Makanya, peternak mesti mempersiapkan pakan fermentasi yang dapat disimpan dalam waktu yang lama. Pada masa darurat, peternak tidak bisa mencari makanan lagi, malah akan membahayakan nyawa peternak sendiri jika pergi mencari pakan ternak. Untuk mengurangi resiko kelaparan ternak, makanan fermentasi sudah di buat jauh-jauh hari untuk persiapan ketika terjadi bencana. Pakan fermentasi dapat dibuat didalam plastik yang nantinya memudahkan dalam mobilisasi.

Saat bencana, perlu ditekankan adalah keselamatan pemilik ternaklah yang paling utama. Namun, untuk membantu ternak yang bisa diselamat dari bencana maka perlu juga mempersiapkan dan membangun posko pelayanan kesehatan ternak di titik-titik khusus. Peternak tidak memikirkan lagi kondisi ternaknya, karena sudah ada petugas khusus yang menangani. Berbeda ketika tidak ada petugas yang menangani itu semua maka akan menambah beban. Peternak bisa jadi akan mengupayakan mencari pakan di daerah yang berbahaya. Posko pelayanan kesehatan ternak, mempertimbangkan tempat yang dekat dengan sumber makanan dan minuman jika memungkinkan.

Saat terjadi bencana di Lombok, pihak Direktorat Peternakan dan Kesehatan Hewan menurunkan satgas khusus menangani ternak. Satgas itu untuk membantu dalam evakuasi ternak yang masih selamat dan mengirimkan bantuan pakan, obat-obatan, penanganan khusus lainnya. Melalui titik itulah, semua hewan bisa di tangani dengan baik untuk menghindari kemungkinan bahaya yang di sebabkan oleh hewan-hewan terancam terhadap korban bencana.

Setelah bencana, kemungkinan besar kawasan bencana akan membutuhkan waktu yang lama dalam pemulihan daerah. Sumber makanan bagi ternak akan sulit ditemukan dan kebanyakan ternak dilepaskan mencari makanan sendiri di lingkungan tersebut. (Sumber: liputan6.com) memberitakan kondisi ternak di Palu usai bencana, sapi tersebut memakan sampah dan terlantar oleh pemiliknya.

Usai bencana di Lombook, Kementan mengirimkan bantuan 80 ton kosentrat dan 125 ton pucuk tebu untuk ternak (sember: pertanian.go.id), karena NTB merupakan kawasan yang di siapkan untuk membantu membangkitkan peternakan nasional. Berbeda dengan usai bencana di Palu, saat ini ada beberapa komunitas pecinta hewan solo (Rumah Difabel Meong) membuat gerakan setengah kilo pakan untuk palu yang berkoordinasi dengan komunitas pecinta hewan yang berada di daerah sulawesi. Mereka khawatir dengan keadaan hewan yang kurang mendapat perhatian nasional. Menyebabkan mereka ikut turun membantu makhluk hidup yang lain.

Hewan merupakan makhluk hidup seperti manusia, yang juga membutuhkan bantuan dan uluran tangan makhluk hidup lainnya. Hewan juga korban bencana yang perlu diperhatikan. “Bersikap adilah sejak dalam pikiran” Pramoedia Ananta Toer. (***)

Penulis adalah Anggota ISPI, dan Alumnus Peternakan Universitas Andalas

News Feed