by

Menghitung Senjata Debat Jokowi-Prabowo

Di tengah minimnya kampanye positif dari pasangan capres-cawapres, debat Pilpres 2019 disebut akan menentukan hasil akhir kontestasi politik tersebut.

JELANG debat perdana yang akan diadakan pada 17 Januari mendatang, masing-masing kandidat yang akan bersaing tengah mempersiapkan diri untuk momen tersebut. Baik pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin, maupun Prabowo Subianto-Sandiaga Uno diprediksi akan menampilkan yang terbaik dalam sesi tersebut.

Pasalnya, debat memiliki pengaruh besar terhadap elektabilitas pasangan calon (paslon) capres dan cawapres, demikian yang disampaikan oleh Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi.

Apalagi sejauh ini, kampanye yang telah dilakukan oleh masing-masing paslon dianggap tidak berjalan dengan maksimal. Ruang publik hanya dipenuhi dengan keriuhan adu mulut tanpa ada gagasan kampanye yang berarti.

Sehingga, debat dalam konteks Pemilu sedikit banyak akan menarik suara dari lumbung undecided votersatau orang-orang yang belum menentukan pilihan, maupun swing voters atau kelompok yang masih bisa berubah pilihan politiknya.

Survei Indikator Politik Indonesia menyebut jumlah undecided voters pada saat ini mencapai 9,2 persen, dan jumlah swing voters sekitar 15 persen. Diprediksi suara kelompok-kelompok ini akan menentukan hasil akhir dalam pemilihan nanti.

Lantas pertanyaannya adalah kira-kira seperti apa debat Pilpres 2019 ini akan berlangsung dan benarkah akan menjadi penentu kemenangan?

Debat Pilpres Sangat Penting

Debat berfungsi sebagai ajang memperoleh suara, menguatkan suara yang ada, dan menegaskan bahwa calon tertentu memang pantas untuk dipilih. Dalam debat akan terjadi adu konsep, adu argumentasi, dan yang tak kalah penting, adu track record.

Sidney Kraus dalam buku berjudul Winners of the First 1960 Televised Presidential Debate Between Kennedy and Nixon menyebutkan bahwa debat tidak hanya ditujukan untuk memberikan pendidikan politik pada publik, melainkan juga untuk memenangkan pemilihan. Artinya, debat merupakan sesuatu yang krusial dalam konteks Pilpres 2019.

Konteks yang dibicarakan oleh Kraus tersebut setidaknya terjadi saat debat Pilpres 2014, debat Pilkada DKI Jakarta 2017, dan debat Pilpres Amerika Serikat (AS) 2016.

Debat pada Pilpres 2014 yang terjadi antara Jokowi-Jusuf Kalla (JK) melawan Prabowo-Hatta Rajasa misalnya, merupakan hal yang menarik sebab dianggap menjungkirbalikkan ekspektasi publik sebelumnya.

Banyak pihak sebelumnya menganggap bahwa pasangan Prabowo-Hatta akan mempermalukan Jokowi-JK di panggung debat berbekal kualitas retorika yang dimiliki keduanya. Fakta berbicara lain, Jokowi-JK justru berhasil menguasai panggung debat, tampil melampui ekspetasi dan mampu meraup tambahan suara.

Meski Jokowi dianggap lemah dalam hal beretorika dan manajemen forum, namun ia mampu menunjukkan impresi yang sangat baik terhadap publik. Misalnya saja lewat perbincangan tentang selipan contekan di saku Jokowi yang ternyata adalah kertas doa dari sang ibunda. Hal itu disebut mampu meningkatkan elektabilitasnya karena menyentuh perasaan publik serta meredam serangan kampanye anti-Islam yang ditujukan padanya saat itu.

Selain itu, Pilkada DKI Jakarta 2017 juga bisa menjadi sample untuk melihat dampak debat politik.  Ada anggapan bahwa kemenangan pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno kala itu justru karena kepiawaian pasangan itu – khususnya Anies – dalam berdebat.

Memang diketahui bahwa Anies adalah salah satu sosok yang pandai beretorika. Ia juga pandai menunjukkan impresi di hadapan publik, sehingga dapat mempengaruhi pemilih.

Polling yang dilakukan Litbang Kompas setelah debat terakhir dilakukan menunjukkan bahwa Anies-Sandi dianggap paling baik dalam hal penyampaian gagasan selama debat dengan skor 7,68. Keduanya unggul atas Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat dengan skor 7,52 serta Agus Harimurti Yudhoyono (AHY)-Sylviana Murni dengan skor 6,49.

Hal yang mungkin sedikit berbeda terjadi saat debat Pilpres AS pada 2016 lalu. Debat perdana antara Hillary Clinton melawan Donald Trump itu mencatatkan rekor penonton terbanyak dalam sejarah Amerika Serikat.

Dalam berbagai survei dan jajak pendapat sebelum debat, Clinton yang merupakan calon dari Partai Demokrat selalu dinyatakan unggul. Demikian pun polling yang dilakukan oleh beberapa media pasca debat-debat tersebut juga mengunggulkannya.

Namun, penampilan Trump dalam debat tersebut justru dianggap mampu “menjebak” Clinton. Ia misalnya meng-show case persoalan peretasan email yang dialami istri Bill Clinton itu saat menjabat sebagai Menteri Luar Negeri AS, serta mendistraksi mantan senator New York tersebut lewat hal-hal yang cenderung “ekstrem” – misalnya menuduh Clinton menggunakan narkoba sebelum debat.

Faktanya, Christina Rivero menyebutkan bahwa pesan-pesan “ekstrem” itu justru menjadi salah satu faktor yang memperkuat citra politik Trump setelah debat-debat tersebut. Tak ada yang menyangka jika Trump yang mengusung slogan “Make America Great Again” itu mampu menjungkirbalikkan semua ramalan di hari pemilihan.

Oleh karena itu, tentu saja debat Pilpres nanti akan menjadi pertaruhan Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandi. Performa debat kedua pasangan itu sangat mungkin mempengaruhi hasil akhir Pilpres nanti.

Memuaskan Publik

Jika mengacu pada Pilpres 2014 lalu, pada awalnya debat itu memang tidak terlalu menjadi perhatian publik. Tapi, dalam perhelatannya debat tersebut ditonton oleh sekitar 70 persen lebih penduduk Indonesia. Hal ini sangat mungkin terjadi kembali pada Pilpres 2019.

Pengamat komunikasi politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Gungun Heryanto menyatakan setidaknya ada empat aspek yang memengaruhi preferensi masyarakat saat menonton debat.

Pertama, aspek retorika yang berkaitan dengan kemampuan menyampaikan gagasan.

Kedua, aspek manajemen forum yang berkaitan dengan kemampuan mengelola dialektika, memanfaatkan pilihan isu, pembagian peran, hingga optimalisasi waktu.

Ketiga, aspek ketegasan dalam memosisikan diri (positioning). Dalam debat setiap paslon harus memainkan peran sesuai posisi masing-masing. Dalam konteks ini penting bagi mereka untuk menegaskan posisi tersebut kepada khalayak pemilih.

Keempat, aspek impresif yang berhubungan dengan kemampuan paslon menyentuh dan meyakinkan nalar publik. Artinya, setiap ide dan gagasan yang terlontar harus bisa diterima akal sehat.

Meski Jokowi bukanlah ahli orator atau berdebat, namun Pilpres 2014 telah membuktikan bahwa ia bisa menjawab keraguan yang ada. Jokowi dengan tampilannya yang apa adanya malah mendapatkan perhatian dari publik.

Tentu saja hal itu dibarengi dengan penyampaian substansi masalah secara terukur dan sesuai dengan nalar publik. Mungkin hal itu akan sedikit berbeda pada Pilpres kali ini sebab Jokowi akan berhadapan dengan janji-janji yang belum bisa dituntaskan.

Sementara, Ma’ruf Amin memang bisa dibilang sebagai kandidat yang kurang mendapat pandangan positif sejauh ini. Kehadirannya di depan publik kerap diragukan oleh berbegai kalangan. Bahkan ada yang menganggap sang kiai itu justru membuat elektabilitas paslon nomor urut 01 turun. Oleh karena itu, berbagai upaya tengah dilakukan kubu Jokowi untuk “memoles” Ma’ruf.

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi bahkan berpendapat bahwa Ma’ruf berpeluang mencuri perhatian pemilih dalam debat. Hal itu dapat terjadi jika sang kiai bisa tampil brilian saat di panggung debat. Menurutnya, Ma’ruf memiliki modal intelektualitas dan pengalaman yang bisa digunakan sebagai modal.

Sementara di pihak lain, kubu Prabowo dan Sandi terlihat sangat serius menggarap debat Pilpres kali ini, terutama untuk segmen perdana karena ingin mengejar impresi yang tinggi. Berdasarkan klasifikias dari Gungun, Prabowo sebetulnya memiliki tiga unsur antara nomor satu hingga tiga.

Perlu diakui bahwa Prabowo merupakan sosok dengan wawasan yang luas serta kemampuan retorika yang baik. Dalam berdebat, Prabowo juga pandai dalam mengatur ritme dan memposisikan diri dengan baik. Namun, berkaca pada Pilpres 2014, Prabowo kurang mendapat impresi sebab argumentasi yang ia bangun kurang sejalan dengan nalar publik.

Selain itu, kecakapannya dalam menyentuh hati publik juga tidak terlalu terlihat saat itu. Hal inilah yang perlu dipoles oleh tim Prabowo saat debat nanti.

Sementara itu, Sandi yang kerap menuai kontroversi dalam berbagai kesempatan bisa jadi akan mencuri perhatian layaknya Ma’ruf Amin. Sandi merupakan sosok yang kreatif dalam membentuk sebuah opini. Pengalamannya saat debat di DKI Jakarta bersama Anies juga bisa digunakan untuk memformulasikan debat nanti. (***)

Sumber: Pinterpolitik.com

News Feed