by

Saat Rajo Pamuk Umrohkan 24 Keluarganya

TIDAK mudah meyakinkan orang. Apalagi orang asing. Orang yang tak dikenal sama sekali. Apalagi menyangkut investasi? Apalagi dalam jumlah besar?. Aris Adhianto cuma punya modal kepercayaan. Untuk bisa merintis perusahaan raksasa kayu kelas dunia itu. Yang bernama WKS itu. Bayangkan, WKS sudah nanam kayu akasia sejak tahun 1988. Sementara pabrik kayu baru selesai dibangun tahun 1992. Artinya, Nanam dulu baru bangun pabrik. Suatu hal yang mustahil di era sekarang.

“Tapi orang bisa percaya,”ujar Aris Adhianto.

BACA JUGA: AJB vs Sukandar

Kepercayaan itulah yang jadi modal utama. Sehingga ia bisa menanam kayu HTI. Tanpa harus membuat pabrik dulu. Padahal, harusnya dia bangun pabrik dulu. Baru bisa nanam. Ini terbalik.

Pak Aris mengatakan, untuk membangun kepercayaan itu tidak mudah. Penuh tantangan. Perlu pengalaman. Perlu teknik. Perlu kecerdasan. Menurutnya, kepercayaan itu dibangun atas kejujuran.

“Bayangkan, saya nanam dulu baru buat pabrik. Orang bisa percaya. Itu luar biasa,”ujarnya.

Pak Aris ingat betul. Perjuangan membangun WKS itu. Mulai dari nol. Belum memiliki aset apapun. Ia tak pernah menyangka kini WKS bisa menjadi raksasa. Menjadi perusahaan kayu kelas dunia.

Berawal dari sebuah kamar di hotel Abadi. Kawasan Pasar Jambi. Disitulah ia mengontrol perusahaan. Kamar Hotel yang dijadikan kantor. Sehari-hari pak Aris berkantor di Hotel Abadi itu.

WKS memang tak punya kantor. Seperti perusahaan-perusahaan besar lainnya. Tapi, lahan yang dikelola besarnya minta ampun. 200 ribu hektar. Yang dikontrol cuma dari kamar Hotel itu.

“Saya jalan di pasar. Orang gak tau saya kerja dimana,”ujarnya terkekeh.

Menurut Pak Aris, waktu itu Hotel Abadi merupakan satu-satunya hotel bagus. Juga super ketat. Anak perempuan tanpa ikatan sah tidak boleh masuk hotel. Begitu steril dan nyaman. Itulah yang membuat dia memilih Abadi. Yang disewa sebagai kantor. Agar tamu yang menemuinya ikut nyaman.

“Kalau Bupati atau para pejabat nginap di hotel Abadi, ibu-ibunya tenang. Tidak perlu khawatir. Hehehe,”ceritanya.

Dalam kondisi itulah, pak Aris menjalani aktivitasnya. Mengontrol perusahaan dari kamar hotel. Di Abadi itu. Hampir tiap hari pak Aris menerima tamu di sana. Tamunya pun beragam. Mulai dari aktifis, tokoh, pejabat maupun Bupati.

“Udah lama saya berkantor di abadi. Mulai dari bangunan Ruko. Sampai Abadi bangun 4 lantai dengan modal Rp 920 juta. Yang sama nilainya dengan biaya pasang pagar untuk 1.200 hektar HTI,”jelasnya.

Pak Aris juga punya kantor di Kementerian Kehutanan. Menurutnya, saat itu ada ketentuan dari Menteri. Semua perusahaan bidang kehutanan wajib punya kantor perwakilan. Di Kementerian Kehutanan itu.

“Karena diwajibkan, maka kita buat kantor disitu,”katanya.

Ditangan Pak Aris WKS berkembang pesat. WKS terus memperluas areal tanam. Sampai terganjal oleh aturan. Saat itu pemerintah membatasi luasan areal HTI. Tapi dia tetap mencari cara. Bagaimana luas areal terus bertambah. Agar pendapatan juga bertambah. Dengan begitu, WKS bisa menjadi raksasa dunia. Begitu pikirnya.

“Saya lalu bangun sistem kemitraan dengan masyarakat. Kami yang tanam, nanti panen bagi hasil,”katanya.

Itulah sebabnya, sampai saat ini WKS bisa mengelola areal mencapai 1 juta hektar. Itu karena sistem kemitraan yang dibangun dengan masyarakat. Pak Aris lah pionirnya.

Rajo Pamuk bahagianya minta ampun. Tidak pernah dia merasa sebahagia itu. Gara-gara ketiban rezeki nomplok. Langsung memberangkatkan 24 orang keluarganya umroh. Istri dan anak-anaknya juga di boyong ke tanah suci Mekkah. Ini ulah pak Aris. Yang mengajarinya bisnis kayu itu. Dengan sistem kemitraan itu.

Ceritanya begini. Waktu itu Rajo Pamuk mau nanam sawit. Di lahannya seluas 500 hektar. Beruntung, Rajo Pamuk bertemu pak Aris. Rajo Pamuk adalah Ketua Lembaga Adat Jambi. Dia dan pak Aris sering bertemu. Sudah menjadi teman akrab.

“Aku bilang ke dia. Mau nanam sawit seluas itu untuk dijual apa mau bikin pabrik?. Rajo Pamuk bilang untuk jual,”kata pak Aris.

Karena Rajo Pamuk juga tak begitu paham dengan dunia sawit. Pak Aris lantas menawarinya untuk tanam kayu. Areal 500 hektar itu dijadikan kawasan HTI. Sistem kerjasama kemitraan dengan WKS.

“Aku bilang. Pak kita disini mau tanam HTI. Saya yang tanam, nanti bapak tinggal nunggu hasil. Iyolah..,”kata Pak Aris menirukan sikap setuju Rajo Pamuk.

Tidak hanya membangun kemitraan. Pak Aris juga mengangkat Rajo Pamuk menjadi karyawan WKS. Digaji sebulan Rp 2 juta.

“Panen pertama Rajo Pamuk langsung umrohkan istri, anak dan keluarganya. 24 orang. Untuk ukuran orang Jambi saat itu, sudah luar biasa,”kata Pak Aris.

Sistem kemitraan ini masih terus berlangsung, sampai sekarang. Pak Aris menyebutkan, hingga kini lahan Rajo Pamuk itu sudah panen 5 sampai 6 kali.

Setelah pensiun dari WKS tahun 2015 silam. Pak Aris tak pernah lagi bertemu Rajo Pamuk. Ia mendapat kabar bahwa Rajo Pamuk sudah wafat dua tahun silam. Pak Aris menitip pesan, agar WKS berdampak baik bagi daerah Jambi. Terus membantu meningkatkan ekonomi warga setempat. Semoga banyak muncul Rajo Pamuk lainnya. Semoga! (*)