oleh

Patologi Truk Batu Bara

Oleh Hendrizal

MEMBAHAS polemik truk  batu bara, selalu merujuk kepada Peraturan Daerah (perda) provinsi  Jambi No 13 Tahun 2012, angkutan batu bara dilarang beroprasi siang hari. Begitu banyak hujatan, aksi dan blokir jalan yang dilakukan Masyarat dan mahasiswa yang di sebabkan karena banyaknya kasus kecelakan yang merenggut nyawa,  faktanya  pada tahun 2017 ada 22 nyawa melayang  Tahun 2018 satlantas pores Batanghari mendata ada 12 nyawa melayang,  27 kasus yang melibatkan truk batu bara.

Aparat Dimana?

Mempertanyakan Peraturan Daerah ( perda ) No 13 Tahun 2013, “jelas”  truk batu bara tidak boleh melintas pada siang hari, dapat disaksikan pelanggaran yang di lakukan oleh supir truk batu yang ugal-uglan di siang hari. Mereka seakan merasa tidak bersalah ketika lewat di siang hari, seakan mereka tidak tau mereka melanggat aturan.

Dari pihak pemerintah sendiri ada yang menjanggal, dilihat dari sisi  tidak adanya sangsi dan teguran dari pihak keaman, apakah perda No 13 Tahun 2013 tidak berguna? Inikan jadi pertanyaan besar. Linglungnya masyarat sendiri melihat aturan di permainkan,  bukan tampa sebeb rakyat tidak respek dengan pihak keamanan. Apakah ada peran pengusaha batu bara Kebal hukum?

Semut disebrang nampak gajah dipelipis tidak kelihatan. Jangan cuman pentil motor bisa dipemasalahkan coba truk batu bara yang  bergrombolan di siang hari juga di tangkap dan diadili  sesuai perda No 13 Tahun 2013, setiap orang yang melanggar  ketentuan sesui perda tersebut  maka diancam sanksi pidana  kurungan paling lamaa 6 bulan atau  dendanya Rp 50 juta.

Aksi Massa

Begitu banyak bentuk aksi penolakan terhadap truk batu bara yang di lakukan oleh masyarat dan aksi mahasiswa yang menuntut penegasan hukum dan aturan yang sudah di buat. Aksi yang di lakukan mahasiswa dikarenakan rute lintasan truk batu bara melewati 2 kampus besar yaitu Universiras Jambi ( UNJA ) dan Universitas Islam Negeri (UIN). Truk batu bara yang ugal-ugalan dan kadang moggok di tengah jalan di siang hari membuat macat yang panjang dan juga menimbulkan polusi bagi pengguna jalan di sekitaran Kampus.

Aksi terahir yang dilakukan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Universitas Islam Negeri (UIN) di simpang Rimbo, satu persatu mobil batu bara di stop, Aksi di depan kantor Gubernur juga  dilakuan ratusan mahasiswa  dari berbagai elemen seperti HMI, GMNI, PMKRI,PMII dan GMK. Berbagai macam bentuk protes mahsiswa terhadap pemerintah namun tidak ada juga perubahan, hari ke hari tetap lah seperti itu, apa cuman perlu menunggu lebih banyak nyawa lagi? Atau para pemimpin dan pejabat tidak bisa memberi solusi untuk permasalahan ini?

Aksi warga muaro kumpeh , aksi penghadangan mobil batu bara yang dilakukan warga Pall X Kota Jambi, aksi warga kecamtan  muaro bulian yang mencegat mobil batu bara yang melintas jam 10.30 WIB,  masyarat juga telah melakukan 7 kali aksi yang sama. Ya mereka tetap juga tidak jera dengan hal itu. Juga tidak menyadarkan pemerintah untuk meberi solusi  dari kasus batu bara.

Dari tahun ke tahun dari masa A ke Masa Z tetap tidak ada yang menyelesikan polemik batu bara, bisa dikatakan tolak ukur pemimpin yang merakyat memang belum muncul, masyarakat yang terkena dampak dari truk batu bara ini cuman bisa berhara dengan janji politik calon selanjutnya dikarenakan rakyat cuman bisa berharap. Banyaknya bentuk protes masyarakat akan tetap dikalahkan oleh secuil kekuasaan.  Artinya kepala daerah yang terpilih adalah sosok harapan masyarat untuk membuat perubahan, bukan sebagai simbol raja kecil yang haus kekuasaan setelah terpilih lupa akan keinginan rakyat.

Kalau bukan pemerintahan yang sekarang, mungkin untuk pemerintahan yang akan datang, masyarakat hanya bisa menggantungkan harapan dan solusi dari permasalahan ini. Bagaimana dengan permasalahan yang lain kalau permasalahan seperti ini saja dibiarkan berlarut larut, jika bukan wakil rakyat dan pemimpin daerah yang mengurus persoalan ini.

Untuk solusi yang harus dilakukan untuk menyelesaikan permasalah ini, pemerintah mendukung penuh dalam pembangunan jalan khusus truk batu bara dapat berupa bantuan dana dan bantuan pembebasan lahan untuk pembanguanan jalan. Dari rentetan yang terjadi ini adalah solusi yang paling efektif dan efisien untuk polemik truk batu bara.

Pengawasan dan pengawalan yang seharusnya dilakukan oleh aparat  yang berwenang seharusnya berjalan dengan semestinya. Jangan Cuma tertulis secara aturan untuk melakukan pengawasan, perlunya aturan yang jelas dan pengawasan yang tegas sebagai bentuk membangun tingkat kepercayaan masyarat kepada aparat yang seharusnya punya wewenang.  Pemimpin yang Baik itu manakala hujan janggan dia tidur tapi berpikir mana tau ada warga yang rumahnya bocor atau daerah yang banjir (David Bobihoe Akib). (***)

Penulis adalah Mahasiswa Universitas Jambi

News Feed