by

‘Pesawat Kosong’ dan ‘Tiket Mahal’

JAKARTA – Pengamat penerbangan, Arista Atmadjati, mengatakan sepinya penumpang pesawat akhir-akhir ini terjadi bukan karena tiket mahal tetapi karena sedikitnya minat penumpang di masa awal tahun yang biasa disebut low season.

“Saat ini lagi ramai heboh tiket pesawat mahal dan ada bagasi berbayar. Jadi, semua dihubungkan seolah-olah kena efek,” tulisnya melalui pesan singkat kepada CNBC Indonesia, Minggu (10/2/2019). “Ya kalau low demand, enggak bisa diapa-apakan, masyarakat ogahpergi juga.”

Selain itu, berbagai korporasi dan pemerintahan juga biasanya belum dapat mencairkan anggarannya sampai April sehingga perjalanan dinas otomatis berkurang di awal tahun, tambahnya.

“Masyarakat masih konsentrasi untuk budget pendidikan, menabung, baru merencanakan liburan. Jadi, paling April ke atas baru eksekusi rencana bepergian,” kata Arista.

Kabar mengenai sepinya pengguna jasa angkutan udara mengemuka setelah muncul berita sebuah penerbangan Lion Air dari Padang, Sumatra Barat, ke Jakarta pada Jumat pekan lalu hanya mengangkut tiga orang penumpang.

Kabar itu segera dibantah pihak Lion Air.

“Kami tegaskan bahwa informasi tersebut adalah tidak benar,” kata Corporate Communication Strategic Lion Air Danang Mandala Prihantoro melalui keterangan tertulis.

Lion Air pada 8 Februari tersebut melayani tiga kali penerbangan berjadwal dari Padang menuju Soekarno-Hatta, sebutnya.

Tingkat keterisian penumpang juga masih tinggi, terdiri dari nomor JT-253 mengangkut 104 penumpang, JT-353 mengangkut 109 penumpang dan JT-357 mengangkut 205 penumpang.

Maskapai berbiaya rendah ini menyebut faktor musiman sebagai penyebab tidak penuhnya penerbangan-penerbangan di beberapa rute.

Hal yang sama juga disampaikan maskapai milik pemerintah, Garuda Indonesia.

“Periode Januari – Maret itu memang masuknya low season. Memang secara seasonal-nya begitu. Di awal tahun turun, tapi nanti di periode April – Juni meningkat,” kata Vice President Corporate Secretary Garuda Indonesia Ikhsan Rosan, Minggu (10/2/2019).

Selama periode musim ramai (peak season), tingkat keterisian penumpang di Garuda Indonesia bisa mencapai 75 persen sampai dengan 90 persen. Namun ketika low season, jumlahnya bisa menurun 10 persen-15 persen.

“Low season itu biasanya [tingkat keterisian penumpang] hanya 60 persen-70 persen,” jelasnya. (*)

News Feed