by

Go-Jek Kurangi Insentif Driver

JAKARTA – Perusahaan berbagi tumpangan (ride-hailing) Go-Jek mengubah skema insentif dan harga di pasar Singapura. Kebijakan ini untuk mengurangi biaya marketing yang harus dikeluarkan perusahaan.

Mengutip laporan analis CGS-CIMB, Go-Jek akan menghabiskan SG$ 300 juta atau setara US$ 221,25 juta (Rp 3,1 triliun) dalam setahun untuk insentif di pasar Singapura. Biaya ini sudah termasuk mengurangi insentif para driver dan menaikkan harga sebesar 30%, KrAsia melaporkan, Kamis (7/2/2019).

Insentif driver telah berkurang dari SG$35-310 menjadi SG$10-210. Pengurangan insentif ini bisa diartikan driver Go-Jek perlu lebih banyak membawa penumpang tetapi penghasilan lebih sedikit. Hal ini juga menandakan semakin sulitnya para driver memenuhi syarat untuk mendapatkan insentif yang lebih tinggi.

Profesor di Sekolah Bisnis Universitas Nasional Singapura, Lawrence Loh, mengatakan kepada media lokal Today pada Desember lalu, bahwa era bakar duit dengan diskon harga untuk bersaing adalah masalah “angka atau lebih” dan menambahkan Go-Jek harus mengambil pandangan jangka panjang untuk bersaing.

Lawrence Loh menambahkan banyak layanan pelengkap yang dibutuhkan untuk menjaga pelanggan tetap memilih platform Go-Jek ketimbang pesaing.

Kompetitor Go-Jek, Grab Holdings sendiri menegaskan tidak akan meladeni perang harga di pasar Singapura.

Analis CIMB Bank Malaysia mengatakan kepada Business Review bahwa kepuasan yang buruk di antara pengguna akan menurunkan permintaan ke Go-Jek. Tetapi Go-Jek masih pendatang baru di Singapura dan sedang meningkatkan infrastruktur dan layanan back-end, sehingga dampaknya mungkin berumur pendek.

Penting untuk menggarisbawahi bahwa langkah Go-Jek mengurangi insentif tidak berarti kekurangan dana. Baru-baru ini G-Jek baru saja menyelesaikan pengumpulan dana seri F tahap satu dari investor Google, JD.com, Tencent dan Provident Capital. Nilainya diperkirakan mencapai US$1 miliar. (*)

News Feed