by

SAH Minta Pemerintah Serius Melaksanakan Pendidikan Karakter Yang Berbasis Budaya Lokal

KEBUDAYAAN lokal merupakan kebudayaan yang sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat, namun sayang kebudayaan itu sudah terkikis dan tergantikan oleh budaya asing yang sama sekali tidak kita pahami.

Pernyataan ini disampaikan Pimpinan Komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan Sutan Adil Hendra (SAH) ketika menghadiri diskusi pendidikan berbasis budaya di Jakarta (8/12) kemarin.

Menurutnya agar eksistensi budaya tetap kukuh, maka kepada generasi penerus dan pelurus perjuangan bangsa perlu ditanamkan rasa cinta akan kebudayaan lokal khususnya di daerah.

“Generasi penerus perlu kita tanamkan  nilai – nilai budaya lokal, ini dimaksudkan agar budaya bangsa itu tetap hidup dan lestari dalam menopang dinamika zaman.”

Dalam hal ini SAH memberi dukungan cara yang ditempuh di sekolah adalah dengan cara mengintegrasikan nilai-nilai kearifan budaya lokal dalam proses pembelajaran, ekstra kurikuler, atau kegiatan kesiswaan di sekolah.

“Kita perlu mengaplikasikan secara optimal Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Budaya Lokal.”

Dalam hal ini legislator yang dikenal fokus dengan isu pendidikan tersebut meyakini pendidikan karakter adalah suatu hal yang dapat membentengi budaya bangsa secara baik dan harmoni.

Karena  pendidikan karakter adalah sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil.

Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan etos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah, imbuhnya.

Sehingga dengan ini pendidikan ke dapat menjadi nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat, pungkasnya. (*)

News Feed