oleh

Bagaimana Jadi Pahlawan Milenial di Jambi?

Oleh Fatimah | Politisi Milenial PKS

DI hari sumpah pemuda yang lalu 28 Oktober ,kita bicara tentang semangat persatuan yang harus di junjung tinggi para pemuda. Karena bangsa Indonesia ini hadir dari perwakilan ide dan gagasan para pemuda di setiap daerahnya. Dan semua itu juga tidak lepas dari pengaruh para pahlawan untuk mewujudkan negara yang berdaulat. Sebut saja mereka Budi Utomo, Wahidin Sudirohusodo, Sutomo, Jendral Sudirman dan para pejuang lainnya membangkitkan kesadaran masyarakat Indonesia terhadap pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa.

Jambi adalah provinsi yang terletak di pesisir timur di bagian tengah Pulau Sumatra. Dimana di provinsi Jambi kebanyakan penduduknya berasal dari bangsa melayu. Sudah akrab di telinga kita pejuang di tanah ini diantaranya ada Sultan terakhir Kesultanan Jambi yaitu Sultan Thaha Syaifuddin, kemudian Kolonel Abundjani, Depati Parbo, Raden Mattaher, Makallam, Mayor H.Syamsudin Uban, dan Mayjen A.Thalib serta masih banyak lagi pahlawan untuk tanah ini. Tidak cukup dengan mengenang semua jasa mereka terhadap tanah ini. Tapi kita patut melanjutkan perjuangannya.

Seperti seloko jambi Kecik dak disebut namo, Besak dak besebut gela yang berarti antara kaya dan miskin tidak ada perbedaan. Begitu pun juga semua punya hak dan kewajiban yang sama atas bangsa ini.

Jika para pejuang begitu berhati-hati dalam bertindak dan memutuskan perkara untuk tanah ini, mereka telah memegang prinsip sesuai dengan seloko adat yang telah ada yaitu Menarik rambut dalam tepung, Rambut jangan putus, tepung jangan berserak dengan artian hendaklah kita menyelesaikan sesuatu dengan berhati-hati. Untuk menentukan keputusan yang rumit, harus dikuatkan dengan kenyataan hukum untuk menata kehidupan masyarakat taat kepada hukum. Tidak menimbulkan perpecahan antara satu dengan lainnya. Dan yang tidak boleh luntur dari budaya kita adalah seperti seloko “Bunyi siamang dibukit pangkah, Turun kelukuk makan padi, Kalau tergemang ulak langkah, Sementaro main belum jadi”.

Hendaklah yang tua tetap memperhatikan tingkah laku dan budi pekerti anak-anakya. Karena kepada tangan merekalah bumi ini akan diwariskan, karena estafet perjuangan itu di pergilirkan begitu pula kepemimpinan.

Pada masa perjuangan tahun 1901 para pejuang melawan belanda bersama rakyat jambi berjuang dengan kokoh. Semua anak sultan pun mengumpulkan kekuatan dengan persatuan. Semua berhimpun dalam pertemuan-pertemuan di pimpin oleh Sultan Thaha untuk sebuah perlawanan dari penindasan. Di daerah perbatasan setiap kabupaten yang kita sebut sekarang darah mereka tumpah. Karena Belanda menggunakan senjatanya menyerang rakyat Jambi. Tapi tidak sampai di situ perlawanan rakyat jambi, mereka kemudian menyerang pos-pos belanda di setiap sudut daerah.

Bangsa kita adalah bangsa yang kaya sumber daya alam dan sumber daya manusia. Dan keduanya dapat saling mendukung untuk pembangunan bangsa ini. Dan setiap daerah di Indonesia memiliki sumber daya alam yang khas berbeda antara satu dengan yang lainnya. Jambi contohnya sebagai penghasil Sawit, Karet dan Kayu Manis terbaik harus terus di kembangkan untuk meningkatkan taraf ekonomi di daerah.

Oleh karena itu di perlukan usaha mengelola agar dapat di manfaatkan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, sesuai dengan amanat Undang-Undang. Setiap daerah harus bekerja sama dan mengisi untuk mengelola sumber daya alam dan hasil bumi, serta memberdayakan warga negaranya dalam setiap pembangunan negara ini.

Dengan memperingati hari pahlawan ini, generasi milenial harus mengambil makna untuk perannya bagi Indonesia. Karena 40% warga Indonesia adalah generasi milenial. Ini dapat memberikan dampak yang signifikan jika generasi milenial mampu mengambil contoh semangat juang para pahlawan, mengawal jalannya demokrasi di Indonesia, dan menjunjung tinggi bahasa persatuan di negri tercinta ini tanpa perpecahan. (***)

News Feed