by

Mengupas Karya 3 Koreografer

Oleh Suci Intan Maulia, S.Sn., M.Sn

Studi Kasus Mahasiswa Prodi Sendratasik FIB Universitas Jambi

PERSOALAN Representasi karab sering digunakan pencipta seni, termasuk koreografer. Representasi sebagai bentuk pencerminan yang dapat me-nangkap segala hal, lebih lagi penjelasan representasi telah banyak diulas oleh beberapa pakar sebelumnya, namun perlu kembali saya singgung penjelasan mengenai representasi. Representasi merupakan se-buah proses pemaknaan kembali terhadap sebuah objek atau fenomena atau realitas untuk kemudian diproses sehingga menghasilkan sebuah konsep atau ide yang dapat diungkapkan kembali. Bagaimana seseorang itu mengungkapkan, semua tergantung pengetahuan yang dimiliki dan da-lam proses penggungkapan representasi, baik itu tradisi atau budaya atau hasil pengamatan semua harus menggunakan metode deskriptif dan interpretatif. Ketiga Karya yang telah digarap, semua merujuk pada tradisi, budaya, dan hasil pengamatan mereka atas sebuah fenomena.

Deli Monica Asmara mengusung sebuah ide yang berangkat dari kebiasaan perempuan Desa Rantau Panjang Kabupaten Merangin, tradisi menggunakan kain sarung, menumbuk padi dengan lesung dan aktivitas bergotong royong sudah tidak lagi dipertahankan oleh masyarakat pendukungnya. Faktor globalisasi telah mempengaruhi tradisi tersebut, sehingga tradisi ini mulai perlahan ditinggalkan. Karya dengan tajuk “Perempu-an di Balik Bayang” sebagai representasi dari fenomena tradisi masyarakat Desa Rantau Panjang, yang kemudian Ia kaitkan dengan dirinya. Selanjutnya, Meyrisa Yulandari menawarkan sebuah konsep yang bersumber pada kisah makhluk (satisa) yang hidup di dua alam, konsep ini yang kemudian dikaitkan dengan kehidupan pribadinya. Meyrisa mem-fokuskan pada dua sifat yang dimilikinya, pemilihan warna hitam dan putih menjadi simbol dalam karya “Terang Dalam Gelap” yang merupakan representasi dari kisah makhluk (satisa). Terakhir, Susi Suktari men-coba mewujudkan sebuah konsep yang berangkat dari karakter seorang Ayah, yang memiliki sifat sabar, kuat, dan rasa tanggungjawab yang besar. Sosok Ayah memiliki peran penting terhadap keluarga, berdasar-kan hasil pengamatan inilah yang menginspirasi Susi Suktari, sehingga terwujudlah karya “Lentera Pembawa Cahaya”.

Sebelum lebih jauh mengupas ketiga karya, saya ingin memberi pan-dangan soal menciptakan sebuah karya tari. Proses penciptaan harus berdasarkan konsep-konsep yang matang sehingga menghasilkan karya yang maksimal. Jika konsep tidak matang, maka kadar dari sebuah karya tari yang diciptakan akan menjadi sesuatu yang biasa. Begitupun dalam memahami konsep koreografi, kecerdasaan serta keterampilan dalam menata gerak merupakan hal penting, sehingga gerak yang dihasilkan sesuai dengan konsep yang ditawarkan. Selain itu, kreativitas juga dituntut dalam proses penciptaan karya tari, agar tidak melahirkan karya tari yang selaras dan dengan adanya kreativitas maka akan me-lahirkan pemaknaan dari karya yang digarap. Hal yang perlu diper-hatikan kembali adalah, sebagai koreografer pemula harus memiliki da-sar kepenarian yang baik, sehingga Ia mampu mengenali kemampuan dari ketubuhannya. Dengan demikian, koreografer pemula akan mampu men-transformasikan seluruh gerak-gerak yang telah ditata, kepada seluruh penari yang terlibat dalam karyanya. Selanjutnya, ada beberapa hal yang jarang diperhatikan oleh koreografer, yaitu sebagian dari mereka tidak memaparkan secara detail kepada seluruh penari tentang konsep yang diangkat, hal ini ditemukan saat saya melakukan interview kepada beberapa penari yang terlibat. Para penari hanya sebatas menari saja, tidak memahami konsep yang diangkat koreografernya, ini mungkin bagi sebagian orang adalah hal yang tidak vatal. Tapi menurut saya hal ini dapat memberikan dampak negatif, seperti: penggunaan ekpresi yang tidak pada bagiannya, dan apabila penari tidak memahami konsep, maka akan mempengaruhi pesan yang ingin disampaikan, karena penari-penari sebagai alat untuk menyampaikan ide yang digagas oleh koreografer. Ada beberapa catatan menurut pembacaan saya atas ketiga koreografer, ada yang menarik perhatian saya saat menyaksikan pertunjukan di Ge-dung Teater Arena Taman Budaya Jambi. Sehingga hal ini perlu di-tanggapi dan dikupas secara rinci melalui tulisan ini.

Pertunjukan yang digelar di Taman Budaya Jambi pada 26 Januari 2019 merupakan bagian dari rangkaian Ujian Tugas Akhir, Mahasiswa Prodi Sendratasik minat Penciptaan Seni Tari. Ini merupakan kali pertaman-ya, Prodi Sendratasik mempersembahkan sebuah mahakarya dari Mahasiswa minat Penciptaan Seni Tari. Karya yang dipertunjukkan oleh ketiga Ma-hasiswa teruji berasal dari beberapa Kabupaten yang terdapat di Provinsi Jambi. Konsep yang mereka sajikan berangkat dari fenomena, hasil pengamatan, dan ekspresi personal, yang kemudian mereka kemas dalam garapan karya yang apik. Pertunjukan yang dimulai 20.20 WIB me-madati gedung Teater Arena, hal ini terbukti dari jumlah penonton yang hadir, tidak hanya dari kalangan mahasiswa atau i Universitas Jambi, namun beberapa koreografer, seniman Jambi, penikmat seni, bahkan masyarakat Jambi juga ikut menyaksikan pertunjukan ketiga ko-reografer tersebut. Selain itu, Rektor Universitas Jambi Bapak Prof. H. Jhoni SH. MH. Ph.D juga menghadiri dan menjadi saksi perjuangan dari ketiga koreografer muda itu. Ketiga pertunjukan yang digelar tentunya telah melewati proses bimbingan yang panjang dengan dosen pembimbing, dan suksesnya pertunjukan ini tentunya dibawah arahan Ketua Prodi Sendratasik Prof. Mahdi Bahar,S.Kar.,M.Hum dan dukungan moril seluruh tim produksi yang terlibat dalam menyukseskan Ujian Tu-gas Akhir.

“Perempuan di Balik Bayang” koregrafer Deli Monica Asmara, merupakan pertunjukan pertama dengan berdurasi kurang lebih 23 menit mampu menarik perhatian penonton. Lampu ligthing menyala perlahan memfokus-kan pada bagian center panggung arena, lampu menyoroti dua orang penari tradisi lengkap dengan kostum yang unik, topeng dan penggunaan properti pedang memperlihatkan beberapa bentuk gerak tradisi. Bebera-pa menit selanjutnya, seluruh mata penonton tertuju pada panggung ba-gian depan, muncul sosok penari perempuan berpakaian lengkap adat Rantau Panjang, memperlihatkan akan sebuah tradisi yang masih diper-tahankan. Deli Monica Asmara, yang karab dipanggil Monica ini mencoba menafsirkan kembali bagaimana tradisi di daerah Rantau Panjang, masyarakat yang masih mempertahankan tradisi dengan menggunakan kain sarung, menumbuk padi dengan lesung dan aktivitas masyarakat ber-gotong royong, mampu dihadirkan oleh Monica dalam koreografi yang apik, dengan berpijak pada tari Kadam yang terdapat di Merangin. Pada bagian selanjutnya, Monica mencoba menghadirkan sebuah permasalahan yang mulai muncul saat tradisi tersebut mulai perlahan mengalami pengaruh globalisasi.

Hal itu saya tandai dengan adanya penggambaran satu penari yang mulai meninggalkan tradisi tersebut, secara jelas dramatik sangat terlihat dalam karya “Perempuan di Balik Bayang”. Sehingga karya ini dapat dipahami oleh penonton, terlebih lagi garapan setiap perbagian sangat jelas menceritakan rentetan dari fenomena yang diangkat. Pada ending-nya pun saya mengamati, adanya penyampaian pesan terhadap dampak dari memudarkan tradisi tersebut, semakin kacau, risau yang dirasakan ko-reografer semua tergambar. Namun ada beberapa catatan yang menurut saya, ini perlu Monica perhatikan kembali. Pertama dalam menentukan judul karya, Monica harus menjelaskan seperti apa “Perempuan di Balik Bayang” apakah ada hubungan secara konteks dengan konsep yang di-angkat. Penempatan properti lingkaran besar yang tergantung menurut saya kurang efektif karena terlalu ke bawah, hal ini sangat jelas terlihat dan dapat dibaca oleh penonton bahwa properti tersebut pasti akan turun pada bagian ending. Agaknya ini perlu kembali dipertim-bangkan, karena pemilihan panggung arena memungkinan jarak pandang penonton sangat dekat, sehingga akan sangat jelas setiap kesalahan yang dilakukan.

Selanjutnya, ada beberapa penari yang masih belum memahami konsep dari si koreografer, sehingga ekpresi (senyum atau gembira atau keceriaan) selalu muncul setiap bagian, hal ini saya amati secara de-tail. Pertunjukan karya ini memiliki suasana perbagian, ekspresi yang menjadi bagian terpenting dilakukan beberapa penari dengan menampil-kan kesan keceriaan pada bagian konflik. Ini tanpa disadari dilakukan oleh beberapa penari, dan ada beberapa kesalahan gerakan sehingga mengurangi kekompakkan para penari. Masalah-masalah kecil ini, harus diatasi dengan latihan secara intensif sehingga tidak terjadi kesala-han. Konsentrasi yang perlu dijaga oleh para penari adalah kunci uta-ma menjaga kekompakkan, terlebih lagi teknik-teknik yang masih perlu dibenahi agar seluruh penari semakin maksimal dalam melakukan setiap gerakan.

Begitu pula musik yang menjadi aspek penting dalam menggambaran sua-sana setiap bagian cukup dinamis, dan hadirnya musik menjadikan sinergi dalam karya “Perempuan di Balik Bayang” cukup membangun sua-sana. Kostum dan tata rias yang digunakan sesuai dengan konsep yang diangkat, dan permainan ligthing mampu membangun suasana setiap bagi-an. Menurut pengamatan saya, karya Monica cukup baik karena Monica mampu mengekplor beberapa bentuk gerak sehingga menghasilkan nilai estetis, meskipun banyak yang perlu dibenahi.

“Terang dalam Gelap” koreografer Meyrisa Yulandari, garapan yang berangkat dari kisah makhluk (satisa) yang hidup di dua alam direpre-sentasikan dalam kehidupan pribadi Meyrisa. Saya mencoba melihat kon-sep koreografi, adanya proses imajinasi yang muncul dalam diri seorang koreografer semua berdasarkan sebuah rangsangan. Begitupun Meyrisa, fenomena tersebut merangsang Ia sehingga terwujudlah karya “Terang dalam Gelap” yang berpijak pada tari tradsi Kain Kromong di Kec. Mandiangin Tuo Sarolangun Provinsi Jambi. Sorot lampu ligthing seketika menerangi bagian sudut kanan panggung, terlihat satu penari melakukan beberapa bentuk gerak yang luwes. Sementara, dari sudut ki-ri panggung ada satu penari yang berjalan perlahan melakukan beberapa gerakan tradisi.

Terjadi dua fokus yang tampak di panggung arena, hal ini menimbulkan beberapa pertanyaan-pertanyaan tentang seperti apakah karya yang ditawarkan oleh Meyrisa. Lampu perlahan menggelapi panggung, terlihat satu orang penari dengan properti kain hitam dibagian sudut depan, dan satu orang penari dengan properti kain putih dibagian sudut ten-gah. Meyrisa, mencoba me-intrepretasikan kehidupan di dua alam dengan pemilihan warna hitam dan putih. Penggarapan pada bagian ini, sangat memberikan kesan atas sebuah koreografi yang baik, kekompakan ter-jalin baik oleh dua orang penari laki-laki. Terlihat melalui per-mainan kain yang berhasil digarap Meyrisa, sehingga menghasilkan be-berapa pesona yang sangat tinggi bagi penonton ataupun penikmat seni yang menyaksikan pertunjukan “Terang dalam Gelap”. Pada bagian selan-jutnya, Meyrisa mencoba menggambarkan persoalan dirinya yang merasa ambigu terhadap dua sifat yang dimilikinya, hal ini terlihat dari penggambaran penari kelompok dan adanya permainan kain hitam dan putih yang menjadi simbol dalam garapan ini. Hal yang perlu diper-hatikan dalam menata koreografi atau garapan karya, adalah sebuah keterampilan si koreografer.

Meyrisa cukup terampil dalam mencipta gerak-gerak, pembendaharaan gerak yang dimiliki menghasilkan bentuk gerakan yang mampu memberi pesan. Namun terampil menata gerak saja tidak menjadi modal utama, tentunya teknik juga sebagian dari keterampilan untuk mengkoordinasi-kan gerak-gerakan tubuh. Jika penari-penari telah menguasai teknik gerak dan mengenali kemampuan tekniknya, maka ketubuhan penari akan semakin baik. Kurangnya terjalin komunikasi antar penari juga men-jadikan karya ini lemah, itulah yang perlu kembali dicermati oleh Meyrisa. Ada hal penting lagi yang harus dikoreksi dalam karya “Ter-ang dalam Gelap”, pada bagian tari kelompok (penari perempuan), secara kualitas gerak penari-penari belum cukup, hal ini terlihat pa-da bagian tertentu. Faktor penyebabnya adalah kurangnya proses lati-han, sehingga jika diamati secara detail ada beberapa ketepatan gerak serta teknik kurang maksimal dilakukan penari. Pengunaan kain hitam dan putih sebagai penanda dari karya ini, mampu menyampaikan pesan apa yang dimaksud, meskipun sedikit verbal.

Musik sebagai iringan tari sangat perlu diperhatikan, pemilihan alat musik harus disesuaikan dengan konsep yang ditawarkan koreografer, sehingga musik yang dibunyikan tidak hanya sekedar berbunyi saja. Hal yang perlu dilakukan kedepannya adalah menceritakan kembali konsep kepada penata musik atau komposer, menjelaskan secara detail perbagi-an, sehingga musik sebagai pengiring karya tari dapat tergarap dengan baik. Menurut hemat saya, musik dalam karya ”Tenang dalam Gelap” dapat membangun suasana, penggambaran suasana perbagianpun dapat ter-jalin dengan baik, antara tari dan musik dapat penghadiran suasana musik konflik pada bagian akhir. Namun ada satu instrumen yang kurang cocok digunakan, sehingga menghasilkan beberapa bunyi yang kurang pas menurut pendengaran saya. Meyrisa sangat memahami konsepnya, pemili-han kostum sangat sesuai dengan konsep, dan karya yang disajikan mam-pu dinikmati oleh penonton. Meskipun ada beberapa kekurangan yang agaknya perlu diperbaikin, karena Meyrisa sebenarnya salah satu cikal bakal koreografer muda yang akan terus berkreativitas.

“Lentera Pembawa Cahaya” karya Susi Suktari, yang akrab disapa Susi ini mencoba menawarkan ide yang bersumber pada pengamatannya terhadap sosok Ayah yang memiliki peran penting terhadap keluarganya. Menurut pengamatan saya, pertunjukan terakhir sangat memukau apresiator, suara keras yang terus dilantunkan bergema di awal dan akhir pertun-jukan. Hal ini terbukti dari bentuk sajian yang mampu dibangun Susi sangat menarik. Sunyi dan hening tanpa lampu penerangan lighting, ti-ba-tiba muncul satu penari dari sudut belakang membawa lampu togok, berjalan perlahan ke arah center. Kualitas gerak satu orang penari ini cukup baik, pada bagian awal Susi mencoba merepresentasikan sosok Ayah yang digambarkan oleh penari laki-laki. Bagaimana karakter dan peran penting Ayah terhadap keluarga, pada bagian ini tergambar san-gat jelas apa yang ingin disampaikan koreografer. Terlebih lagi Susi mencoba menampakkan proses interaksi antar penari satu dan lainnya, sentakan dan lampu lighting seketika menyala disudut belakang, hal ini memberi penanda adanya hubungan sinerji antara penari satu dengan lainnya.

Koreografi karya “Lentera Pembawa Cahaya” berpijak pada gerak tari Anggut Kecamatan Pelayangan Provinsi Jambi, seluruh gerakan tradisi telah mengalami stilirisasi. Koreografi yang disajikan cukup rapi, ditambah lagi adanya dukungan artistik yang membangun suasana pertun-jukan “Lentera Pembawa Cahaya” seluruh trap yang dibungkus warna me-rah, dan beberapa tiang yang ditata dipanggung memberi sentuhan ar-tistik yang menarik. Singkatnya, karya Susi mampu dipahami oleh apresiator. Tapi ada beberapa catatan yang harus Susi perhatian, per-tama secara penggarapan bentuk gerak seperti munculnya aksen, tekanan, kualitas yang menjadi salah satu kekuatan dalam karya tari, harus kembali diperbaikin dan ini menjadi PR penting untuk Susi kedepannya terhadap penari-penari, ketika saya mengamati ada beberapa penari bergerak lepas kontrol (bergerak dengan penuh emosi tanpa mem-perhitungkan bentuk gerak). Sehingga pada bagian tertentu kekompakan kurang terjaga, kemudian penggunaan properti kursi yang dimainkan oleh empat orang penari juga belum tergarap dengan baik, Susi perlu mengeksplor kembali. Sehingga menghasilkan bentuk-bentuk gerak baru yang apik sesuai dengan konsep. Musik yang ditata penata musik atau komposer saya rasa cukup baik, meskipun pada bagian awal terjadi kesalahan teknis yang menyebabkan suara biola tidak terdengar dengan baik.

Hal itu merupakan kecelakaan kecil yang harus dihindari karena dapat merusak pertunjukan. Selanjutnya, ada ketidaksesuaian dalam pemilihan kostum pada penari perempuan (penari kelompok). Saya pikir, kostum yang digunakan kurang sesuai dengan konsep, untuk itu Susi perlu kem-bali berdiskusi dengan orang yang ahli dibidangnya. Secara prinsip, karya yang digarap Susi memiliki makna yang sangat dalam, bagaimana perjuangan seorang Ayah telah digambarkan oleh Susi dalam bentuk kar-ya tari “Lentera Pembawa Cahaya”.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk mencari kelemahan dari karya ketiga koreografer, namun ini sebagai tawaran positif untuk ketiga koreo-grafer agar semakin meningkatkan kualitas karya yang dibuat. Semua pengamatan saya terhadap ketiga pertunjukan sama sekali tidak bersi-fat subjektif, ini hanya sebagai bentuk informasi terhadap insiden yang terjadi dalam pertunjukan tersebut. Sebelum saya akhiri tulisan ini, saya mengutip pernyataan Aristoteles yang mengungkapkan bahwa “seni melalui mimesis melakukan proses representasi fakta-fakta so-sial, proses representasi yang terjadi dalam seni tidak semata-mata meniru kenyataan seperti pantulan gambar cermin, tetapi melibatkan renungan yang kompleks atas kenyataan alam. Dalam pandangan Aristo-teles, seni bekerja seperti sejarah, yakni menghadirkan peristiwa atau kenyataan faktual dan khusus”. Ketiga koreografer ini mencoba mengutarakan sesuatu terhadap realitas objektif yang mereka temukan di daerahnya masing-masing. Mereka ingin berpesan melalui karya cipta tari kepada seluruh apresiator di Gedung Teater Arena Taman Budaya Jambi, tentang suatu hal yang mereka anggap sebagai masalah. Ketiga koreografer berusaha merubah fakta-fakta yang faktual menjadi fakta-fakta yang imajinatif dan bahkan menjadi fakta-fakta yang artistik. (***)

Penulis adalah Pengamat Seni dan Tari. Director Komunitas Simidasu Production

News Feed