by

Pemuda Anti Hoax dan Ujaran Kebencian

Oleh Samuel Raimondo Purba, S.IP

PERKEMBANGAN dalam segala aspek kehidupan akan mendorong  negara Indonesia menuju transmisi demografi atau sering disebut sebagai bonus demografi. Bonus demografi ialah keadaan yang sangat menguntungkan, karena angka penduduk usia produktif (15-64 tahun) mengalami jumlah terbesar jika dibandingkan dengan jumlah penduduk non-produktif (di bawah 15 tahun dan diatas 65 tahun). Berdasarkan paparan Surya Chandra, anggota DPR Komisi IX, dalam seminar masalah kependudukan Indonesia di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia diperkirakan pada kurun waktu 2020-2030 Indonesia akan memasuki masa transmisi demografi, dimana pada keadaan ini jumlah penduduk produktif mencapai 70% sekitar 180 juta jiwa, sedangkan jumlah non-produktif 30% atau sekitar 60 juta jiwa.

Jumlah usia produktif mengindikasikan bahwa jumlah kalangan usia  muda sangat besar, dan keadaan ini akan dialami Indonesia beberapa tahun mendatang. Besarnya jumlah kaum muda sangat menguntungkan aspek-aspek kehidupan di Indonesia, tetapi tidak nyaris dari beberapa aspek negatif yang akan bermunculan.

Perkembangan arus globalisasi cukup menyumbang perubahan-perubahan yang signifikan terhadap keberadaan dan budaya generasi muda. Riset mendapati rata-rata orang Indonesia ternyata menghabiskan waktu berjam-jam bersama smartphone digenggaman. Kenapa dan buat apa saja? “Orang Indonesia menghabiskan waktu sampai 5,5 jam/hari dihadapan smartphone”, sebut Regional Director, Digital GFK Asia, Karthik Venkatakrishnan diacara Sosial Media Week 2016.

Rasa kebersamaan atau gotong royong menjadi barang langka bagi kaum muda-mudi saat ini. Karena esensinya, seorang milenial mampu melakukan segala hal lewat kemajuan teknologi terutama kemajuan pada aspek sosial media. Rasa sosial atau kemasyarakatan telah dikemas secara instan melalui media-media yang bergerak secara online. Tatap muka, kedekatan emosional dan peleburan jiwa kemasyarakan bukan menjadi hal yang penting saat ini. Mencari kemudahan merupakan cara terbaik yang dikejar setiap kaum muda, dengan menyampaikan  tujuannya secepat-cepatnya dengan prinsip efisiensi dan efektif.

Dampak negatif arus globalisasi dari penggunaan dan konsumsi yang tidak cerdas saat ini semakin merusak kaum milenial. Pasalnya, hoax (palsu, bohong, tidak benar) menjadi alat yang begitu efektif dalam memprovokasi kaum-kaum muda yang tidak begitu cerdas dalam mengolah informasi sehingga ujaran kebencian menjadi tumbuh dan mengakar dalam sifat dan sikap pemuda. Kini, hoax sedang menjadi ancaman serius yang tengah mengamcam masyarakat dunia dan terkhusus bagi Indonesia, baik itu ancaman secara global, nasional maupun lokal. Kemajuan globalisasi merupakan transmisi yang tidak dapat dihindarkan, tetapi ada cara yang baik dalam menanggapi kemajuan yang ada saat ini dengan sehat. Mustahil rasanya jika negara yang bercita-cita maju dalam mensejahterakan masyarakatnya tanpa memanfaatkan kemajuan dengan cerdas.

Terhitung dari awal reformasi, hampir seluruh aspek dikaitkan dengan kebebasan berpendapat atau demokrasi, tentunya hal ini menjadi sebuah kemajuan yang dialami negara. Semua memiliki hak untuk turut serta dalam segala aspek yang ada didalam negara. Tetapi, kebebasan berpendapat ini menjadi disalahartikan, kebebasan yang ada condong terhadap kebebasan yang liberal dimana dalam melakukan segala sesuatu dengan sebebas-bebasnya tanpa ada batasan, padahal negara Indonesia dalam tatanannya harus menggunakan demokrasi Pancasila.

Kebebasan tanpa batas saat ini menjadi permasalahan yang cukup serius, arti kebebasan menjadi disalahartikan. Penyebaran berita hoax menjadi patologi yang dominan saat ini, dimana akibat ulah dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab sehingga muncullah ujaran kebencian dan akhirnya menimbulkan konflik yang cukup serius, karena telah merusak tatanan kehidupan yang baik. Ketergantungan kaum muda saat ini terhadap sosial media, mengiring kepercayaan yang lebih kepada smartphone  daripada akal sehat dan kerukunan yang baik. Hal ini ditandi dari ponsel pintar menjadi kebutuhan primer bagi setiap dikalangan manapun. Padahal, kecerdasan pemuda Indonesia belum cukup matang menerima informasi yang ada.

Kecerdasan yang masih kurang dalam bersosial media pada setiap diri pemuda mampu menggiring terhadap kebiasaan yang buruk, sehingga tidak menutup kemungkinan dapat melunturkan keberagam di Indonesia. Padahal, NKRI merupakan negara yang memiliki keberagaman dengan jumlah yang besar dan patut dijaga. Salah satu keberagaman yang dimiliki negara ini ialah Adat. Adat merupakan suatu hal sakral yang patut dijaga, berasal dari nenek-nenek moyang terdahulu bangsa ini, adat dan budaya merupakan suatu yang berbeda walaupun tidak terlalu spesifik perbedaan diantara keduanya. Sejatinya, adat bisa menjadi sebuah budaya tetapi budaya tidak mampu menjadi sebuah adat, karena adatlah yang akan melahirkan kebudayaan-kebudayaan.

Adat saat ini bukan lagi menjadi barang yang disakralkan, kebohongan dimana-mana, ujaran kebencian dimunculkan seolah menganggap negara ini dibangun hanya dengan hasil kebohongan, bukan merawatnya menjadi suatu rajutan yang baik. Rasa individualis di era milenial menjadikan seseorang tertutup oleh kotak yang memisahkan perbedaan. Padahal, adat istiadat akan sangat akrab menyatukan segala perbedaan yang berkembang, karena pada dasarnya adat disuatu daerah memberikan ruang kepada seluruh masyarakat, lapisan, dan kelas-kelas tertentu, tidak memandang agama sebagai pemisah yang kuat. Dalam sebuah adat seluruh perbedaan akan dileburkan menjadi kedekatan emosional yang baik, sehingga tujuan bersama akan menjadi aspek penting.

Pemuda merupakan jembatan dalam keberhasilan negara, sebaliknya pemuda mampu merusak negara ini dengan seketika. Karena, sejatinya pemuda dalam masa transisi menuju jati dirinya masing-masing, sehingga cukup kuat untuk digiring ke hal yang positif dan negatif. Hal yang sangat efektif saat ini untuk menghindari berita hoax dan ujaran kebencian dikalangan pemuda, yaitu dengan melahirkan kembali kehangatan dari adat, karena sejatinya Indonesia merupakan negara yang beradat dan memiliki tatanan kehidupan yang ramah-tamah dalam hidup rukun. Mungkin terlihat sederhana jika menumbuhkembangkan kembali adat Indonesia, tetapi menurut saya ini merupakan hal yang real ditengah-tengah keberagaman yang sedang berkembang, sikap saling menghargai, gotong royong merupakan hal yang fundamental dalam menjalin relasi kehidupan bernegara.

Beberapa contoh konkrit yang dapat dilakukan pemuda saat ini dalam menghindari hoax dan ujaran kebencian dengan menghidupkan kembali balai adat disetiap daerah, pos kamling, forum diskusi dan komunikasi, sikap kepedulian dengan sekitar dengan jiwa gotong royong merupakan langkah konkrit yang dapat memutus rantai ujaran-ujaran kebencian. Kita ketahui bahwa, balai adat untuk ruang berdiskusi masyarakat saat ini semakin ditinggalkan menganggap kegiatan itu menjadi kesia-siaan dalam membuang waktu, karena menganggap grup disosial media sudah cukup, pos kamling yang menyatukan kerjasama dimasyarakat secara bergantian berubah menjadi pos satpam, forum diskusi berubah menjadi forum kaum kepentingan, sikap gotong royong yang menjadi budaya leluhur Indonesia berubah menjadi sikap gotong royong untuk menyerang lawan yang beda pendapat dan pemahaman dengannya. Memang jika bahas menganai hal-hal diatas seolah-olah terlihat sederhana, tetapi kegiatan tersebut mampu memberi warna akan kedekatan emosional setiap diri pemuda.

Mari kembali membangkitkan adat yang ada dari pendahulu-pendahulu kita, semua adat di Indonesia akan meleburkan seluruh perbedaan dan ego pribadi, karena rantai hoax dan ujaran kebencian layak diputus mulai dari saat ini. Menerima keberagaman yang ada, tanam rasa cinta kasih, Sebab, “Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya, dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup” (BJ. Habibie). (***)

Penulis adalah Kepala Bidang Internal Komisariat Absalom GMKI Cabang Jambi dan Putra Doloksanggul

News Feed