by

Revolusi Industri 4.0 dan Mahasiswa

Oleh Suci Dwi Setiawati

BERDASARKAN survei penduduk antar sensus (Supas) 2015 jumlah penduduk Indonesia pada 2019 diproyeksikan mencapai 266,91 juta jiwa. Saat ini Indonesia sedang menikmati bonus demografi dengan jumlah penduduk usia produktif mencapai lebih dari 68% dari total populasi. Hal tersebut membuktikan bahwa Indonesia merupakan Negara yang kaya-raya akan Sumber Daya Manusia (SDA).

Mahasiswa adalah salah satu bagian dari sumber daya manusia dan merupakan aset penerus bangsa yang berada pada tataran elit. Dengan integritas yang dimiliki sebagai mahasiswa tentunya merupakan suatu kebanggaan. Bagaimana tidak, mahasiswa dipandang sebagai kaum terdidik dan mempunyai kemampuan yang lebih dibanding masyarakat biasa. Namun, dibalik kebanggaan yang dirasakan tersebut terdapat suatu tantangan yang harus dihadapi.

Mahasiswa sebagai kaum intelektual diharuskan memberi manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara serta sudah sepatutnya berperan aktif dan berkontribusi secara nyata untuk kemajuan negara. Dalam tonggak sejarah, mahasiswa memegang peranan penting dalam setiap peradaban dan perubahan. Saat ini dunia tak terkecuali Indonesia tengah dihadapkan pada era revolusi keempat atau sering disebut sebagai revolusi industri 4.0. Hal ini merupakan tantangan besar untuk membangun gerakan-gerakan mahasiswa  dan tentunya bukan bahasan baru lagi untuk dipertanyakan. Akan tetapi hal ini juga dapat menjadi ancaman bagi mahasiswa jika disalah gunakan.

Revolusi Industri 4.0 adalah revolusi yang pada dasarnya dipengaruhi oleh teknologi-teknologi super canggih. Pada dasarnya, era ini menempatkan teknologi sebagai pokok suatu perindustrian. Dapat diartikan pada era ini teknologi informasi dan teknologi operasional dipertemukan dan bukan tidak mungkin peran manusia sebagai SDM semakin terbatas.

Pada masa ini, mahasiswa yang merupakan salah satu sumber daya manusia berperan sangat penting. Perannya dapat berwujud keterlibatan untuk ikut serta bersaing diperadaban tersebut tanpa menghilangkan tujuan utama yaitu memajukan kesejahteraan bangsa. Mahasiswa dituntu menjadi garda terdepan dalam persaingan di era Revolusi Industri 4.0. Sebab, persaingan pada era ini tidak hanya dari dalam negeri saja melainkan sudah mencakup global (mendunia).

Ada banyak tindakan yang dapat dilakukan mahasiswa untuk ikut berperan dalam era ini, dan tindakan tersebut haruslah sesuai dengan yang diharapkan dan tidak keluar dari aturan-aturan dan nilai yang sudah ada. Mengutip pernyataan dari Ali Ghufron Ali Mukti, Dirjen Sumber Daya IPTEK dan DIKTI kemenristekdikti tentang dorongannya agar mahasiwa membekali diri dengan formula 4C dalam menghadapi era Industri 4.0 ini. “Formula 4C ini wajib dimiliki oleh mahasiswa sebagai modal untuk menghadapi era Revolusi Industri 4.0 atau revolusi industri generasi keempat. Formula 4C yang dimaksud yakni Critical Thinking (berpikir kritis), Creativity (kreatif), Communication (komunikasi) dan Collaboration (kolaborasi).

Keempat formula diatas, harus dimiliki oleh mahasiswa agar mahasisa mampu menjalankan perannya sebagai social control di era ini. Dalam formula tersebut mahasiswa dituntut untuk berpikir positif dan tidak tergerus pengaruh negatif, ikut serta dalam pengembangan teknologi, mendalami kearifan lokal, mendalami dunia IT dengan tidak mengkesampingkan bidang lain. Serta, mengambil langka nyata untuk mewujudkan ide dan aspirasi yang dimiliki.

Namun, kebanyakan realita yang terjadi mahasiswa sangat jarang menggunakan prinsip 4C tersebut dan cenderung tidak relevan dari yang diharapakn. Banyak sekali mahasiswa yang berfokus pada tujuannya tersendiri yaitu mendapatkan gelar sarjana dan pengakuan didalam masyarakat umum. Prioritasnya hanya untuk diri sendiri, bangsa dan negara sudah tidak lagi menjadi prioritas. Peran sebagai mahasiswa sedikit demi sedikit semakin menghilang. Hal tersebut tentunya sangat kontradiktif dari harapan-harapan yang telah digarap. Sudah seharusnya mahasiswa menunjukkan perannya sebagai agent of change, social control bukan hanya untuk bangsa dan negara tapi diri sendiri dan iron stock dalam menghadapi era Revolusi Industri 4.0 ini.

Menanggapi hal ini, tentunya akan menjadi sebuah kritikan yang keras untuk mahasiswa. Sudah seharusnya mahasiswa terlibat aktif dalam era ini dengan memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang ada di revolusi keempat ini. Sebab, teknologi tersebut diciptakan manusia untuk memudahkan pekerjaan manusia bukan untuk menggantikan kerja manusia. Jadi, dengan adanya teknologi canggih dan mudahnya akses internet di era ini tentunya dapat menjadi sarana yang begitu sempurna dalam gerakan-gerakan mahasiswa.

Salahsatu contoh nyata, adalah dengan mempersiapkan aksi-aksi yang lebih tertata, menggiring opini-opini ditengah masyarakat dan memberikan sosialisasi pencerdasan masyarakat dengan berbagai kemudahan di era revolusi industri. Sebab, revolusi industri 4.0 ini sebuah pantulan di cermin sehingga setiap gerakan mahasiswa haruslah relevan agar tetap memberikan manfaat yang nyata untuk bangsa dan negara.

Mengutip dari pernyataan Henry Ford “Berpikir adalah kegiatan tersulit yang pernah ada. Oleh karena itu hanya sedikit yang melakukannya”. Hal ini lah yang harus dilakukan oleh mahasiswa. Berpikir untuk kemajuan bangsa, berpikir bagaimana untuk menghadapi era yang semikin canggih ini, dan berpikir bagaimana mengubah cara pandang mahasiswa dan terutama masyarakat agar tidak hanya mahasiswa yang terlibat dalam era Industri 4.0 ini namun juga seluruh bangsa. (***)

 

Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Kesehatan Masyarakat dan Pegiat Literasi IMK UNAND

News Feed