by

Satire dan Mimpi Kepemimpinan

DARI Abu Hurairah r.a, Rasulullah SAW., bersabda: “Kalau amanah tidak lagi dipegang teguh, maka tunggulah saat kehancuran.” Ia bertanya: “Bagaimana orang tidak memegang teguh amanah itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Kalau suatu urusan telah diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya maka tunggulah saat kehancurannya,” (HR. Bukhari).

Hadis diatas memberikan gambaran yang sangat tegas kepada kita semua, tentang pentingnya suatu pekerjaan itu diserahkan kepada orang yang memiliki keahlian kepada pekerjaan itu. Hal ini sudah sewajarnya, suatu pekerjaan akan berjalan dengan baik dan sukses apabila pekerjaan tersebut dikerjakan oleh ahlinya. Akan berantakan jika dikerjakan oleh orang yang bukan ahlinya. Profesionalisme kerja merupakan salah satu dari ajaran-ajaran Islam yang telah dicontohkan oleh Rasulullah. Istilah professional secara umum dapat diartikan sebagai bentuk melakukan sebuah pekerjaan secara total dan menurut aturan-aturan yang berlaku. Professional dalam kerja merupakan hal yang sangat dituntut dalam upaya membawa sebuah lembaga atau organisasi baik negeri maupun swasta mencapai tujuan yang telah digariskan. Dalam Islam salah satu bentuk professional kerja yang dicontohkan oleh Rasulullah pada saat perang Uhud. Kemenangan pada awalnya menjadi milik kaum muslimin. Karena harta, kondisi semula menjadi terbalik, kaum musyrikin berhasil mengepung barisan kaum muslimin. Peristiwa ini merupakan sebuah pelajaran dan pengalaman yang sangat pahit bagi umat Islam karena mereka melalaikan amanah yang diberikan Rasulullah dan tidak professional dalam bekerja akibat terpengaruh godaan harta.

Salah satu aspek penting dalam kehidupan dan penghidupan komunitas manusia tertentu adalah masalah kepercayaan atau keagamaan yang mereka anut. Kepercayaan atau keagamaan yang mereka yakini sesungguhnya merupakan sarana untuk menciptakan kedamaian, ketenangan, kepedulian, keharmonisan dan lain sebagainya, dalam rangka terwujudnya kehidupan yang layak dan sejahtera bagi manusia yang bersangkutan. Ajaran keagamaan selalu mengandung konsep-konsep tentang kebenaran yang menjadi pedoman hidup bagi penganutnya. Ketaatan keagamaan yang mereka anut senantiasa kehidupannya penuh dengan kestabilan, kedamaian dan kebahagiaan yang ditandai dalam pergaulan dimana interaksi dan reaksinya disinari nilai-nilai kejujuran. Pemaknaan kejujuran dalam keagamaan merupakan keutamaan dalam rangka menciptakan kestabilan, kedamaian dan kebahagian melalui suatu tindakan baik yang berkaitan dengan interaksi dan reaksi sesama manusia maupun dengan lingkungan sekitarnya. Gagasan yang terkandung dalam ajaran keagamaan merupakan titik tolak untuk melakukan suatu tindakan terhadap sesama manusia, lingkungan sekitarnya dan ciptaan Tuhan lainnya. Dengan gagasan keagamaan ini dapat mencakup seluruh sudut pandang yang tidak tergoyahkan dengan pengaruh atau rayuan bagaimana pun bentuknya untuk memperoleh sesuatu dengan mudah, walaupun bukan haknya dan tidak perlu memeras keringat untuk mendapatkannya, sehingga seluruh aspek yang dapat memenuhi kebutuhannya tercapai.

The wrong man on the right place menurut penulis adalah, ya..seperti orang dengan jabatan yang baik, misalnya direktur atau pimpinan yang tidak memiliki kompetensi untuk melakukan pekerjaan atau menduduki jabatan tersebut. Ini akan berakibat fatal seperti sabda Rasulullah diatas, dalam kondisi seperti itu akan terjadi pertentangan antara keinginan atau kebutuhan atau dengan kata lain terjadi pertentangan (konflik) antara kebutuhan batin dengan kebutuhan fisik. Pada keadaan yang lebih makro, konflik dapat terjadi antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya, karena perebutan faktor pemuas kehidupan yang sangat terbatas dan memperolehnya memerlukan teknik dan metode tertentu, baik sesuai norma-norma maupun yang bertentangan dengan norma-norma yang berlaku pada mereka. Budaya tersebut mengidentifikasikan ketidak professionalan kerja yang dilakukan oleh individu sebagai makhluk ciptaan Allah yang seharusnya menempatkan dan melakukan segala sesuatunya sesuai dengan aturan dan petunjuk pelaksanaan. Sehingga terjadilah ketidak adilan, dimana orang-orang yang memenuhi syarat terzhalimi dan orang yang seharusnya pantas memegang amanah pekerjaan dan jabatan, tersingkirkan oleh orang-orang yang bermuka dua (multiface) yang mencari zona nyaman demi kepentingan dan tujuan pribadi.

Lalu, apa yang bisa diharapkan dari bentuk tidak profesionalnya individu yang berkuasa? Mengapa ke-empat karakter (sidiq, amanah, fatonah, tabliqh) yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah tidak mampu diterapkan untuk meningkatkan professional kerja? Ini menjadi tanggungjawab para individu yang berkuasa dalam menjalankan roda-roda kekuasaannya. Ajaran agama dan nilai moral seolah tidak lagi mempan membendung ketidakprofesionalan seseorang yang memegang tampuk pimpinan sehingga muncul perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan oleh agama seperti menzholimi pekerjanya dengan cara memberikan upah yang tidak sesuai dengan standar hidup normal individu, membuat aturan-aturan yang sepihak tanpa berpedoman pada aturan-aturan hukum diatasnya (perundang-undangan), mengekang kebebasan individu dalam menyampaikan pendapat, kritik dan saran,  dan sebagainya.

Nasehat agama dan para tokoh agama seolah kehilangan wibawa begitu juga dengan moral dan ritual ibadah seperti mandul yang tidak  memberi pengaruh pada perilaku keseharian individu sebagai pemimpin. Seharusnya setiap ibadah mampu merubah perilaku lebih bagus dan mental lebih baik sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla tentang shalat, “ Sesungguhnya shalat itu mampu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar.” (Al-Ankabut 29:45). Namun catatan tindakan amoral dan tidak manusiawi semakin hari tidak berkurang. Hal ini disebabkan adalah nilai-nilai keimanan melemah, peluang melakukan tindakan amoral dan tidak manusiawi semakin terbuka lebar dimana lingkungan yang mendukung seperti teknologi, dan adanya orang-orang yang multiface, Jadi, benar apa yang dikatakan Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah bahwa barang siapa yang shalatnya tidak bisa mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar maka shalatnya tidak bisa disebut shalat bahkan akan menjadi bumerang bagi pelakunya. (***)

Penulis adalah Seorang Dosen Luar Biasa Fakultas Syariah UIN STS JAMBI

News Feed