by

Dikit-dikit Lapor (Negeri Cengeng)

Oleh Wahyu Hidayat

2019 adalah tahun politik bangsa Indonesia, artinya ini adalah momen pesta demokrasi terbesar yang akan dilaksanakan oleh bangsa ini. Tepat pada bulan April nanti para politisi akan bertarung satu sama lain baik itu secara personal maupun secara kolektif.

Dalam situasi politik, bangsa ini selalu dikaitkan dengan kepentingan antar golongan. Terlepas dari visi yang akan ditawarkan, momen ini merupakan cambuk sebenarnya bagi para politisi. Karena pada hakekatnya masyarakat sudah sedikit dewasa dalam menterjemahkan aksi-aksi politisi yang dilakukan di lapangan.

Menerapkan sistem politik yang demokrasi, artinya tanpa disengaja bangsa ini akan melahirkan seorang pemimpin yang memiliki hak sama untuk kekuasaan, karena istilah dalam negara demokrasi One Man One Vote menjadi konsekuensi dalam konsep demokrasi. Karena satu suara orang jahat sama dengan satu suara orang baik, itu rumusnya. Ini filosofi demokrasi yang sebenarnya.

Berbicara tentang demokrasi, kita tidak terlepas dengan kepemiluan. Karena pemilu adalah jembatan untuk memperebutkan kekuasaan. Karena itulah setiap pemegang kekuasaan negara lahir dari tahapan pemilu. Ini yang kemudian dalam waktu dekat akan berlangsung dilaksanakan pada bulan April nanti.

April, ajang perburuan kekuasaan yang terbesar yang pernah dilakukan selama ini. Sejak pemilu pertama 1955 hingga saat ini, momen 2019 ini adalah pesta terbesar, karena pemilu kali ini dilaksanakan secara serentak untuk memperbutkan kursi presiden dan wakil presiden, Anggota DPR RI, Anggota DPD sang Anggota DPRD provinsi serta DPRD kabupaten/kota.

Tentunya persiapan para politisi kali ini lebih ekstra dibandingkan dengan pemilu sebelumnya, karena membuka peluang mereka untuk berkoalisi dengan kompetitor. Misalnya, capres bisa memanfaatkan caleg pusat ataupun daerah untuk saling bekerjasama ataupun sebaliknya. Bisa juga caleg daerah tingkat 1 bekerjasama dengan caleg daerah tingkat 2, walupun itu beda partai. Dan ini sah-sah saja.

Itu sedikit tentang fenomena demokrasi yang akan kita laksanakan dan atau telah terjadi.  Dan Kali ini penulis ingin sedikit fokus membahas tentang bagiamana fenomena sosial politik politisi masing-masing timses masing-masing capres.

Kali ini kita dihadapkan pada dua pilihan, yakni Jokowi-ma’ruf dan Prabowo- sandi, head to head ulangan seperti pilpres 2014 kemaren. Masing-masing mempunyai tim dan simpatisan yang begitu fanatik. Kefanatikan ini terbukti hingga saat ini, karena begitu banyak permasalahan yang terjadi menjelang hari H pesta demokrasi.

Para timses dan simpatisan masing-masing capres sibuk cari sensasi, dan mencari kesalahan satu sama lain. Tidak salah kita adalah negara hukum, sebagai bunyi UUD 1945 pasal 1 ayat 3 yang menyatakan “negara Indonesia adalah negara hukum”. Spekulasi politisi terlalu berlebih-lebihan dan terlihat cengeng.

Begitu banyak cuitan-cuitan yang masing-masing saling sindir  antar timses. Karena pada dasarnya Poltik itu tidak boleh jujur, jadi komunikasi politik yang dilakukan sedikit-sedikit bersifat fitnah. Saling tuduh-menuduh, menjelekkan satu sama lain yang kemudian diterjemahkan dalam hukum disebut ujaran kebencian.

Disinilah letak bangsa yang cengeng, dimana saling tuduh-menuduh berakibat pada saling melaporkan satu sama lain. Hampir setiap momen pasti ada laporan yang dilakukan ke pihak kepolisian. Dan akibatnya amsing-masing kubu ada yang menjadi korban akibat sikap yang cenderung cengeng, dikit-dikit ngadu.

Apa yang sebenarnya terjadi dengan bangsa ini, masyarakat dipertontonkan dengan sikap politik yang buruk. Padahal tujuan politik itu pada esensinya adalah baik. Tapi dilaksanakan dengan cara tidak baik dan ini menjadi beban penulis sendiri melihat situasi politik nasional yang sudah kadaluarsa dalam berdemokrasi.

Agama dipolitisasi, sara dipermainkan dan masih banyak lagi politik kebohongan yang dilakukan masing-masing timses. Apa sebenarnya yang harus dibenahi?

Investasi Kemanusiaan, sebuah harapan yang mungkin bisa dilakukan secara perlahan untuk membenahi sistem politik politisi bangsa ini. Hal ini dimulai dari diri kita sendiri merubah mindsate tentang berpolitik, dan kemudian melahirkan dan membentuk orang-orang terdekat hingga kemudian baru kita laksanakan secara partial. Mari mulai detik ini juga kita sadar akan situasi darurat Poltik tentang kemanusiaan dan mudah-mudahan kita terutama masyarakat bisa melihat bagaimana kedepannya Bangsa ini dewasa dalam berpolitik. (***)

 

Penulis adalah Anggota DPD IMM Provinsi Jambi

News Feed