by

Kuatnya Jaringan Mafia Lobster

Polisi Kembali Gagalkan Penyelundupan Baby Lobster Rp 8 M

KEPOLISIAN Daerah Jambi sudah berulang kali menggagalkan perdagangan gelap baby lobster ke Luar Negeri. Sejumlah pelaku ditangkap. Namun, bisnis ilegal benih lobster itu seperti tak pernah mati. Terbaru, Polisi kembali menggagalkan penyelundupan 53 ribu ekor baby lobster senilai Rp 8 M di perairan Timur Jambi. Tantangan petugas untuk bisa membongkar jaringan mafia ini hingga keakarnya.

Penyelundupan baby lobster senilai Rp 8 miliar itu digagalkan petugas saat akan dibawa ke Singapura. Polisi berhasil mengendus perdagangan gelap ini saat benih lobster akan di kirim melalui jalur laut di kawasan Tanjung Jabung Timur, Jambi, kemarin.

Ada 2 jenis baby lobster yang diamankan. Antaralain jenis mutiara sebanyak 5 ribu ekor. Dan jenis pasir 48,258 ekor.

“Totalnya mencapai Rp 8 miliar lebih,” kata Kapolres Tanjung Jabung Timur, AKBP Agus Desri Sandi, Senin (21/1/2019).

Polisi menangkap tiga orang tersangka. Mereka adalah ABD, MU dan SA. Ketiganya warga Jambi. Mereka diamankan oleh petugas di Desa Parit 7, Kecamatan Nipah Panjang Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi.

Sejumlah barang bukti turut disita petugas. Antaralain 8 koli boks yang terbuat dari gabus. Di dalamnya terdapat 2 jenis baby lobster dengan dikemas dan dimasukkan kedalam 292 kantong plastik.

Baby lobster tersebut berasal dari Jambi. Rencananya akan dibawa ke Singapura melalui jalur laut.

“Ada 1 unit mobil yang juga kita amankan yaitu mobil warna silver dengan nopol BH 1269 GF yang menjadi alat transportasi mereka untuk membawa baby lobster dari Kota Jambi menuju Tanjung Jabung Timur,” ujar Agus, yang baru beberapa bulan menjabat Kapolres Tanjab Timur tersebut.

Polisi menduga pelaku yang ditangkap bukan aktor utama. Saat ini petugas sedang menelusuri jaringan mafia ini. Yang diduga memiliki jaringan lebih besar lagi.

Tiga tersangka yang diamankan terancam hukuman 6 tahun penjara dan denda Rp 15 miliar.

Tersangka dijerat Pasal 16 ayat 1 Jo pasal 88 UU RI No. 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan sebagaimana telah diubah dengan UU RI No. 45 Tahun 2009 Tentang Perubahan atas UU RI No. 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan Jo Pasal 55 Ayat 1 ke 1 KUH Pidana dan Pasal 9 Jo Pasal 31 Ayat 1 UU RI No. 16 Tahun 19992 Tentang Karantina Hewan Ikan dan Tumbuhan.

Baby lobster yang diamankan itu nantinya dilepasliarkan ke alam di Pantai Pulau Ujung Kawasan Konservasi Perairan Daerah ( KKPD ), Kota Pariaman Sumatera Barat.

Polisi sudah berulang kali membongkar kasus penyelundupan baby lobster ini. Meski begitu, perdagangan ilegal ini masih tetap saja berlangsung.

Akhir November 2018 lalu misalnya, tim khusus Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri turut membongkar jaringan penyelundupan benih lobster ini di Kota Jambi.

Sebanyak 19 orang anggota jaringan diamanankan. Sekitar 101.306 benih lobster senilai Rp 14 miliar disita.

Jambi selama ini memang menjadi lokasi transit pengiriman benih lobster. Sedangkan pasokan benih lobster berasal dari beberapa daerah di Jawa.

Masih di bulan November 2018. Kepolisian berhasil menggerebek gudang penampungan benih lobster. Yang berada di kawasan Jalan Bintan, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi.

Seorang pemilik gudang Imam Santoso beserta sembilan anak buahnya diamankan petugas. Ada 56.306 ekor benih lobster yang disita petugas.

Sebelumnya, Kepala Kepolisian Daerah Provinsi Jambi Irjen Pol Muchlis AS menegaskan jajaran Polres dan Polisi Perairan (Polair) perlu meningkatkan patroli dan pengamanan.

“Dalam beberapa kasus penyelundupan salah satunya ‘baby lobster’ selalu berulang dengan modus sama, kita perketat patroli oleh Polres maupun Polair Polda Jambi,” ujar Muchlis.

Muchlis menyebut, kasus penyelundupan baby lobster merupakan komoditas yang mendominasi selama upaya penggagalan penyelundupan.  Oleh karena itu, kesigapan dan ketegasan personil sangat diprioritaskan.

“Ketegasan dilakukan, seperti pengungkapan kasus penyelundupan lobster, mereka menyelundupkan dengan menggunakan perahu bermesin cepat, salah satunya terpaksa petugas menembak mesin perahu untuk menghentikan pelaku yang akan meloloskan diri,” terang Muchlis.

Pada 2018. pengungkapan kasus penyelundupan di wilayah Polda Jambi dilakukan oleh Polair Polda Jambi, Polres Muarojambi, dan Polres Tanjung Jabung Timur. Polair Polda Jambi mengungkap enam kasus penyelundupan, dan menetapkan enam tersangka.

Pengungkapan itu yakni tiga kasus penyelundupan barang campuran, dua kasus penyelundupan baby lobster dan satu kasus percobaan penyelundupan minuman keras.

Polres Muarojambi mengungkap satu kasus penyelundupan baby lobster dan menetapkan satu tersangka. Serta Polres Tanjabtim mengungkap dua kasus penyelundupan baby lobster dan menetapkan tiga orang tersangka. Nilai dari barang selundupan itu totalnya miliaran rupiah.

Muchlis menjelaskan, pihaknya akan meningkatkan koordinasi dengan berbagai institusi dalam pengungkapan berbagai kasus tersebut, seperti BKIPM, Bea Cukai, dan sebagainya.

“Upaya kita dalam menekan angka penyeludupan itu tidak akan berhenti di sini, kita tingkatkan pengawasan dan patroli pada tahun 2019,” tutur Muchlis.

Hal senada juga diungkapkan Kepala Stasiun KIPM Jambi Ade Samsudin. Ia menjelaskan, perlunya koordinasi berbagai instansi agar dapat menanggulangi tindak penyelundupan komoditas perikanan.

“Tentunya SKIPM Jambi siap bersinergi, agar kinerja di tahun mendatang dapat lebih baik,” ujarnya.

Perairan di Provinsi Jambi memang menjadi jalur rawan penyelundupan. Terutama penyelundupan komoditas perikanan.

Baby lobster diselundupkan ke luar negeri. Seperti Singapura dan Vietnam.

Letak geografis Provinsi Jambi strategis mempermudah aksi penyelundupan benih lobster. Yang nilainya hingga miliaran rupiah itu.

Beberapa kali aksi penyelundupan benih lobster berhasil digagalkan Polda Jambi.

Para pelaku adalah anggota sindikat penyelundupan benih lobster yang didanai orang asing. Mereka diduga memiliki mata rantai cukup panjang. (*)

News Feed