by

Hati-hati Caleg, Jangan Tertipu Sosial Media

Oleh Adman Nursal

DIGITAL Marketing khususnya Sosial Media (Somed) di Indonesia berada dalam fase pertumbuhan. Jumlah penguna dalam fase ini sedang tumbuh. Orang yang yakin akan manfaatnya juga sedang tumbuh. Begitupula kompetensi penyedia jasa juga sedang tumbuh. Dalam kondisi seperti itu, para pelaku sosmed beragam kemampuannya. Sehingga akan terjadi situasi dimana ada pengguna jasa yang paham. Tapi ada pula yang tidak paham. Disisi lain akan muncul penyedia jasa yang kompeten. Ada pula yang tidak kompeten.

Dalam konteks Pilkada maupun Pileg. Seringkali terjadi situasi dimana terjadi hubungan relasi antara penyedia jasa Sosmed yang tidak kompeten dan pengguna jasa yang tidak paham. Demi mengejar naluri mendapatkan keuntungan. Tidak sedikit penyedia jasa Sosmed yang tidak kompeten kemudian melakukan eksploitasi kepada pengguna jasa yang tidak paham. Akibatnya, terjadilah kerjasama antara penyedia jasa yang tidak kompeten yang dipakai oleh pengguna jasa yang tidak paham.

Akibatnya lagi, banyak caleg atau kandidat di Pilkada terlanjur bayar mahal. Untuk mendongkrak popularitas lewat Sosmed. Tapi setelah di cek, rupanya penggunaan Sosmed tidak jelas dampaknya. Terutama terhadap peningkatan elektoral si kandidat. Dalam konteks ini ukuran keberhasilan penggunaan jasa Somed menjadi tidak jelas.

Sebagai hal yang baru, teknologi memang menjanjikan harapan besar. Teknologi acapkali membuat kandidat terpesona. Juga silau untuk menggunakannnya. Tapi banyak yang tidak tahu efek dan manfaatnya.

Pengalaman dalam Pilkada, tidak sedikit para kandidat menyediakan budget besar. Untuk mendanai kegiatan di Sosmed. Dalam banyak hal, penggunaan Somed justru merugikan kandidat. Biaya yang dikeluarkan tak sebanding dengan effect yang didapat.

Bukan berarti penggunaan Sosmed tidak penting. Tapi, yang perlu dipahami adalah bagaimana Sosmed bisa berguna untuk kandidat. Dan tidak buang-buang biaya. Bagi kandidat, penggunaan Sosmed yang benar harus berkorelasi dengan peningkatan elektoral.

Berdasarkan riset Hootsuite pada Januari 2018 lalu. Pengguna internet di Indonesia berjumlah 50 Persen dari jumlah penduduk. Kemudian yang aktif di Sosmed sebesar 49 Persen. Kemudian yang menggunakan HP 67 Persen. Dan penggunaan Sosmed di Gadget mencapai 45 Persen.

Berkaca dari riset tersebut, maka penggunaan Sosmed dalam kampanye untuk menarik dukungan cukup penting. Tapi, dalam konteks Pilkada ataupun Pileg, penggunaan Sosmed perlu diletakkan secara proporsional. Sebab, tidak ada alat tunggal yang bisa menjadi alat untuk memenangkan kompetisi politik. Bahkan di AS yang terkenal maju dengan Sosmed. Cara-cara kampanye konvensional tetap dipakai. Misalnya penggunaan media masa eletronik, cetak, gerakan grasroot dan sebagainya.

Untuk menghindari kerugian atas tawaran penyedia jasa Sosmed itu. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Sosmed harus ditempatkan sebagai bagian dari strategi umum untuk pemenangan. Selanjutnya peran Sosmed juga harus jelas. Apakah wilayah itu sudah cocok belum digunakan untuk Sosmed?.

Untuk daerah perkotaan dan perdesaan akan beda dampak penggunaannya. Lalu penggunan Sosmed harus mempunyai target. Seperti bisa menyasar berapa orang audiens dan jangka waktu yang lama.

Kemudian sejauh mana tingkat like, share, komen, link dan respon dari audiens. Pertimbangan lainnya, apakah suara yang didapatkan itu benar-benar ekslusife dari Sosmed. Jangan-jangan itu overlap dengan cara kerja lain dilapangan. Misalnya, jika tidak pakai Sosmed, pengikut tetap banyak. Dalam kondisi seperti ini, maka Sosmed berperan sebagai peneguhan saja.

Cara yang benar mensinergiskan penggunaan Sosmed dan upaya peningkatan elektoral secara singkat bisa dijelaskan sebagai berikut. Langkah pertama yang harus dipahami seorang pengguna jasa Sosmed adalah, harus mengetahui bagaimana kinerja Sosmed. Yang dikelola oleh penyedia jasa. Penyedia harus menjelaskan pencapaian like, share, komen dan sebagainya dari audiens. Dan yang paling penting adalah menyelidiki bagaimama cara dan strateginya. Misalnya apakah sudah menetapkan tujuan yang spesifik. Target audiens yang jelas dengan segala karakterisitiknya. Yang paling penting adalah punya target bagaimana memenuhi kepentingan audiens dan kandidat.

Catatan penting dalam penggunaan Sosmed adalah bahwa kinerja Sosmed yang baik dan aktif belum tentu pula berdampak bagi peningkatan elektoral. Lalu, bagaimana cara menggunakan Sosmed yang berkorelasi dengan elektoral?

Isi atau konten Sosmed harus menyesuaikan kepentingan audiens dan kandidat. Sehingga, langkah-langkah marketing klasik tetap harus dilakukan. Para pemilih disegmentasikan dan kemudian target yang akan disasar harus dibuat jelas. Intinya adalah bagaimana kontens Sosmed bisa membonceng gaya hidup dan kepentingan audiens. Misalnya pada segmen anak-anak muda penyuka music tertentu. Maka nuansa sosialisasi harus tentang music. Nah, dalam digital marketing, ini menyangkut subtansi, gaya, pilihan tema yang harus tepat. Pencapaian-pencapain ini harus terukur.

Keberhasilan berikutnya, mengecek adakah korelasi capaian Sosmed dengan dampak elektoral. Misalnya apakah kandidat bisa menjadi popular, dikenal luas dan disukai. Sehingga berdampak pada pengetahuan pemilih yang akhirnya menjadi pendukung aktif. Jika ada yang menghina kandidatnya, dia langsung membela. Kalau ada kegiatan dia hadir. Semuanya itu harus klir dan terukur. Harus jelas yang mana dampak berasal dari Sosmed, yang mana dari sinergi dengan program lain diluar Sosmed. Jangan sampai penggunaan Sosmed hanya menumpang kerja-kerja lapangan. Tapi jika sinergi, justru bagus.

Sekali lagi, bahwa kinerja Sosmed yang bagus, belum tentu berdampak terhadap effect electoral. Tapi, ada pula kinerja Sosmed tinggi tapi effect electoral rendah. Di kuadran ini, pasti terjadi kesalahan strategi persuasi. Maksudnya gagalnya strategi memasarkan kandidat. Isinya bagus, disenangi audiens, mereka puas dengan isi dan gaya substasi tampilan sosmed. Tapi, kandidatnya tak mendapatkan apa-apa. Ini ada kesalahan fatal. Dalam mengidentifikasi hal menarik pada kandidat. Dan tidak mampu mensikronkan dengan sesuatu yang disukai oleh audiens.

Terakhir, Sosmed hanya merupakan salah satu cara dalam kampanye. Dalam konteks ini, yang paling penting adalah membuat kerangka monitoring secara rutin. Untuk daerah yang pengguna Sosmed rendah, otomatis kinerja Sosmed rendah. Jangan dipaksakan menggunakan Sosmed.

Hal lain yang perlu diperhatikan bahwa effect electoral hanya bisa terjadi jika kinerja Sosmed bagus. Tapi, berdasarkan penelitian bahwa seringnya mengkampanyekan kandidat secara teratur dan cukup di Sosmed, juga tidak ada pengaruh terhadap kinerja Sosmed seperti respon like,  share, komen dan sebagainya. Kecanggihan mengemas kandidat justru menjadi poin penting dalam meningkatkan kinerja Sosmed.

Dalam marketing, segmentasi perlu dilakukan. Dan diperlukan strategi. Baik gaya dan konten. Itulah yang disebut sinergi anatara kinerja Sosmed dan dampak elektoral. Untuk membuat segmentasi, langkah sederhana yang perlu dilakukan adalah mengecek media seperti apa yang audiens ikuti. Aktifitas apa yang dilakukan. Dan apa peran Sosmed dalam kehidupan mereka. Kalaulah sikap kritis terhadap penyedia jasa Sosmed kendor, maka Bandar akan tekor dan kandidat tidak akan kesohor. (***)

News Feed