by

Jelang Ronde Pertama Debat Capres-Cawapres

Oleh Muhammad Nasir

TAK berapa lama lagi Indonesia akan menyelenggarakan pesta akbar demokrasi nasional, yakni pemilihan umum tepat pada 17 april 2019, Pemilu serentak dalam pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang pertama kali dalam sejarah Republik Indonesia, Pemilih akan diberi daulat penuh untuk menentukan pilihannya, tentang siapa yang akan mereka beri mandat untuk memimpin bangsa ini lima tahun kedepan, terkhusus pada pemilihan presiden dan wakil presiden berbeda halnya pada masa orde baru pemilihan kepemimpinan bangsa hanya “wakil” mereka di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang bisa menentukan presiden dan wakil presiden, pasca runtuhnya orde baru melalui amandemen konstitusi di era reformasi seluruh rakyat berhak bersuara untuk mengunakan hak pilihnya, sebagaimana yang tertuang dalam Pasal 1 Ayat (2) UUD NRI 1945 “Kedaulatan berada ditangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar serta diperkuat oleh Pasal 6A Ayat (1) Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden dipilih dalam satu pasangan secara langsung oleh rakyat. Situasi yang sangat terbuka hari ini memberikan ruang yang lebih luas bagi pemilih untuk menilai calon pemimpin mereka, dan calon pemimpin harus mampu meyakinkan pemilih bahwa program, visi dan misinya mampu membawa perubahan yang signifikan bagi tanah air.

Moment menarik sekaligus dinanti-nanti akan disuguhkan ke hadapan khalayak, salah satu rangkaian paling krusial dalam proses pelaksanaan pemilihan umum, secara terbuka dipentaskan ajang adu gagasan bagi calon presiden dan wakil presiden, ajang bagi calon pemimpin bangsa untuk menyampaikan dan mengemas pikirannya dengan rasional untuk peluang mendapatkan kepercayaan rakyat, yakni Debat Pilpres, tradisi yang muncul pasca reformasi yang sedikit banyak dapat memberikan pendidikan politik dan membuka kesempatan rakyat untuk lebih mengenali lebih dalam tokoh yang ikut berkompetisi dalam pilpres.

Konsumsi Intelektual Publik

Tepat pada tanggal 17 Januari 2019 debat perdana akan dilangsungkan dan disiarkan secara serentak melalui berbagai media di tanah air, dengan tema pada ronde pertama seputar Hukum, HAM, Korupsi dan Terorisme, akan menjadi sangat layak untuk menjadi konsumsi publik, untuk mengetahui dan mengukur sejauh mana penguasaan dan pemahaman kandidat seputar masalah terkait tema yang ditentukan dan bagaimana solusi yang ditawarkan melalui gagasan yang akan di paparkan oleh masing-masing pasangan calon.

Pertarungan gagasan diatas mimbar terbuka, tentunya memiliki peranan penting agar para pemilih dapat menilai siapa yang lebih layak memimpin bangsa ini dalam lima tahun mendatang. Dengan konsep ini jua rasionalitas pemilih di uji melalui mekanisme yang realistis kritis, karena era keterbukaan saat ini telah terjadi pergeseran orienstasi pemilih dalam pemilu yang mengarah pada kecenderungan rasional karena alasan kepentingan praktis pemilih.

Penetrasi Komunikasi Politik

Debat Capres-Cawapres bukan sekedar penyampaian program-program yang ditawarkan oleh masing-masing kandidat, melainkan sebagai ajang menarik simpati publik dan memperlebar propabilitas ketertipilihan calon. Harold Laswell mengungkapkan untuk memahami komunikasi setidaknya melibatkan lima unsur, Who say, What in. What Chanel To, Whom With, What Effect? dan Charles H Cooley mengungkapkan komunikasi sebagai mekanisme eksistensial manusia untuk berhubungan dengan orang lain dalam waktu dan ruang yang mereka miliki, Interaksi politik disimpulkan oleh Aristoteles sebagai interaksi yang terjadi didalam suatu kelembagaan yang dirancang untuk memecahkan masalah sosial dan menentukan serta membentuk tujuan negara, maka melalui debat dengan siaran luas media ini akan potensial menjadi komunikasi yang merangkul luas berbagai kalangan untuk tersampaikannya informasi politik dalam sebuah proses debat capres-cawapres.

Memenangkan Pemilu berarti mendapatkan suara pemilih dengan jumlah terbanyak, keputusan pemilih tergantung sejauh mana kemampuan kandidat meyakinkan pemilih, dengan aktor utama yang lawas menciptakan laga classic dengan dibumbui wajah baru orang kedua yang tentunya akan menambah cita rasa dibandingkan pemilu periode lalu, kandidat dapat tampil menunjukkan kapasitasnya dalam meyakinkan konstituen melalui penyampaikan solusi yang telah dilakukan oleh petahana (incumbent) maupun solusi-solusi lebih progresif yang akan disampaikan dan ditawarkan oleh penantang karena Debat akan jadi sangat penting untuk dalam usaha “pemasaran” ide-ide kandidat untuk meraup simpati pemilih serta mendongkrak elektabilitasnya melaui pesan persuasif bahwa ia adalah orang yang paling tepat untuk menjadi nahkoda republik ini selama kepemimpinan lima tahun kedepan.

Agar Debat Bermanfaat

Sebagai Bangsa yang telah menisbatkan jalan sebagai negara demokrasi maka perbedaan pendapat didepan publik adalah hal yang lumrah dan sangat wajar terjadi, perbedaan bukanlah alasan untuk berpecah belah namun menjadi alasan yang kuat untuk senantiasa selalu berbenah menjadi bangsa yang lebih baik kedepannya. Animo dan dukungan fanatis masyarakat yang sangat besar terhadap masing-masing kubu jangan sampai menjadi alasan untuk saling memaki ataupun melukai, jadikan momentum ini sebagai pergulatan pikiran yang semakin mendewasakan mental bangsa melalui persepsi terukur terkait jalannya demokrasi di Indonesia. Jadikan pula momentum ini untuk saling mengoreksi bukan saling membenci karena lawan berdebat adalah kawan berfikir. (***)

Penulis adalah Peneliti Muda Pusat Studi Konstitusi (PUSAKO) Fakultas Hukum Universitas Andalas

News Feed