by

SAH Dorong Fungsi Museum sebagai Alternatif Pembelajaran

MUSEUM dipandang bisa dijadikan alternatif pembelajaran di luar kelas karena sarat akan pengetahuan. Pernyataan ini disampaikan Pimpinan Komisi X DPR RI Sutan Adil Hendra (SAH) ketika melakukan kunjungan ke museum negeri Jambi (14/11) kemarin. Namun dalam kunjungan yang dilakukan bersama dengan para seniman dan budayawan diantaranya Sakti Alam Watir, serta Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jambi Ujang Hariadi tersebut, SAH menilai animo masyarakat Provinsi Jambi untuk mengunjungi museum masih rendah.

Dalam penilaian Anggota DPR RI daerah pemilihan Provinsi Jambi tersebut mengatakan ada beberapa hal yang menyebabkan ‘popularitas’ museum masih kurang di mata masyarakat.

“Salah satu hal yang paling mendasar adalah masih banyak orang yang menganggap museum itu angker dan membosankan. Mereka terkesan seperti melupakan sejarah memang, namun tentu kita tidak bisa menyalahkan mereka begitu saja, karena faktanya masih sebagian besar museum memang masih menyiratkan kesan menyeramkan dengan lorong tanpa ujungnya yang gelap dan berdebu.”

Oleh karena itu SAH mengatakan perlu beberapa kiat untuk meningkatkan kunjungan ke museum. Yang Pertama, adalah pihak pengelola museum perlu melakukan revitalisasi. Revitalisasi ini bisa dilakukan dengan menata kembali objek yang ditampilkan agar terlihat lebih menarik dan menghilangkan persepsi negatif masyarakat tentang museum.

“Selain melakukan revitalisasi, yang Kedua, museum juga perlu dijaga kebersihan dan keindahannya. Pihak pengelola museum harus sering-sering membersihkan barang-barang yang dimuseumkan karena museum menyimpan barang-barang tua yang tentu akan menjadi lebih tidak menarik lagi apabila kotor,” ungkapnya.

Kemudian yang ketiga aspek keindahan dari museum, pengelola museum bisa menanam pohon-pohon atau membuat kolam kecil di sekitar museum agar pengunjung merasa nyaman dan kembali lagi di lain waktu.

Setelah masalah itu teratasi baru kita masuk aspek ke Empat yaitu kurangnya promosi. Sebagian besar pengelola museum bahkan hampir tidak pernah mempromosikan museumnya.

Akibatnya, tak heran bila masyarakat hanya mengetahui museum-museum yang letaknya dekat dengan tempat tinggal mereka. Nah untuk itu, pengelola museum bisa berpromosi melalui surat kabar, sosial media, atau secara langsung. Serta yang terakhir yang ke Lima, museum harus menyediakan tour guide yang cukup dan tentu saja berkompeten agar masyarakat benar-benar memahami benda-benda yang dimuseumkan beserta sejarahnya.

Dalam hal meningkatkan fungsi Museum sebagai alternatif pembelajaran SAH mengaku pihaknya giat mendorong publikasi tentang pentingnya keberadaan museum sebagai sarana pembelajaran. Caranya, pengelola museum bisa membagikan brosur yang berisi sejarah dan tujuan dibangunnya museum tersebut.

Selain masalah tersebut SAH juga meminta komitmen pemerintah, sekolah, dan agen pariwisata. Pemerintah bisa mewajibkan kegiatan wajib kunjung ke museum, lalu sekolah memasukkan kunjungan ke museum ke dalam serangkaian acara wisata. Jadi, pelajar tidak hanya dimanjakan dengan piknik tahunan ke berbagai objek wisata tetapi pelajar juga harus mulai dibiasakan dengan sejarah, salah satunya melalui kunjungan ke museum, tandasnya. (*)

News Feed