oleh

Keterkejutan Publik Ketika SAH Membuka Fakta tentang Rendahnya Minat Baca Orang Indonesia

TIDAK banyak orang tahu tentang fakta bahwa budaya membaca dan menulis masyarakat Indonesia sangat lemah. Bahkan menurut data Central Connecticut tahun 2016 peringkat Literasi Indonesia hanya menduduki peringkat 60 dari 61 negara yang di survei.

Kenyataan ini membuat publik terkejut bahkan cenderung skeptis tentang fenomena yang memperlihatkan gejala betapa terbelakangnya kita akan tradisi membaca dan menulis.

Keterkejutan ini terlihat dari reaksi ketika Pimpinan Komisi X DPR RI Sutan Adil Hendra (SAH) menyampaikan materi Peranan Bahasa dan dalam Strategi Diplomasi di hadapan ribuan peserta Kongres Bahasa Indonesia (KBI) ke XI di Hotel Sahid Jaya Jakarta (28/10) kemarin.

“Pada tahun 2016 peringkat Literasi kita hanya menempati urutan 60 dari 61 negara yang di survei,” ungkap SAH yang langsung disambut dengan koordinasi dan anggukan panjang peserta yang terkejut akan kondisi literasi Indonesia.

Peringkat ini menurut Anggota Fraksi Partai Gerindra DPR RI tersebut merupakan gambaran tentang lemahnya tradisi membaca dan menulis di Indonesia, dimana hal ini berkorelasi erat dengan mutu pendidikan di tanah air.

“Budaya membaca dan menulis tersebut sangat berkaitan dengan mutu pendidikan di tanah air, semakin rendah budaya literasi suatu bangsa akan menyebabkan rendahnya pula mutu pendidikan, karena mutu pendidikan lahir dari aktivitas membaca dan menulis sebagai dasar pengembangan ilmu pengetahuan.”

Dalam rangka meningkatkan literasi di Indonesia SAH mengaku pihaknya sangat mendorong program diseminasi literasi pada guru dan institusi pendidikan, dimana hal ini bertitik tolak dari pemikiran budaya membaca dan menulis harus dimulai dari dunia pendidikan atau sekolah, sehingga bisa mengembangkan tradisi keilmuan serta mutu pendidikan, tandasnya. (*)

News Feed