by

Tarbiyah, PKS dan (atau) Garbi

Oleh :

Muawwin. Spd

 

Jamaah Tarbiyah. Kelahirannya dapat ditelusuri dari gerakan dakwah kampus. Pada era tahun 80-an. Munculnya dakwah kampus sebagai reaksi tindakan represif Soeharto terhadap kelompok “Islam Politik”.

Masyumi. Sejak di bubarkan soekarno tahun 1960. Tidak juga direhabilitasi pada era Soeharto. Soeharto malah merestui mendirikan partai baru, Parmusi (Partai Muslimin Indonesia). Tokoh eks masyumi yang kritis dilarang terlibat di Parmusi.

Elite masyumi dipelopori Muhammad Natsir. Mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII). Pada 1967.

DDII adalah pendukung paling vokal gerakan “Islam Politik”. Gencar mengabarkan bahwa islam bukan sekedar agama. Atau konstruksi teologis. Melainkan idiologi politik.

Secara politis, gerakan DDII berbenturan dengan platform rezim Soeharto. Yang tidak mentolerir “Islam Politik”.

DDII kemudian mendorong tokoh-tokohnya merancang strategi baru. Yaitu revitalisasi dakwah. Mempelopori proses kelahiran gerakan sosial islam yang lebih cair di kampus-kampus. Gerakan sosial baru ini relatif imun dari kontrol Negara.

Masjid-masjid kampus dipilih sebagai markas gerakan. DDII memprakarsai rekrutmen para pemimpin mahasiswa Muslim di Universitas Sekuler. Mereka dilatih sebagai pengajar agama untuk kegiatan di masjid. Tokoh-tokoh kunci dan intelektual DDII seperti Muhammad Natsir, Praowot Mangkusasmito, M Rasyidi. Langsung mengisi materi pelatihan.

Pada akhir 1970-an. Penetrasi gerakan dakwah kampus memasuki babak baru. Dunia aktivis di bonsai oleh rezim melalui penerapan kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK). Dan Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK) pada 1978. Kebijakan itu sebagai reaksi atas perkembangan gerakan mahasiswa yang makin antagonistik. Dan kritis terhadap pemerintah.

Ketika represi “Islam Politik” mencapai puncak. Masjid kampus menjadi katalisator mengekspresikan rasa frustasi. Dan ketidakpuasan politik itu.

Sejak awal Natsir mengarahkan kiblat gerakan ke Timur Tengah. DDII menjalin hubungan intensif dan kuat dengan Liga Dunia Islam (Rabithah Al –alam Al-Islami). Natsir adalah salah satu wakil Ketua di Liga Dunia Islam itu.

Banyak mahasiswa muslim Indonesia dikirim Natsir kuliah di Timur Tengah. Salah satu tokoh DDII yang terkenal adalah Abu Ridho dan Prof Rahman Zainuddin. Mereka dikirim DDII sekolah ke Arab Saudi. Selama disana, mereka dipengaruhi oleh ajaran-ajaran dan metode perjuangan kelompok Ikhwanul Muslimin.

Arab Saudi juga mendirikan LIPIA di Jakarta pada 1980. Para pengajar di LIPIA kebanyakan dipengaruhi oleh gagasan dan pemikiran Ikhwanul Muslimin. Pada perkembangannya, LIPIA berperan penting dalam menyebarkan model gerakan Ikhwanul Muslimin di Indonesia.

Anis Matta. Tokoh jenius asal Sulawesi ini. Adalah salah satu contoh. Yang mendapat pemahaman gerakan Ikhwan ketika kuliah di LIPIA.

Abu Ridho pada awal 1980 banyak menterjemahkan tulisan Hasan Al Banna, Sayyid Qutb kedalam bahasa Indonesia. Pembinaan kader dengan model sel tertutup Ikhwanul Muslimin diadopsi. Dan dibawa ke Indonesia.

Abu Ridho kelak adalah salah satu pendiri PKS bersama tokoh lain. Seperti Hidayat Nurwahid, Rahmat Abdullah, Salim Segaf Al Jufri, Hilmi Aminuddin, dan Anis Matta.

Dakwah kampus yang sebelumnya di bawah kontrol DDII. Kemudian secara perlahan bergerak dan berjalan menggunakan model baru itu. Ikhwanul Muslimin.

Gerakan dakwah kampus yang terafilisasi ke Ikhwanul Muslimin inilah yang kemudian menamakan dirinya Jamaah Tarbiyah.

Penamaan Tarbiyah sendiri untuk membedakan dengan kelompok Islam lain. Yang punya model dan strategi berbeda. Seperti HTI dan sebagainya.

Dakwah kampus kemudian bermetamorfosis menjadi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) resmi di kampus. Yaitu Lembaga Dakwah Kampus (LDK). LDK adalah strategi jamaah tarbiyah dalam memperluas jejaring. Rekrutmen dan organisasi.

Bagaikan cendawan dimusim hujan. Bermuncullah LDK dipelbagai Universitas bergengsi dan terkenal. Di Jawa dan Sumatera.

Jejaring aktivis LDK antarkampus itu. Memperluas wadah dengan mendirikan Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK). FSLDK merupakan forum koordinasi aktifis dakwah dibawah kontrol Jamaah Tarbiyah.

Jamaah tarbiyah menggunakan struktur sel. Untuk menjamin kerahasiaan operasi dan kegiatan mereka dalam menentang Negara. Jamaah Tarbiyah menghindari konfrontasi langsung dengan rezim.

Maka, pembinaan sistem sel tertutup itu dilakukan secara diam-diam. Para anggota dilarang mencatat materi yang dipaparkan murobbi (pemateri). Setiap kali pertemuan, sandal dimasukkan kedalam rumah. Agar tidak mudah dideteksi.

Pada partemuan FSLDK ke-10 di Malang 1998. Beberapa aktivis LDK berinisiatif mendirikan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).

Fahri Hamzah terpilih sebagai Ketua Umum Pertama. Fahri adalah salah satu tokoh deklarator PKS.

Setelah Soeharto lengser pada 21 Mei 1998. Tokoh-tokoh KAMMI mempertimbangkan mendirikan partai politik Islam. Sebagian jamaah Tarbiyah ini percaya. Bahwa  partisipasi dalam sistem demokratis akan mendatangkan banyak keuntungan. Tapi, ada pula beberapa aktivis dakwah menolak gagasan itu.

Survey internal di antara kader inti digelar. Mayoritas setuju untuk mendirikan partai.

Partai itu diberi nama “Partai Keadilan”. Proses transfer loyalitas idiologi gerakan dakwah kedalam partai berlangsung secara baik.

Tiap kader didoktrin menganut pandangan Al-jamaah hiya al hizb wa al hizb huwa al jamaah. Artinya jamaah adalah partai dan partai adalah jamaah.

PK pertama kali ikut pemilu 1999. Dan gagal lolos PARLIAMENTARY THRESHOLD (PT). Pemilu berikutnya pada tahun 2004, PK bermetamorfosis menjadi PKS. Sejak saat itu, PKS adalah satu-satunya kendaraan politik Jamaah Tarbiyah.

PKS memanfaatkan jejaring dan sumber daya Tarbiyah yang telah ada. Untuk melaksanakan agenda politiknya. Tidak ada perbedaan antara PKS dan Tarbiyah.

Melalui basis jejaring sel. PKS menuntut anggotanya mengamalkan norma dan ajaran Islam dalam semua aspek. Seluruh kader harus melewati enam jenjang pengkaderan. Yang berujung pada takhassus. Yaitu Orang-orang yang memiliki kecakapan khusus dalam berdakwah. Sejak pembentukan partai. Semua anggota Tarbiyah otomatis menjadi anggota partai.

Untuk mengakomodasi tokoh berpengaruh di Jamaah Tarbiyah. Partai kemudian membuat satu badan yang bersifat super body. Bernama majelis syuro. Yang berwenang penuh menentukan seluruh keputusan strategis di tubuh partai.

Anggota Lembaga super body ini berasal dari perwakilan kader inti di tiap provinsi. Namun ada dua anggota majelis syuro berstatus seumur hidup, yaitu KH Hilmi Aminuddin dan Salim Segaf Al-Jufri.

Salah satu peran strategis lembaga super body ini adalah menentukan Ketua Umum Partai. Atau Presiden partai.

Agustus 2015 lalu. Secara senyap lembaga super body ini membuat kebijakan heboh. Mengganti Ketua Majelis Syuro. Dari KH Hilmi Aminudddin ke Salim Segaf Al Jufri. Lembaga super body ini juga mengganti Presiden Partai. Dari Anis Matta ke Muhammad Sohibul Iman (MSI).

Anis Matta kerap digolongkan sebagai intelektual muda PKS. Ia menjadi Presiden PKS pada periode 2013 – 2015. Pria kelahiran Bone, Sulawesi Selatan itu dibesarkan oleh LIPIA. Lembaga pendidikan milik Kerajaan Arab Saudi.

Anis Matta sudah menerbitkan beberapa buku. Tentang agama. Negara. Kepemimpinan hingga urusan percintaan. Buku-buku hasil tulisan tangan Anis itu menjadikan dia populer di kalangan anak muda. Terutama di lingkaran kelompok-kelompok Tarbiyah.

Selain buku, pemikiran Anis Matta bisa dilacak lewat tulisan-tulisan di website pribadinya. Melalui website itu, Anis aktif mengkampanyekan ide mengenai “Arah Baru Indonesia”. Pemikiran Anis menekankan pentingnya kombinasi. Antara agama dengan pengetahuan.

Pembangunan seperti itu menurut Anis akan berdampak pada kemajuan teknologi. Militer hingga ekonomi. Anis Matta menulis bahwa prasyarat menjadi sebuah bangsa besar adalah dengan cara menjadi bangsa religius. Dan menguasai ilmu pengetahuan.

Terlihat pula bahwa Anis Matta merupakan tokoh Muslim kompromistis. Dalam tulisan, ia mengatakan bahwa harus ada rembuk antara empat komponen: agama, nasionalisme, demokrasi dan kesejahteraan dalam satu kerangka ideologis.

Tujuan utama dari rembuk tersebut adalah untuk mengakhiri konflik antara Islam dan nasionalisme. Serta antara Islam dan Negara.

Ia berharap manusia Indonesia ke depannya menjadi bangsa religius. Cinta tanah air. Menghargai kebebasan, sekaligus sejahtera.

Ide dan gagasan Anis Matta diterapkan pula ketika ia memimpin PKS.

Sementara, latar belakang Sohibul Iman sebagai pengganti Anis Matta. Adalah mantan Rektor Universitas Paramadina. Dia juga merupakan lulusan Universitas di Jepang. Berbeda dengan Anis Matta. Ide dan gagasan Sohibul Iman sulit terlacak.

Perubahan tampuk kepemimpinan PKS pada tahun 2015 itu berbuntut panjang. Sejumlah loyalis Anis Matta menyebutkan pergantian itu merupakan upaya sengaja menyingkirkan Anis Matta. Dengan gagasan Arah Baru Indonesia atau disingkat ABI itu.

Puncaknya. Fahri Hamzah dipecat.

Mahfud Sidiq, salah satu elit PKS. Menyatakan sejak awal Anis Matta tidak disukai menjadi Presiden PKS. Internal PKS pecah kedalam dua kubu. Ketika ada kerenggangan hubungan antara Anis Matta dan Hilmi Aminuddin.

Beberapa kader PKS menguasai kursi Kementerian di era SBY. Mahfudz mengatakan Ketua Majelis Syuro PKS saat itu, Hilmi Aminuddin memiliki kebijakan. Semua menteri-menteri PKS langsung di bawah kontrol Majelis Syuro.

Hal itu berubah ketika Anis Matta menjadi Presiden PKS. Anis Matta ingin menjadikan PKS sebagai partai politik terbuka. Dengan pengelolaan organisasi dan sumber daya yang transparan dan akuntabel. Hal ini kemudian menjadikan Anis dan Hilmi berjarak.

Sekalipun Anis dan Hilmi dianggap telah berjarak sejak lama. Anis Matta justru bukan diturunkan oleh Hilmi Aminuddin. Melainkan oleh Majelis Syuro di bawah pimpinan Salim Segaf.

Fahri Hamzah mengatakan bahwa Anis Matta dan Sohibul Iman ibarat “Matahari Kembar”di dalam PKS.

Pembersihan loyalis Anis Matta merembet sampai kedaerah. Sejumlah petinggi partai tingkat daerah yang mendukung narasi Anis Matta dipecat secara massal.

Untuk mengakomodasi kader Tarbiyah yang dipecat oleh struktur PKS ini. Anis Matta kemudian membentuk organisasi Garbi (Gerakan Arah Baru Indonesia). Garbi merupakan wadah bagi kader Tarbiyah untuk mengembangkan kapasitas. Dan mengembangkan narasi Arah Baru. Gagasan Anis Matta itu.

Fahri Hamzah. Yang sudah terlanjur di pecat dari PKS. Kemudian menjadi pentolan utama Garbi. Fahri Hamzah menginisasi pembentukan Garbi di tiap daerah. Termasuk Jambi.

Yang menarik. Justru Anis Matta sebagai pencetus gagasan ABI itu. Masih tetap berada di PKS.

Anis Matta tidak pernah secara terbuka menyebut dirinya Garbi. Tidak juga menyatakan dirinya keluar dari struktur PKS. Sementara Sohibul Iman juga tidak pernah mengeluarkan kebijakan pemecatan terhadap Anis Matta. Anis Matta adalah PKS. Dan Anis Matta adalah Garbi.

Jamaah Tarbiyah kini dilema antara PKS dan (atau) Garbi. Tidak sedikit kader yang dibuat bingung. Terkait kisruh elit tersebut. Banyak pula kader yang tak mau ambil pusing. Memilih taat saja atas kebijakan partai. Atau kebijakan jamaah.

Pertanyaannya, mungkinkah Jamaah Tarbiyah ini akan memiliki dua kendaraan politik?

Sebetulnya antara Garbi dan PKS hampir tak ada bedanya. Keduanya lahir dari rahim Tarbiyah. Hanya saja, PKS selama ini merupakan satu-satunya kendaraan politik. Yang digunakan Jamaah Tarbiyah. Untuk memperjuangkan cita-cita Islam.

Sementara, Garbi juga sama. Dilahirkan oleh tokoh-tokoh Tarbiyah. Yang dalam kelahirannya justru dicap negatif. Karena dinilai sebagai pesaing PKS.

Garbi dianggap sebagai ancaman. Padahal Garbi bukanlah partai politik. Padahal Garbi juga lahir dari rahim Tarbiyah. Tidak ada instruksi Garbi untuk tidak memilih PKS. Pada pemilu 2019 mendatang.

Di Jambi. Garbi diinisiasi pembentukannya oleh Abdul Rozaq LC. Seorang pentolan PKS. Yang dikenal sebagai ustad.

Di DPW PKS Jambi. Ustad Abdul Rozaq adalah Ketua Dewan Syariah Wilayah (DSW). DSW adalah organisasi penting di internal jamaah Tarbiyah. Tugas sentralnya sebagai tempat pengambilan keputusan. Terutama menyangkut urusan-urusan syariah.

Makanya. DSW selalu di pimpin oleh tokoh dengan pemahaman syariah yang kuat. Abdul Rozaq adalah alumnus Yaman. Menjadi rujukan bagi organisasi dan kader. Tugasnya banyak menyelesaikan masalah kader. Yang terkait pelanggaran syariah dan sebaginya.

Abdul Rozaq. Sebagai salah satu pentolan Tarbiyah di Jambi. Justru menjadi inisiator pembentukan Garbi.

Sejak awal. Abdul Rozaq memang cenderung condong terhadap narasi Anis Matta itu. Sehingga ia termasuk salah satu yang tersingkir. Atau sengaja menyingkirkan diri. Dari barisan PKS di Jambi.

Namun, sebagai pentolan Jamaah Tarbiyah. Abdul Rozaq masih tetap setia. Berada di dalam Jamaah yang berafiliasi kepada gerakan pembaharu Ikhwanul Muslimin itu. Kecintaannya terhadap Tarbiyah. Membuat Abdul Rozaq terus melakukan pembinaan.

Jamaah Tarbiyah antara PKS dan (atau) Garbi?

Boleh jadi Garbi adalah kendaraan politik Jamaah Tarbiyah selanjutnya. Jika PKS gagal lolos PT  pada Pileg 2019 mendatang.

Boleh jadi PKS masih tetap akan menjadi satu-satunya kendaraan politik Jamaah Tarbiyah. Jika PKS berhasil lolos dari ancaman PT.

Boleh jadi, PKS dan Garbi malah menjadi dua kendaraan politik Jamaah Tarbiyah. Kedepannya.

Siapa yang akan besar? Siapa yang akan berhasil memimpin negara ini?

Siapapun itu. Garbi atau PKS. Keduanya punya cita-cita yang sama. Menjadi pemimpin negara ini. Keduanya dalam sentuhan rahim yang sama. Gerakan Ikhwanul Muslimin. Dengan tokoh sentral Hasan Al Bana itu.

Pembelahan ini merupakan uji pendewasaan. Uji kapasitas. Berhasil atau tidaknya Jamaah Tarbiyah lolos dari dinamika konflik internal?.

Itu semua akan menjadi modal. Bagi terbentuknya partai modern.  Partai yang besar. Partai yang diterima masyarakat.

Untuk memimpin mereka.

Untuk memimpin negeri ini.

PKS kah atau Garbi kah? (*)

 

Penulis adalah seorang Jurnalis tinggal di Jambi. Dan Peneliti di Lembaga Riset Idea Isntitute Indonesia

Sumber Tulisan :

  • Hasil Riset Burhanudin Muhtadi dalam bukunya Dilema PKS (Suara dan Syariah).
  • Dari berbagai sumber berita di media massa.

 

News Feed