by

Periksa Keaslian Foto dengan Tiga Alat Verifikasi Ini

Anda bisa menjadi bagian dari masalah “berita palsu”, atau Anda bisa menjadi bagian dari solusi – Raymond Joseph –

 

Isu tentang “adanya tujuh kontainer surat suara yang tercoblos di Pelabuhan Tanjung Priok” mengawali kegaduhan politik di tahun 2019. Komisi Pemilihan Umum RI bergegas menuju Tanjung Priok pada Rabu, 2 Januari 2019 dan memastikan kabar tersebut bohong belaka.

Sebelum KPU bergerak, politisi Partai Demokrat Andi Arief sudah menyampaikan kabar surat suara tercoblos dengan kalimat yang meminta konfirmasi lewat akun twitternya. Cuitan itu dijadikan sejumlah media daring sebagai sumber informasi tanpa lebih dulu mencari tahu kebenaran informasi yang disampaikan.

Selain di Twitter dan Whatsapp, informasi itu juga tersebar luas di di Facebook lengkap dengan foto dan narasi bombastis. Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) pernah mencatat pada September 2018, konten hoaks paling banyak berkaitan dengan isu politik menggunakan foto disertai narasi dan saluran penyebar hoaks terbanyak adalah Facebook.

Untuk itu penting menguasai cara membuktikan keaslian foto yang kita terima di media sosial. Menurut Raymond Joseph, jurnalis lepas sekaligus pelatih verifikasi konten media sosial, dengan meningkatkan kesadaran berita palsu, orang akan lebih berhati-hati sebelum membagikannya.

Dalam tulisannya 3 Quick Ways to Verify Images On a Smartphone di laman Global Investigative Journalism Network, ia merekomendasikan tiga perangkat lunak yang bisa digunakan dengan telepon genggam untuk memverifikasi gambar, yaitu:

TinEye

TinEye adalah alat untuk menelusuri gambar. Penelusuran gambar memungkinkan kita menemukan situs mana yang telah memuat gambar serupa secara online. TinEye menemukan berdasarkan pilihan foto paling berubah, terlama, dan terbaru.

Cara menelusuri sebuah foto dengan TinEye dengan terlebih dulu menyimpan atau mengunduh foto yang ingin diverifikasi. Tekan lama pada gambar di layar hingga pilihan “simpan” muncul. Bisa juga menyimpan tautan gambar yang ingin diverifikasi (tautan langsung foto, bukan tautan seluruh laman).

Selanjutnya buka www.tineye.com di mesin pencarian, pilih “upload image” dan gunakan foto atau tautan yang sudah tersimpan di ponsel.

Contohnya, menggunakan TinEye, kita bisa mengetahui informasi foto Jokowidodo menggunakan kaos putih bertuliskan #GantiPresiden2019 yang muncul April 2018 lalu adalah manipulasi. Kita juga bisa menemukan foto aslinya diterbitkan Tempo.co dengan judul Gaya Santai Jokowi dan Kaesang saat Jalan-jalan ke Malioboro yang terbit pada 31 Desember 2017 lalu.

Atau contoh lain foto mantan Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma diduga menari dengan penyanyi berusia dua puluhan, Babes Wodumo, muncul di media sosial pada tahun 2016. Warga Afrika Selatan membagikannya secara luas. Kenyataanya gambar tersebut hasil olahan perangkat lunak untuk mengubah gambar dengan menggabungkan dua gambar berbeda.

Google Image Search

Ketika melakukan pencarian gambar, hal utama yang penting diperhatikan adalah kapan gambar pertama kali digunakan, lokasi dan kapan peristiwa yang digambarkan terjadi. Hal ini juga penting memastikan apakah sumber gambar kredibel.

Joseph pernah menemukan gambar asli dengan keterangan palsu yang beredar di Facebook. Keterangan foto mengklaim seorang pria menembak seorang wanita karena memanggilnya “monyet hitam,” dan pengguna media sosial percaya. Joseph mencari tahu kebenaran gambar lewat aplikasi pencarian gambar. Foto tersebut asli, kecuali keterangannya yang telah diubah. Keterangan sebenarnya adalah perempuan tersebut korban tabrakan di jembatan Westminster, London.

Apabila Google Chrome merupakan mesin pencari otomatis di ponselmu, maka cara menggunakannya cukup dengan menekan lama pada foto yang ingin dicari tahu kebenarannya hingga muncul pilihan “search Google for this image”. Atau gunakan situs https://images.google.com/ , tekan logo kamera dan unggah foto yang telah kamu simpan di ponselmu. Sejumlah situs yang pernah memuat gambar tersebut akan muncul.

Fake Image Detector

Fake Image Detector memungkinkan mengidentifikasi gambar yang diubah menggunakan perangkat lunak manipulasi gambar seperti Adobe Photoshop, Gimp, dll. Kita bisa mengidentifikasi bagian gambar mana yang dipalsukan atau dimodifikasi. Dua metode yang digunakan untuk mengungkap kebenaran tersembunyi di dalam gambar yakni Error Level Analisis/ELA (analisi tingkat kesalahan) dan analisis meta data.

Prinsip analisis tingkat kesalahan, ketika gambar diubah atau dirusak maka rasio kompresi bagian yang dimodifikasi akan berubah bila dibandingkan dengan bagian lain. Dalam format gambar JPEG, seluruh gambar harus berada pada level yang sama. Jika bagian gambar memiliki level berbeda, maka itu kemungkinan menunjukkan modifikasi digital.

Tepi gambar harus memiliki kecerahan yang sama serta tekstur harus memiliki pewarnaan yang sama. Terlepas dari warna permukaan yang sebenarnya, semua permukaan datar harus memiliki pewarnaan yang sama. Lebih dalam mengenai analis ELA ada di tautan https://fotoforensics.com/.

Cara menggunakan aplikasi Fake Image Detector dengan terlebih dahulu menginstal aplikasi di ponsel. Kemudian akan muncul dua pilihan “Choose from gallery” atau “Choose from recent image”. Tekan pilihan Explore Image untuk melakukan analisis tingkat kesalahan. (Debora Blandina Sinambela)

News Feed