by

Jambi Link Terpilih Ikut Program Investigasi Bersama Tempo 2018

JAKARTA-Tempo menggelar program Investigasi Bersama Tempo (IBT) 2018. Dari 125 proposal yang masuk ke Tempo dan dari puluhan media se Indonesia yang ikut seleksi, Tempo hanya memilih 22 peserta saja untuk ikut dalam program tersebut. Jambi Link termasuk satu-satunya yang terpilih dari Jambi untuk mengikuti program investigasi bersama Tempo 2018 ini.

Ramidi, koordinator Program IBT 2018 menjelaskan, proses penjaringan peserta yang ikut program IBT 2018 sangat ketat. Sebab, tim seleksi proposal terdiri dari Tempo Institute, Redaksi Tempo, ICW, Centre of Energy Research Asia dan lain sebagainya.

“Seleksi dilakukan sejak 1 April 2018 hingga 25 Juni 2018. Dari 125 proposal yang masuk, tim seleksi menetapkan 22 orang yang dinilai layak,”jelasnya.

Menurut Ramidi, 22 orang yang terpilih ini akan mengikuti kegiatan pelatihan Investigasi selama 10 hari dari tanggal 11 sampai 21 Juli 2018 di Jakarta.

“Pelatihan berlangsung di kantor Tempo. Peserta juga akan berkesempatan masuk dapur Tempo, belajar cara menulis dan berdiskusi dengan tim redaksi Tempo,”ujarnya.

Untuk peserta yang mengikuti kegiatan ini, semua biaya ditanggung penuh oleh Tempo.

Berikut 22 Nama yang terpilih mengikuti kegiatan Pelatihan Investigasi bersama Tempo selama 10 hari di Jakarta :

  1. Friska Oktaviani Kalla
  2. Imanuel Lodja
  3. Nur Hadi
  4. Avit Hidayat
  5. Prawira Maulana
  6. David Sobolim
  7. Asmawirana Putri
  8. Truly Okto H. Purba/Arjuna Bakkara
  9. Erwin Widyaswara
  10. Muawwin
  11. Made Argawa
  12. I Komang Roby Patria/Ni Putu Eka Wiratmini
  13. Nasrullah
  14. Ahmad Supardi
  15. Zaki Amali
  16. Kristo Embu/ Abdul Muis
  17. Fredrikus Royanto Bau
  18. Liza Indriyani
  19. Tommy Apriando
  20. Jamal Abdul Nashir
  21. Dian Nafi
  22. Luh De Suriani

 

PROGRAM INVESTIGASI BERSAMA TEMPO

Hampir selalu diyakini bahwa liputan investigasi merupakan kemewahan di negara-negara tanpa demokrasi, atau di kawasan yang nihil atau lemah sistem checks and balances-nya. Fenomena yang muncul di Amerika Serikat di masa Presiden Donald Trump membuyarkan ilusi ini dan menunjukkan betapa tantangan untuk melakukan liputan itu sama besarnya.

Di negara-negara yang lemah sistem pengawasannya terhadap kekuasaan, jurnalis atau wartawan bisa saja melakukan liputan investigasi dan laporannya mungkin diterbitkan–kalau masih ada media independen. Tapi ikhtiar itu sangat boleh jadi bagaikan teriakan di tengah badai dan jurnalisnya pun bahkan menghadapi risiko dipenjara atau yang lebih buruk lagi. Di Amerika, akhir-akhir ini, kecenderungan perilaku otoritarian presidennya, yang didukung basis dan sentimen politik yang kuat, menjadikan liputan investigasi sama muskilnya.

Apa yang terjadi di Amerika bisa dan, hingga batas tertentu, berlaku pula di Indonesia–yang belum kukuh berdemokrasi. Tapi seperti di sana, juga negara-negara lain itu, tak ada kondisi apa pun yang bisa menghalangi dan menafikan pentingnya liputan investigasi.

Kebutuhan untuk itu malah bertambah besar bila diingat bagaimana media sosial hari-hari ini ikut berperan mendistorsikan fungsi media. Alih-alih menyediakan informasi yang memang dibutuhkan demi terselenggaranya pemerintahan yang transparan, dijunjung tingginya hukum yang tanpa pandang bulu, dihormatinya perbedaan dan hak minoritas, dan secara umum terwujudnya kehidupan bernegara yang lebih baik, media sosial malah menjauhkan tujuan-tujuan ideal itu.

Tentu saja diperlukan kemampuan yang lebih dari sekadar pekerjaan jurnalis biasa untuk bisa menjalankan liputan investigasi. Pelatihan yang dirancang dengan baik, diselenggarakan dan diampu oleh lembaga yang ahli dan bereputasi bagus, bisa diandalkan untuk mengasah kemampuan dan meningkatkan kapasitas jurnalis dalam menguasai liputan investigasi. Aksesnya pun tak selalu sulit. Misalnya melalui Program Investigasi Bersama Tempo, sebuah beasiswa (fellowship) dari Tempo Institute, yang tahun ini merupakan penyelenggaraan ketiga kalinya.

Program Investigasi Bersama Tempo adalah investigasi bersama antara peserta beasiswa dan redaksi Tempo. Peserta, yang terdiri atas jurnalis dari berbagai media, akan memperoleh bimbingan dan mentoring dari jurnalis Tempo yang memiliki keahlian dalam liputan investigasi.

Program ini, selain untuk menghasilkan liputan investigasi, bertujuan menularkan semangat kerja investigasi ke media-media lain dan meningkatkan kapasitas jurnalis di daerah. Dengan program ini diharapkan dapat disebarkan dan disuburkan praktek jurnalisme yang baik. Diharapkan pula, dalam jangka panjang, tradisi liputan investigasi dapat menjadi kekuatan yang bisa mendorong transparansi dan good governance di berbagai bidang yang menyangkut kepentingan publik.

Diinisiasi oleh Tempo Institute bersama Free Press Unlimited, program ini pertama kali diselenggarakan pada 2016. Dua tahun sejak itu Tempo Institute memperoleh dukungan pula dari Centre for Energy Research Asia serta sejumlah lembaga lain seperti Aliansi Jurnalis IndependenIndonesia Corruption Watch, Auriga, dan Migran Care.(*)

 

News Feed