by

Peran Ganda Perempuan dalam Perekonomian

Sisilia Nurteta, S.ST, M.Si

Seiring dengan perkembangan zaman, fenomena perempuan bekerja merupakan hal yang lumrah terjadi. Perempuan bukan hanya mereka yang melakukan aktivitas di dalam rumah, namun juga melakukan kegiatan di luar rumah untuk bekerja dan mendapatkan penghasilan. Pekerjaan-pekerjaan yang dahulu dominan dilakukan laki-laki, sekarang ini banyak juga dilakukan perempuan. Kita mengenal istilah gender, gender dapat diartikan sebagai aspek hubungan sosial yang dikaitkan dengan diferensiasi seksual pada manusia. Gender berbeda dengan jenis kelamin, jika jenis kelamin diartikan sebagai perbedaan jenis kelamin secara biologis, maka gender diartikan sebagai konsep hubungan sosial yang membedakan (memilahkan atau memisahkan) fungsi dan peran antara perempuan dan laki-laki. Isu keseteraan gender merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam pembangunan berkelanjutan.

Sejumlah studi memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekonomi berkaitan dengan ketimpangan gender. Kesetaraan gender memiliki dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi, yang sangat erat kaitannya dengan pendidikan dan ketenagakerjaan. Perempuan dengan tingkat pendidikan yang lebih baik dapat melakukan kegiatan ekonomi yang bernilai lebih tinggi. Berdasarkan data Susenas 2017 di Provinsi Jambi terlihat bahwa jumlah perempuan yang masih bersekolah sedikit lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki. Namun terbukti masih ada kelompok penduduk yang memandang bahwa perempuan tidak perlu bersekolah terlalu tinggi, hal ini terlihat dari proporsi jumlah penduduk perempuan usia 15 tahun keatas yang tidak/belum pernah bersekolah lebih dari dua kali lipat laki-laki. Dilihat  dari  tingkat  pendidikan  maka  secara  umum, perempuan memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah dibandingkan laki-laki. Hal lain juga memperlihatkan bahwa masih terdapat banyak perempuan yang tidak punya ijazah SD, tidak pernah bersekolah atau tidak tamat SD.

Kesetaraan gender membantu meningkatkan produktivitas pekerja. Indikator akses terhadap pasar tenaga kerja merefleksikan sejauh mana sebuah negara memberikan peluang pekerjaan yang setara antara perempuan dan laki-laki. Termasuk dalam indikator akses terhadap pasar tenaga kerja, adalah Tingkat Partisipasi Angkatan  Kerja (TPAK) dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT).  TPAK mengukur  peluang  penduduk untuk mengakses pasar tenaga kerja yang ada. Sedangkan TPT menjadi indikator ketidakpaduan antara permintaan dan penawaran tenaga kerja di suatu negara.

Secara keseluruhan, TPAK Provinsi Jambi tahun 2017 sebesar 67,52 yang berarti terdapat sekitar 68 dari 100 penduduk usia kerja  yang  berpartisipasi aktif  di pasar kerja. Ditinjau dari jenis kelamin, TPAK perempuan masih jauh lebih rendah dibandingkan laki-laki. TPAK perempuan sebesar 50,28 dan laki-laki sebesar 84,00. Partisipasi angkatan kerja perempuan yang tergolong rendah ini mengindikasikan bahwa banyak perempuan yang sepenuhnya terlibat dalam kegiatan mengurus rumah tangga. Dari data BPS, Sakernas 2017, diperoleh informasi bahwa  persentase  perempuan usia  15 tahun  ke atas yang menghabiskan waktu terbanyak untuk mengurus rumah tangga sebesar 38,90 persen.

TPT  perempuan  lebih  tinggi  dibandingkan  laki-laki, yaitu sebesar 4,82 persen untuk perempuan dan 3,33 persen untuk laki-laki. Perempuan tidak bekerja dapat disebabkan faktor sosial budaya, seperti mengurus rumah tangga, sulit masuk ke sektor formal, diskriminasi pekerjaan bagi perempuan, dan budaya yang tumbuh di masyarakat tentang peran dan kedudukan perempuan. Faktor-faktor yang menyebabkan diskriminasi dalam pekerjaan antara lain marginalisasi dalam pekerjaan, kedudukan perempuan yang subordinat dalam sosial budaya, stereotip terhadap perempuan, dan tingkat pendidikan perempuan yang rendah.

Ketenagakerjaan merupakan tantangan utama pembangunan gender dalam lima tahun ke depan, dimana pemerintah terus berupaya bagaimana meningkatkan partisipasi angkatan kerja perempuan. Jumlah penduduk perempuan yang hampir sama dengan jumlah penduduk laki-laki seharusnya dapat memberikan kontribusi nyata dengan berpartisipasi aktif dalam perekonomian. Bagi perempuan yang memasuki angkatan kerja, sebagian besar bekerja di sektor pertanian dan perdagangan. Pada kedua sektor tersebut, perempuan rentan dengan status pekerja keluarga atau pekerja tidak dibayar.

Hal itu menunjukkan posisi perempuan yang lemah dalam pasar tenaga kerja, dimana terdapat ketidaksetaraan pembagian tugas dalam rumah tangga dan kesulitan beralih dari pekerjaan di dalam rumah ke pekerjaan di luar rumah. Pekerjaan yang diperuntukkan bagi laki-laki umumnya dihubungkan dengan faktor biologis, psikologis, dan sosial laki-laki, seperti identik dengan pekerjaan yang mengandalkan fisik kuat. Sementara pekerjaan yang diperuntukkan bagi perempuan identik dengan fisik lemah dan tanpa keahlian. Gambaran ini merupakan salah satu cerminan ketimpangan gender dalam mengakses pasar tenaga kerja. Sebagian besar perempuan bekerja di sektor pertanian sebagai pekerja tanpa upah atau pekerja tidak dibayar, padahal kontribusi tenaga kerja sektor pertanian adalah yang terbesar di antara sektor-sektor lainnya. Sektor pertanian menyediakan peluang kerja paling tinggi bagi perempuan, namun dengan rata-rata upah terendah dibandingkan sektor lainnya.

Kesenjangan upah antar gender juga disebabkan pandangan yang mengakar di budaya Indonesia, yaitu kaum perempuan hanya sebagai pembantu ekonomi keluarga sedangkan peran utamanya adalah pekerjaan domestik. Upah yang rendah tersebut juga ada hubungan dengan jam kerja perempuan. Kaum perempuan yang dipandang harus merawat keluarga dan anak-anaknya akan cenderung mendapatkan jam kerja yang lebih sedikit. Dari situlah, produktivitasnya pun rendah sehingga upah yang diterimapun lebih rendah daripada laki-laki. Padahal tak sedikit pekerja perempuan sebagai orangtua tunggal dan harus memenuhi kebutuhan keluarganya.

Rekonsiliasi antara mengurus keluarga dan bekerja merupakan bagian penting dalam analisis ketimpangan gender dalam ekonomi. Stereotip budaya yang tumbuh dan berkembang di masyarakat mengenai peran laki- laki sebagai pencari nafkah utama masih menjadi faktor dominan yang membatasi perempuan untuk bekerja. Perempuan diharapkan mampu berperan di semua sektor namun tetap tidak melupakan perannya dalam rumah tangga. Seorang pekerja perempuan atau wanita karir memiliki dua peran utama yang harus berjalan seimbang, yaitu bekerja dan mengurus rumah tangga. Hal ini tidaklah mudah, diperlukan dukungan penuh dari suami, keluarga dan lingkungan kerja. Pada dasarnya tidak ada kewajiban bagi perempuan untuk bekerja di luar rumah, namun karena bermacam alasan mengharuskan perempuan bekerja di luar rumah. Ketika seorang perempuan memutuskan untuk bekerja, bila belum memiliki anak, maka yang menjadi fokus rutinitasnya adalah mengurus suami dan pekerjaan. Namun, pekerjaan wanita akan bertambah jika perempuan tersebut memiliki anak.

Salah satu upaya meminimalkan terjadinya konflik antara pekerjaan dan keluarga adalah dengan menyeimbangkan antara aktivitas pekerjaan dan aktivitas dalam keluarga. Bagaimanapun dengan bekerja akan selalu ada konflik, tetapi setidaknya tetap mengupayakan adanya kepuasan dalam lingkungan kerja dan keluarga dengan konflik yang minimal, sehingga tercapai keseimbangan antara kerja dan keluarga. Meskipun  telah banyak kebijakan dan peraturan, diskriminasi antar gender masih terjadi di pasar tenaga kerja. Hal tersebut dikarenakan implementasinya yang belum optimal. Penghapusan diskriminasi gender dalam ekonomi tidak hanya menjadi peran pemerintah tetapi juga membutuhkan peran pihak terkait seperti pengusaha, lingkungan kerja, keluarga, dan masyarakat. (***)

Penulis adalah Seorang Fungsional Statistisi Ahli Madya

News Feed