oleh

Sumpah Pemuda 2018: Bersatu Menolak Perpecahan Bangsa

Oleh Teuku Gandawan

SEBUAH bangsa pastilah memiliki dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara, demikian pula Indonesia. Akan selalu ada orang-orang yang sangat paham dengan tujuan kebangsaan, ada yang kurang paham dan ada yang memang tak paham dan enggan menjadi paham.

Kenapa selalu ada orang yang enggan paham atau tidak mau paham? Itulah kehidupan. Semua bangsa mengalami dan memiliki kelompok orang-orang yang menjadi sampah masyarakat mereka. Itu kenapa di setiap bangsa selalu ada pelaku kriminal, pembuat onar, pengadu domba, koruptor, pembela koruptor, kaum anarki, kaum perampas hak-hak publik dan sebagainya.

Hari ini kita tiba pada tanggal 28 Oktober 2018, tanggal dimana 90 tahun lalu yaitu pada 28 Oktober 1928, muncul sekelompok orang-orang cerdas dan berjiwa nasionalis bersikap tegas dan utuh untuk menyatakan keinginannya agar bangsa ini menjadi bangsa yang utuh, produktif dan hidup dalam harmoni yang penuh kesadaran demi kebaikan bersama.

Hari ini 28 Oktober 2018, kita menghadapi ulang kebusukan masa lalu. Dimana sebagian dari kita sibuk mengadu domba seolah bangsa ini sedang di pinggir perpecahan karena menolak keberagaman. Celakanya yang sibuk menghasut seolah adanya perpecahan keberagaman adalah orang-orang yang memegang otoritas kegiatan publik. Pihak yang harusnya menjaga persatuan malah sibuk menjaga agar terus ada konflik untuk bisa dimanfaatkan dan disalahgunakan.

Padahal pada saat yang sama, hari ini, kita sebenarnya masih sangat banyak yang hidup normal. Tidak ada saling benci di pasar-pasar dan mall-mall. Tidak ada saling benci di kantor-kantor dan tempat olahraga. Tidak ada saling benci di banyak tempat. Yang ada hanya sekelompok minoritas orang yang terus menghasut kebencian di sosial media, menghasut seolah adalah perpecahan agama, menghasut seolah ada tirani mayoritas, menghasut seolah ada penindasan beragama.

Kita yang mayoritas dan tidak terjebak urusan hasut menghasut ini, harus sadar betul bahwa kita tengah terus diprovokasi oleh mereka. Kita ajak lelah sebagai bangsa agar sibuk saling hina dan saling benci. Tujuannya apa? Agar kita mayoritas sibuk dengan hal tersebut, sementara mereka para pembusuk ini bisa sibuk memperkaya diri dengan mengambil manfaat sebesar-besarnya dari kekayaan negara dengan berbagai cara menggunakan jabatan dan fasilitas yang mereka kuasai.

Kita harus menghentikan ini semua. Kita perlu segera bangkit dan sadar untuk mengembalikan tujuan hidup bangsa ini sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945 yaitu untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Saatnya mulai 28 Oktober 2018 kita mengucapkan sikap dan janji, untuk menolak semua hasutan tentang isu perpecahan dalam keberagamanan. Tidak ada perpecahan karena keberagaman dalam bangsa ini.

Kita tak pernah membahas siapa jadi apa dalam bidang olahraga, tapi itu pula yang digoreng-goreng para penghasut. Dua event Asian Games 2018 dan Asian Para Games 2018 hampir jadi event para manusia busuk hati ini untuk mengadu domba. Berulang-ulang mereka mengobarkan isu agar bersatu dalam keberagaman. Padahal sejak dahulu kala pelatnas olahraga kita tak ada isu SARA dan tak pernah SARA melihat siapa yang juara. Syukurnya kita tak terjebak oleh semua isu kaum busuk ini.

Mulai 28 Oktober 2018, kita harus canangkan persatuan. Tolak semua pembusuk dan pengadu domba. Cukup sudah para pembusuk ini terus berkoar-koar sejak 2014. Mari kita mulai titik baru hidup bangsa ini, melangkah bersatu sesungguhnya tanpa para manusia busuk jiwa. Mari kita bersumpah untuk membangun Indonesia yang satu tanpa para pembusuk, hari ini juga! (***)

Penulis adalah Peneliti Strategi Indonesia

News Feed