by

Kasus Bencana di Batanghari Meningkat

BATANGHARI – Sepanjang tahun 2018 jumlah kasus bencana di Kabupaten Batanghari mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya.

“Ada enam bencana alam di Batanghari yang selalu terulang setiap tahunnya, dan tiga kasus diantaranya alami peningkatan,” kata Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Batanghari Samral di Muarabulian, Rabu (9/1/2019).

Enam kasus bencana yang kerap kali terjadi di daerah itu diantaranya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), banjir, angin puting beliung, kebakaran rumah, longsor dan korban tenggelam. Tiga kasus bencana yang alami peningkatan diantaranya kasus bencana Karhutla, tahun 2017 hanya terdapat 17 titik api, ditahun 2018 meningkat menjadi 45 titik api.

Selanjutnya kasus bencana angin puting beliung , tahun 2017 terdapat 4 kasus dan di tahun 2018 meningkat menjadi 5 bencana. Kemudian kasus orang tenggelam, di tahun 2017 tidak terdapat kasus orang tenggelam dan di tahun 2018 terdapat enam kasus orang tenggelam.

Namun juga terdapat kasus bencana yang alami penurunan dan stagnan di tahun 2018. Diantaranya kasus kebakaran rumah, tahun 2017 terdapat 45 kasus kebakara rumah, dan menurun di tahun 2018 menjadi 33 kasus kebakaran rumah. Selanjutnya kasus banjir dan tanah longsor, ditahun 2017 terdapat satu kasus banjir dan tanah longsor, begitu pula ditahun 2018.

Untuk kasus karhutla, 45 titik karhutla tersebut tersebar di tujuh kecamatan dari delapan kecamatan. Dengan luas lahan yang tebakar mencapai 477,97 hektar. Luas lahan di Kecamatan Bajubang merupakan luas luas lahan yang terbesar terbakar, mencapai 290,12 hektar dari 14 titik api yang terbesar di beberapa wilayah.

Untuk kasus putting beliung tersebar di tiga kecamatan, diantaranya Kecamatan Muarabulian dua kasus, Batin XXIV satu kasus dan Kecamatan mersam dua kasus putting beliung. Akibat kasus bencana putting beliung tersebut, lima orang terpaksa harus diungsikan karena kediamannya alami kerusakan. Dua unit rumah alami rusak berat dan tiga unit rumah alami rusak ringan.

Dan enam kasus orang tenggelam yang terjadi didaerah itu terjadi di empat kecamatan, di antaranya Kecamatan Muarabulian dua kasus, Kecamatan Mersam dua kasus, Kecamatan Pemayung satu kasus dan di Kecamatan Maro Sebo Ulu satu kasus. Dari enam kasus orang tenggelam tersebut terdapat 18 korban jiwa, diamana 11 orang meninggal dunia, lima orang alami kritis dan dua orang lainnya alami luka ringan.

Sementara itu, untuk kasus kebanjiran selama tahun 2018. Beberapa wilayah didaerah itu alami kebanjiran selama 28 hari di penghujung tahun 2018. Akibatnya 4.235 rumah terendam atau tergenang banjir, 2.100 meter jalan terendam, 697,5 hktar lahan pertanian terendam, 45 hektar lahan perkebunan terendam, 12 unit sarana kesehatan terendam, 10 unit sarana pendidikan terendam dan lima unit sarana umum juga terendam.

Adapun kecamatan yang terparah terdampak banjir yakni Kecamatan Pemayung, dimana di Kecamatan Pemayung terdapat 3.264 rumah terendam banjir.

Samral mengatakan, dari beberapa kasus bencana tersebut masih terdapat kendala oleh BPBD dalam menangani kasus tersebut. Diantaranya untuk kasus Karhutla, BPBD daerah itu masih terbatas dari segi peralatan serta sarana dan prasarana.

“Untuk karhutla kendala yang kerap kali dialami petugas yakni sumber air yang berada cukup jauh dari lokasi kebakaran,” kata Samral Lubis.

BPBD daerah itu meminta masyarakat untuk lebih waspada dalam menghadapi bencana yang kerap kali terjadi. Dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi setidaknya dapat meminimalisir dampak yang terjadi akbiat bencana yang terjadi. (*)

News Feed