by

Suap PLTU Riau-1, Idrus Marham dan PLTU Jambi-1

Dirut PLN dan Petinggi Golkar Terseret

Praktek suap dibalik proyek pembangunan PLTU Riau-1 menjadi titik awal bagi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI untuk mengusut semua proyek pembangkit listrik berdaya 35.000 MW yang tersebar di beberapa wilayah di Indonesia itu. Di Jambi, jejak proyek 35.000 MW ini adalah Proyek Listrik PLTU Jambi-1 yang berlokasi di Sarolangun. Kemudian ada pula proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Merangin yang berkapasitas 350 MW. Akankah kasus suap PLTU Riau-1 ini bakal melebar ke Jambi?

BACA JUGA: KPK Geledah Kantor Indonesia Power

————————-

Ara Permana Putra

JAKARTA

————————-

Proyek listrik PLTU Riau-1 ada hubungannya dengan proyek listrik PLTU Jambi-1. Kedua proyek tersebut adalah sama-sama merupakan bagian dari proyek listrik 35.000 MW. Proyek 35.000 MW ini adalah program pemerintahan Jokowi untuk membangun pembangkit listrik mencapai kapasitas 35.000 MW dalam jangka waktu 5 tahun (2014-2019). Proyek ini menelan dana lebih dari Rp 1.127 Triliun. PLN membangun 10.000 MW dan sisanya 25.000 MW ditawarkan ke pihak swasta dan Independent Power Producer (IPP).

Sejak Minggu kemarin, Proyek PLTU ini mulai ramai di bincangkan. Itu menyusul KPK berhasil membongkar persekongkolan dan praktek suap dibalik penandatangan proyek PLTU Riau-1. Untuk diketahui, Eni Saragih, Politisi Golkar menerim suap dari Johanes, Bos Blackgolad sebanyak Rp 4,8 M secara bertahap untuk memuluskan proses penandatanganan kerjasama terkait proyek PLTU Riau-1.

Adakah hubungannya dengan PLTU Jambi-1 yang berlokasi di Kecamatan, Mandiangin, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi ini?

Dari data yang berhasil dihimpun Jambi Link, Selain berbentuk PLTU, proyek listrik 35.000 MW ini juga berwujud dalam bentuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG), Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG), Pembangkit Listrik Tenaga Bayu/Angin (PLTB), Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU), Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTM).

Di Provinsi Jambi, ada satu lagi proyek listrik yang merupakan bagian dari proyek 35.000 MW, yaitu PLTA Merangin, yang kapasitasnya mencapai 350 MW.

Dari data yang diperoleh Jambi Link, Proyek Listrik PLTU Jambi-1 senilai Rp 13 Triliun ini sudah groundbreaking yang berlokasi di Kecamatan Mandiangin, Kabupaten Sarolangun, awal Februari 2018 lalu. Pemancangan tiang pertama proyek tersebut di hadiri oleh Bupati Sarolangun, Cek Endra.

Kemudian berlanjut ke proyek PLTA Merangin yang berkapasitas 350 MW. Proyek ini berlokasi di Merangin yang bupatinya adalah Al Haris.

Cek Endra dan Al Haris adalah dua kepala daerah di Jambi yang mendapat proyek listrik bagian dari 35.000 MW ini. Secara kebetulan, proyek ini berada di wilayah mereka. Dan secara kebetulan pula, keduanya merupakan politisi Golkar. Sebagaimana diketahui, Cek Endra adalah Ketua DPD II Golkar Kabupaten Sarolangun. Sementara Al Haris adalah politisi Golkar dan kini di gadang sebagai Ketua Golkar Merangin. Saat Pilkada serentak 2018 lalu, Al Haris maju Pilkada dengan dukungan dari Partai Golkar.

Begitupula dengan Proyek Riau-1 yang kini terbelit kasus suap di KPK itu. Lokasi proyek PLTU Riau-1 direncanakan berada di Kabupaten Indragiri Hulu, tepatnya di daerah Peranap. Entah apa karena kebetulan saja, Bupati Indragiri Hulu saat ini adalah seorang Politisi Golkar bernama Yopi Arianto. Pada bulan Mei 2018 lalu, Yopi Arianto baru saja terpilih secara aklamasi sebagai Ketua DPD II Golkar Indragiri Hulu.

Baik Al Haris dengan PLTA 350 MW, CE dengan PLTU Jambi-1 kapasitas 2x 300 MW dan Yopi Arianto dengan PLTU Riau-1 punya kesamaan, yaitu sama-sama Bupati yang berlatar belakang politisi Golkar. Sementara, di KPK Kasus ini bakal menyeret Dirut PLN dan oknum elit Golkar.

Berdasarkan kasus PLTU Riau-1, KPK menemukan adanya praktek suap yang melibatkan anggota Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih dan Johanes B Kotjo, Bos PT Blackgold Natural Resources Limited. Eni—sapaan Eni Maulani Saragih—adalah politisi Golkar yang dikenal sangat dekat dengan mantan Ketua Umum Golkar sekaligus Ketua DPR RI, Setya Novanto.

Eni adalah termasuk salah satu orang kepercayaan Setya Novanto di Golkar. Saat ditangkap KPK, Eni tengah berada dirumah koleganya yang seorang Menteri, Idrus Marham, yang juga merupakan politisi partai Golkar.

Lalu siapa sosok Johanes, bos Blackgoald tersebut? Apa hubungannya dengan Eni Saragih dan Golkar?

Bos Blackgoald, Johanes punya rekam jejak sebagai pengusaha yang dekat dengan sejumlah politisi di senayan, terutama politisi dari partai Golkar. Selain itu, Bos Blackgoald ini juga dikenal sebagai teman dekat Reza, anak kandung Setya Novanto, politisi Golkar yang terjerat kasus korupsi E—KTP. Blackgoald adalah perusahaan yang berkantor di Singapura dan akan mengerjakan proyek PLTU Riau-1.

Versi KPK, Untuk memuluskan proyek tersebut, Bos Blackgoald menyuap Eni, politisi dan orang yang pernah menjadi kepercayaan Setnov itu.

Wakil Ketua KPK Saut Situmorang mengatakan, pihaknya telah melakukan penggeledahan di rumah Dirut PLN Sofyan Basir. Dari situ banyak dokumen yang didapat KPK, terutama menyangkut proyek 35.000 MW se Indonesia, termasuk pula PLTU Jambi. saat ditanya mengenai hasil penggeledahan, Saut mengaku masih menunggu laporan dari penyidik. Namun yang jelas, kata dia, dalam penggeledahan tersebut ada barang bukti yang bisa untuk ditindak lanjuti oleh penyidik.

Akankah kasus Riau-1 akan merembet ke Jambi?

Saut memperkirakan, pengungkapan kasus suap tersebut akan berlangsung lama. Sebab, banyak hal yang harus dipelajari dalam kasus mega proyek 35.000 MW ini, termasuk merembet ke daerah lain, seperti Jambi.

“Ini jalan panjang. Yang menurut saya ada reli panjang yang harus kita pelajari. Mudah-mudahan bisa terbuka terus bisa lebih cepat,”ujarnya.

Lalu bagaimana dengan PLTU Jambi-1? Siapa saja yang terlibat di dalam proyek listrik ini?

Sebagaimana diketahui, PLTU Jambi-1 di kerjakan oleh perusahan konsorsium yaitu PT Jambi Power. Data yang diperoleh Jambi Link, PT Jambi Power merupakan perusahaan gabungan dari beberapa perusahaan seperti Power Indonesia (PLN), PT Sumber Segara Primadya (SSP) dan lain sebagainya.

Direktur PT Jambi Power adalah Ahmad Ilham Rasyid. Dia adalah pengusaha yang banyak menggeluti bidang energy. Ahmad Ilham Rasyid pernah tercatat sebagai Vice President Director PT Bosowa Energi. Kemudian, dia juga tercatat sebagai Dirut PT SSP.

Artinya, meski PT Jambi Power merupakan perusahaan konsorsium, namun beberapa perusahaan tersebut ada hubungan dengan Ahmad Ilham Rasyid. Sebab dia tercata sebagai bos di perusahaan-perusahaan itu.

Untuk menggerakkan PLTU, PT Jambi Power menggunakan bahan bakar Batubara yang akan dipasok dari PT Surya Global Makmur (SGM).  Surya Global merupakan perusahaan tambang yang telah memiliki izin usaha pertambangan (IUP) batubara. Luas lahan konsesi tambang yang dimiliki Surya Global mencapai 2.600 hektare (ha). Lokasinya di Sarolangun, Provinsi Jambi. salah satu pemilik saham terbesar Surya Global adalah Fahmi, seorang politisi Golkar.

Surya Golbal juga tercatat sebagai perusahaan batubara satu grup dengan PT Jambi Prima Coal. Kedua perusahaan ini bergabung dibawah bendera PT Renuka Coalindo Tbk (SQMI) .

Presiden Direktur PT SGM adalah Hari Asmar. Bupati Sarolangun Cek Endra diketahui sebagai teman dekat Fahmi dan Hari Asmar. Di Jambi, PT SGM berkantor di daerah Telanaipura, dekat kediaman Pribadi Cek Endra.

Juru Bicara KPK Febridiansyah mengatakan KPK memang tengah serius mengusut semua proyek yang terkait dengan proyek listrik 35.000 MW, termasuk salah satunya di Jambi.

“Riau-1 adalah salah satu bagian dari proyek 35.000 megawatt,”singkatnya.

Seperti sudah dijelaskan, PLTU Jambi-1 di Sarolangun dan PLTA Merangin merupakan bagian dari proyek 35.000 megawatt.

“Untuk saat ini kita masih focus pada Riau-1,”katanya.

Program 35.000 MW ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat Indonesia yang terus meningkat. Dengan Proyek itu dapat menghindarkan Indonesia dari krisis listrik.

Dengan proyek tersebut dapat menghindarkan Indonesia dari krisis listrik. Untuk membangun pembangkit listrik 35000 MW dibutuhkan dana lebih dari Rp. 1.127 triliun. PLN akan membangun 10.000 MW dan sisanya 25.000 MW ditawarkan ke pihak swasta dan Independent Power Producer (IPP).

Proyek Listrik 35000 MW (Daftar Pembangkit Listrik 35000 MW) Pembangkit listrik 35000 MW dibangun di berbagai wilayah Indonesia dari wilayah Indonesia barat sampai Indonesia timur. (awn)

News Feed