oleh

Teknologi dan Generasi Milenial

Oleh Muhammad Aidil

GENERASI milenial adalah generasi terbesar kedua di dunia setelah generasi baby boomers, yang lahir antara 1980 sampai dengan tahun 2000-an. Ketika mendengar istilah “generasi milenial” pasti yang akan terlintas di benak kita adalah generasi atau sekelompok remaja tanggung yang selalu memegang smartphone di tangan mereka. Dengan kata lain, saat ini generasi milenial ini adalah anak-anak muda yang saat ini berusia antara 18-38 tahun yang berarti mungkin kamu yang membaca ini juga termasuk golongan generasi milenial.

Generasi milenial lahir ditengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi yang demikian pesat. Menurut Howe dan Strauss (2000), generasi milenial hidup pada era yang memiliki nilai individualisme tinggi, mengutamakan keterbukaan, dan gaya hidup yang bebas. Generasi milenial juga dalam keadaan yang lebih makmur dibandingkan dengan generasi sebelumnya, sehingga kebutuhan terpenuhi oleh orangtuanya.

Generasi milenial ini mempunyai karakteristik masing-masing individu yang berbeda, tergantung dimana dia dibesarkan, strata ekonomi, dan sosial keluarganya, pola komunikasinya sangat terbuka dibanding dengan generasi-generasi sebelumnya, pemakai media sosial yang fanatik dan kehidupannya sangat terpengaruh dengan pengembangan teknologi, lebih terbuka dengan pandangan politik dan ekonomi, sehingga mereka terlihat sangat reaktif terhadap perubahan lingkungan yang terjadi di sekelilingnya, memiliki perhatian lebih terhadap kekayaan (Lyons, 2004).

Sudah tidak bisa dipungkiri bahwa generasi milenial itu pada umumnya lebih melek teknologi dan cenderung memiliki pendidikan yang lebih tinggi dari generasi sebelumnya. Milenial juga erat kaitannya dengan personal branding, cara untuk membentuk image sedemikian rupa dengan tujuan meningkatkan status sosial yang begitu penting bagi mereka. Hal ini yang membuatnya melakukan berbagai cara agar berhasil menaikkan level mereka secara sosial, salah satu yang merupakan karakteristik yang paling menonjol dari generasi milenial adalah gaya hidup yang lebih konsumtif. Sebenarnya tidak menjadi masalah ketika apa yang dibeli, termasuk berbagai produk dari online shop serta gadget terbaru adalah murni pakai uang sendiri. Tapi jika masih memakai dan meminta kepada orangtua, sepertinya generasi milenial sekarang harus lebih peka. Bukan hanya itu nilai-nilai kesopanan dan rasa hormat pada generasi milenial juga mulai memudar karena pesatnya arus informasi yang mengugesti mereka ke arah pemikiran liberal. Karakteristik mereka yang cenderung bebas dan punya pemikiran sendiri ini seringkali membuat para orangtua menjadi resah dan gundah meski tidak di ungkapkan secara langsung.

Di era Globalisasi sekarang ini, generasi milenial menjadi sekelompok generasi yang pemalas seperti malas membantu orangtuanya mencuci atau membersihkan rumah karena mereka memilki waktu yang lebih boros terhadap smarthphone, tablet dan televisi. Tercatat bahwa angka tersebut meningkat 17 kali per jam dari generasi sebelumnya. Mereka cenderung meninggalkan nilai-nilai kebebasan, hedonisme, party, dan pergaulan bebas. Kelunturan kesopanan dan kesantunan membuat para orangtua berpikir jika mereka telah gagal mendidik anaknya secara langsung.

Orangtua pasti ingin anaknya menjadi anak yang mempunyai karakter yang baik, ramah dan juga sopan santun serta mereka juga lahir di tengah derasnya arus perkembangan teknologi maka cara mengajar untuk mendidik mereka pun harus dibedakan dan ada triknya. Tetapi hal pertama yang harus di lakukan terlebih dahulu adalah optimalisasi teknologi.

Mengingat generasi milenial lebih mudah beradaptasi dengan teknologi sebaiknya lembaga pendidikan lebih memanfaatkan lagi teknologi untuk menunjang proses pendidikan. Optimalisasi teknologi dalam pembelajaran perlu di bimbing oleh tenaga pendidik yang berkualitas agar generasi milenial dapat menjadi generasi yang produktif untuk bangsa ini dalam menghadapi bonus demografi ke depannya. Sebab saat ini dunia digital hanya sebagai wadah yang menyeramkan, saling memusuhi, saling mencaci yang membuat antar manusia memendam rasa dendam.

Lalu yang kedua adalah penguatan pendidikan karakter bagi generasi milenial, karena generasi milenial mempunyai potensi-potensi untuk mengembangkan teknologi yang telah ada atau meciptakan teknologi yang baru tapi dengan tetap mempertahankan budaya sopan santunnya orang timur. Pendidikan karakter merupakan pendekatan langsung untuk pendidikan moral dengan memberi pelajaran kepada peserta didik tentang pengetahuan moral dasar untuk mencegah mereka melakukan perilaku tidak bermoral atau membahayakan bagi diri sendiri maupun orang lain (John W. Santrock).

Salah satu ahli berpendapat bahwa karakter adalah sebagai cara berpikir dan berprilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama. Baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun negara. Jangan sampai generasi pembaharu mengalami krisis moral sebab minimnya pendidikan karakter suatu bangsa. Agar terealisasikan pendidikan berbasis karakter, sudah tentu bukan saja tanggung jawab satu pihak tetapi tanggung jawab berbagai pihak baik keluarga ataupun pemerintah. Akan tetapi, pendidikan karakter ini harus ditanamkan kepada anak sejak dini agar mereka sudah terlatih untuk bertindak dengan kejujuran dan juga mendapatkan batasan-batasan sejak dini dari lingkup keluarga dalam penggunaan teknologi agar tidak mengarah ke hal yang negatif.

Kemajuan sebuah bangsa sering diukur dengan seberapa canggih bangsa tersebut. Untuk itu generasi milenial diharapkan bisa menghadapi dan mempertahankan bangsa ini untuk ke depannya. Apakah Bonus demografi akan menjadi malapetaka dan tidak bisa di manfaatkan oleh generasi milenial atau menjadi sebuah keuntungan dan di manfaatkan sebaik mungkin oleh generasi milenial. Untuk itu generasi milenial harus menjadi generasi yang mampu beradaptasi dengan lingkungan dan menjadi generasi yang produktif. (***)

 

Penulis adalah mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Jambi

News Feed