by

PSI dan Kebaruan Politik

Oleh Nabhan Aiqani

LAYAKNYA pemain baru dari sebuah klub sepak bola, tentu setiap pendukung tidak sabar menanti aksi dari pemain baru tersebut. Pendukung dibuat bertanya-tanya tentang kemampuannya, apakah sesuai dengan ekspektasi atau justru layu sebelum berkembang. Apalagi kalau pemain tersebut berstatus pemain bintang yang diharapkan akan memberikan warna baru bagi klub, tentu ekspekstasi akan lebih besar lagi.

Begitupun halnya dengan pentas politik. Setiap ada partai baru yang muncul akan diiringi oleh harapan dan ekspektasi besar, baik dari internal partai maupun masyarakat sebagai partisipan. Kehadiran partai politik baru, paling tidak akan memberikan angin segar di masyarakat (kritis) dengan harapan akan munculnya pembaharuan dalam pola dan perilaku politik konvensional yang relatif diisi oleh wajah-wajah lama dengan tetap mempertahankan nilai-nilai dan tradisi yang acapkali tidak membawa perubahan signifikan bagi masyarakat sebagai subjek dari politik (anti status quo). Sehingga diharapkan mampu untuk meminimalisir praktik oligarki politik, penyelewengan kekuasaan (abuse of power), penggunaan instrumen SARA maupun politik transaksional dengan menawarkan prinsip meritokrasi dalam setiap tindakan politik yang diambil dan dilaksanakan oleh partai baru tersebut.

Visi Kebaruan

Tercatat pada helatan pemilu tahun 2019 nanti ada 15 partai politik yang menjadi peserta. Dari 15 parpol tersebut, ada beberapa nama baru yang muncul. Namun, menurut amatan penulis ada satu partai yang memiliki visi dan semangat yang berbeda, yaitu PSI (Partai Solidaritas Indonesia). Asumsi ini cukup beralasan, sebab partai-partai baru yang muncul relatif hanya menyodorkan program dan tokoh yang diisi oleh wajah-wajah lama dengan visi yang tidak jauh berbeda. Sedangkan, PSI memilih jalur yang cukup melawan arus (anti-mainstream), partai ini mencitrakan diri sebagai partai anak muda. Bahkan, logo partai juga mengambil pola gambar yang keluar dari pakem yang ada dan terkesan tidak kaku, yaitu bunga mawar.

Walaupun secara umum, visi PSI sebagai kekuatan politik baru yang ingin mengembalikan politik ke tempat yang terhormat terkesan klise tapi, secara semiotis yang ditampilkan dari tagline PSI, tentang kebaruan, baik dari sisi ide, gagasan, cara, sumber daya manusia dan mesin yang baru, merupakan kontruksi identitas yang ingin agar PSI memiliki garis demarkasi yang jelas dengan parpol lainnya yang masih mempertahankan tradisi-tradisi lama. Selain itu, komitmen PSI untuk melibatkan orang-orang muda profesional dalam pengurusan partai semakin mempertegas semangat untuk membangun organisasi yang modern, profesional, bersih dan transparan sesuai dengan nilai-nilai yang ideal dalam membangun masyarakat.

Praksis dari komitmen Partai Solidaritas Indonesia (PSI) untuk menvisualisasikan kebaruan dan pelibatan anak-anak muda, selain tergambar dari pengurus pusat yang diisi oleh anak-anak muda juga terlihat dari jumlah calon anggota legislatif PSI yang hampir 65% dari 575 orang calon yang terdaftar di KPU, berusia dibawah 45 tahun.

Gerakan Politik Pemuda dalam Konteks Global

Namun, bila ditarik secara meluas dan keluar dari kerangka politik domestik, sikap politik yang ditampilkan oleh PSI berkaitan erat dengan fenomena global. Disadari ataupun tidak, keberhasilan gerakan politik diberbagai belahan dunia yang digalang oleh anak muda menjadi salah satu inspirasi bagi PSI, sebut saja gerakan en marche! di Perancis, Revolusi Payung di Hongkong, kemenangan Sebastian Kurz (32 Tahun) dan Jacinda Ardern (seorang wanita 38 tahun) pada pilpres Austria dan pemilihan PM Selandia Baru, begitupun dengan aksi-aksi pada Arab Spring yang tidak bisa dilepaskan dari keterlibatan anak-anak muda. Meskipun tidak ada kontak langsung dari PSI dengan aktor gerakan politik maupun partai politik pemuda dalam lingkup internasional, tapi musim semi kegemilangan politik pemuda (youth political movement) boleh dikatakan telah sampai di Indonesia melalui PSI dengan tanpa mengenyampingkan gerakan politik pemuda lainnya.

Bahkan aktor-aktor kunci dalam internal PSI mengakui hal tersebut. Beberapa kali, Tsamara Amany (Ketua DPP Eksternal PSI) dalam tulisannya menyanjung gerakan politik Emmanuel Macron melalui kelompok en marche!, yang kemudian menjadi partai politik. Kemenangan Macron pada pilpres Perancis dengan mengalahkan tokoh dari partai konservatif- dan sangat kanan (populisme kanan)-yang digadang-gadang kuat akan menjadi presiden Perancis, Marine Le Pen, semakin mempertajam keyakinan PSI untuk mengikuti jejak serupa. Sebab, dibandingkan PSI yang telah berusia 2 tahun hingga tahun ini dan akan mengikuti pemilu pertama sebagai partai politik pada tahun 2019, en marche! hanya butuh 14 bulan untuk mengantarkan Macron ke tampuk orang nomor satu Perancis. Tentu, hal ini semakin menambah optimisme PSI sebagai partai anak muda untuk memenangkan pemilu.

Tantangan PSI

Akan tetapi patut untuk dicermati, sikap politik PSI dalam konteks politik domestik yang penuh kebaruan dan pelibatan anak muda bukan tanpa hambatan, malahan hambatan yang ada akan sangat besar ketika dihadapkan pada kondisi sosial dan budaya masyarakat Indonesia.

Pertama, keinginan PSI mengubah budaya politik (political culture) yang lama akan sangat sulit dan pastinya harus bersiap dengan banyaknya lawan yang menghadang. Perilaku pemilih di Indonesia yang masih dominan dengan pemilih tradisional akan menjadi tantangan bagi PSI. Sebab, pemilih tradisional masih menggunakan parameter nama besar, strata sosial, pengaruh, trah (jalur keturunan) dsb. akan menyulitkan PSI dengan tidak adanya nama besar yang bercokol disana. Tentu, hal ini harus menjadi perhatian lebih bagi kader-kader dan simpatisan PSI didaerah-daerah untuk mensosialisasikan program maupun aktor-aktor di PSI dalam usaha perubahan mindset masyarakat.

Kedua, sikap masyarakat dan budaya ketimuran yang masih menjunjung tinggi hirarki dan patriarki, akan menjadi batu sandungan lain bagi PSI. Orang-orang di internal PSI yang notabene bukan merupakan politisi maupun pengusaha besar bahkan terkesan pemain-pemain baru, harus siap dicibir sebagai “anak bawang.” Budaya hirarki yang selalu memandang kelompok muda tidak lebih tahu dari kelompok tua masih sangat kental dalam kehidupan masyarakat kita. Selain itu, ketua partai PSI yang notabene seorang perempuan juga menjadi titik lemah bagi PSI ditengah kuatnya budaya patriarki. Sehingga, tugas PSI akan lebih sulit dibandingkan dengan gerakan politik pemuda di berbagai belahan dunia seperti yang disebutkan sebelumnya. Namun, sudah hukumnya pula ketika ingin menantang arus, maka harus siap-siap dibuat letih dengan usaha lebih. Kalau tidak sanggup bertahan dengan komitmen tersebut, maka bersiap-siaplah akan terbawa arus juga. (***)

 

Penulis adalah Alumnus Ilmu Hubungan Internasional Universitas Andalas, Founder Kerinci Institute

News Feed